2025, aku menamai kisah ini “Aku Gugur dalam Medan Pertempuran.”
Gugur—bukan karena kalah, melainkan karena aku sudah terlalu lama bertahan.
Medan pertempuran itu bernama Cinta. Aku memasukinya hanya dengan membawa keyakinan yang utuh dan kesetiaan yang kupikir cukup untuk memenangkan segalanya. Tidak ada serangan. Tidak ada pengusiran. Aku hanya dibiarkan berperang sendirian, hingga akhirnya jatuh tanpa pernah dinyatakan menang ataupun kalah.
Aku datang seperti seorang prajurit yang percaya penuh pada bendera.
Setiap katamu kuterima sebagai tanda arah, setiap senyumanmu kuanggap sebagai janji. Aku tidak pernah curiga, sebab cinta—kupikir—tidak mengenal siasat. Ia lurus seperti niat baik dan jujur seperti luka. Namun hari-hari berjalan perlahan, menjaga jarak yang semakin menganga. Kau masih bersamaku, tetapi matamu tak lagi menetap.
Di medan itu, perlahan aku kehilangan namaku sendiri.
Aku menjadi penunggu.
Menjadi yang selalu ada.
Menjadi yang akhirnya tidak lagi dicari.
Kesetiaanku berdiri seperti menara yang tinggi tetapi rapuh—kokoh karena cinta, runtuh karena kesendirian. Aku bertahan bukan karena kuat, melainkan karena terlalu takut menyebut kata selesai.
Kau tidak pernah mengusirku.
Kau hanya membiarkanku pelan-pelan luruh.
Diam-diam kau menarik jarak, sementara aku terus melangkah ke arah yang sama, sampai akhirnya lelah mendapati diriku berdiri sendirian. Di sanalah aku mengerti: tidak semua pertempuran dimenangkan dengan bertahan.
Perpisahan itu tidak pernah dijelaskan. Ia datang sebagai hening yang dibiarkan tumbuh. Kau pergi tanpa pamit, dan aku belajar menerima tanpa jawaban. Dalam diam itu, aku kehilangan banyak hal—kecuali satu: kesadaran bahwa mencintaimu adalah cara paling sunyi untuk menghapus diriku sendiri.
Kini, aku menutup kisah ini tanpa dendam.
Prajurit yang gugur tidak meminta tepuk tangan.
Ia hanya ingin dikenang sebagai seseorang yang pernah berani mencinta tanpa perhitungan.
Dan bila suatu hari namaku disebut, katakan saja:
Ia gugur dalam medan pertempuran—bukan karena kalah,
melainkan karena terlalu setia.
Karya: Setiawan Jhordy



















