
PALEMBANG, cimutnews.co.id — Program Safari Jumat kembali menjadi agenda yang dijalankan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Kali ini, Gubernur Sumsel Herman Deru menunaikan Salat Jumat berjamaah di Masjid As-Syariah, Kelurahan Talang Jambe, Kecamatan Sukarami, Palembang, Jumat (29/5/2026).
Kegiatan tersebut berlangsung khidmat dengan dihadiri jamaah dari lingkungan sekitar. Selain menjadi sarana ibadah, kehadiran kepala daerah di tengah masyarakat dinilai sebagai bagian dari upaya mempererat hubungan antara pemerintah dan warga.
Momentum ini menarik perhatian karena di tengah berbagai tantangan pembangunan daerah, masyarakat berharap kehadiran pemimpin tidak hanya bersifat simbolis, tetapi juga mampu menghadirkan solusi atas persoalan yang mereka hadapi sehari-hari.
Dalam pelaksanaan Salat Jumat tersebut, Ustadz Andi Afandi bertindak sebagai imam sekaligus khatib. Dalam khutbahnya, ia mengangkat tema tentang ciri-ciri umat yang dicintai Allah SWT, termasuk pentingnya menjaga keimanan, memperkuat persaudaraan, serta menebarkan manfaat bagi sesama.
Pesan tersebut sejalan dengan semangat Safari Jumat yang selama ini diklaim sebagai wadah memperkuat silaturahmi antara pemerintah dan masyarakat melalui pendekatan keagamaan.
Namun fakta di lapangan menunjukkan, sebagian warga masih berharap kegiatan semacam ini dapat diikuti dengan tindak lanjut yang lebih konkret terhadap berbagai kebutuhan masyarakat di tingkat bawah.
Sejumlah warga yang ditemui di sekitar lokasi mengaku menyambut baik kehadiran pemimpin daerah di lingkungan mereka. Meski demikian, mereka berharap komunikasi yang terjalin dalam kegiatan keagamaan juga mampu membuka ruang bagi penyampaian aspirasi terkait fasilitas umum, pelayanan publik, hingga pembangunan lingkungan.
Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan sebagian masyarakat di wilayah lain yang menginginkan agenda serupa menjangkau lebih banyak daerah. Mereka menilai kehadiran langsung pemimpin memiliki dampak psikologis yang kuat karena warga merasa lebih diperhatikan.
Hal ini menimbulkan pertanyaan: sejauh mana kegiatan Safari Jumat mampu menjadi jembatan efektif antara pemerintah dan kebutuhan riil masyarakat di lapangan?
Pengamat sosial menilai pendekatan berbasis keagamaan memang efektif membangun kedekatan emosional antara pemimpin dan masyarakat. Namun efektivitasnya akan lebih terasa apabila diikuti dengan mekanisme penyerapan dan tindak lanjut aspirasi yang jelas.
Jika tidak, kegiatan yang sarat makna spiritual tersebut berpotensi hanya dipersepsikan sebagai agenda seremonial tanpa dampak nyata yang dirasakan masyarakat luas.
Hingga kini, belum semua warga merasakan akses yang sama untuk menyampaikan persoalan mereka secara langsung kepada pemangku kebijakan. Karena itu, kegiatan seperti Safari Jumat dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi sarana dialog yang lebih substantif.
Di tengah upaya memperkuat nilai kebersamaan dan ukhuwah Islamiyah, masyarakat tentu berharap kedekatan yang terbangun tidak berhenti di dalam masjid semata, melainkan berlanjut dalam bentuk kebijakan yang menyentuh kebutuhan warga.
Apakah Safari Jumat akan berkembang menjadi ruang komunikasi yang benar-benar efektif antara pemerintah dan masyarakat, atau tetap dipandang sebatas agenda rutin keagamaan? Pertanyaan itu tampaknya masih menunggu jawaban dari realitas di lapangan.
Informasi dihimpun dari keterangan resmi Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dan hasil penelusuran lapangan. (Poerba)

















