Beranda Opini Bukan Sekadar Pintar Digital: Mengembalikan Marwah Adab sebagai Resolusi Utama Pendidikan Nasional...

Bukan Sekadar Pintar Digital: Mengembalikan Marwah Adab sebagai Resolusi Utama Pendidikan Nasional 2026 Oleh: Dr. Mukti Ali, M.Pd.I. (Dosen UIN Raden Fatah Palembang)

544
0
Dr. Mukti Ali, M.Pd.I. (Dosen UIN Raden Fatah Palembang) (Foto:Mukti/cimutnews.co.id)

Memasuki pekan-pekan awal Januari 2026, wajah pendidikan kita tampak jauh lebih canggih dibandingkan lima tahun lalu. Di ruang-ruang kelas, Generative AI bukan lagi barang mewah; ia telah menjadi asisten pribadi bagi setiap murid. Namun, di balik layar-layar gawai yang mengilap dan akses informasi yang tanpa batas, muncul sebuah pertanyaan reflektif: Apakah kepintaran digital ini berjalan seiring dengan keluhuran budi pekerti?

Jika 2025 adalah tahun transisi teknologi, maka 2026 harus menjadi tahun “Pembersihan Karakter”. Kita tidak boleh terjebak pada euforia kecanggihan teknis semata, sementara adab dan integritas peserta didik perlahan terkikis oleh mentalitas serba instan.

Paradoks Mutu: Regulasi Baru dan Realitas Karakter

Pemerintah sebenarnya telah memberikan sinyal kuat melalui penguatan Standar Nasional Pendidikan yang lebih menekankan pada mutu proses dan output karakter. Peraturan terbaru mengenai Peningkatan Mutu Pendidikan di awal 2026 ini secara eksplisit mengamanatkan bahwa keberhasilan sebuah lembaga pendidikan tidak lagi hanya diukur dari skor akademik atau ketersediaan fasilitas teknologi (Digital Readiness), melainkan dari indeks karakter dan iklim lingkungan belajar yang beretika.

Namun, regulasi hanyalah “macan kertas” jika tidak dibarengi dengan perubahan paradigma di lapangan. Kita melihat tantangan nyata: maraknya plagiarisme berbasis AI, hilangnya rasa hormat di ruang virtual, hingga krisis empati akibat terlalu lama berinteraksi dengan algoritma. Mutu pendidikan bukan sekadar soal seberapa cepat seorang siswa bisa mengoperasikan software terbaru, tapi seberapa jujur ia menggunakannya.

Tantangan Pendidikan 2026: “Shortcut” Mental

Tantangan terbesar pendidikan saat ini adalah fenomena “shortcut mental“. Kemudahan yang ditawarkan teknologi membuat batasan antara “memanfaatkan alat” dan “curang secara halus” menjadi kabur. Ketika seorang peserta didik merasa bisa menyelesaikan tugas dalam hitungan detik melalui AI tanpa proses berpikir, di sanalah adab terhadap ilmu mulai luntur.

Baca juga  Opini | Membangun Desa Tanpa Nepotisme: Saatnya BUMDes dan Kopdes Dikelola Secara Transparan Oleh: Muhammad Noto Prayitno

Selain itu, tantangan di ruang virtual juga semakin kompleks. Degradasi adab dalam berkomunikasi seperti perundungan siber (cyberbullying) dan kurangnya etika berdiskusi di media sosial menunjukkan bahwa literasi digital kita masih bersifat teknis, belum bersifat moral.

Resolusi 2026: Menjadikan Adab sebagai Panglima

Menjadikan “Mengembalikan Marwah Adab” sebagai resolusi pendidikan nasional tahun ini bukan berarti kita anti-teknologi. Justru, di tengah arus otomasi, nilai-nilai kemanusiaanlah yang akan menjadi pembeda antara manusia dan mesin.

Ada tiga langkah strategis yang harus menjadi resolusi kita bersama:

  1. Kurikulum Berbasis Teladan (Role-Modeling): Kurikulum tidak boleh hanya berisi tumpukan materi. Guru harus bertransformasi dari sekadar “penyampai informasi” (yang fungsinya mulai digantikan AI) menjadi “kompas moral”.
  2. Literasi Moral Digital: Mengintegrasikan etika penggunaan teknologi ke dalam setiap mata pelajaran. Siswa harus diajarkan bahwa integritas lebih utama daripada sekadar nilai sempurna hasil copy-paste
  3. Evaluasi Mutu Holistik: Sekolah harus berani memberikan apresiasi tinggi pada kejujuran dan sikap, bukan hanya pada penguasaan teknologi. Peraturan pemerintah tentang standar mutu harus diimplementasikan dengan memberikan bobot lebih pada “Raport Karakter”

Penutup: Warisan bagi Generasi Emas

Di awal tahun 2026 ini, kita harus sadar bahwa teknologi adalah pelayan, namun adab adalah tuan. Jika kita hanya melahirkan generasi yang “pintar digital” namun miskin akhlak, kita sedang membangun peradaban di atas fondasi pasir yang rapuh.

Pendidikan nasional harus kembali ke khitah-nya: memanusiakan manusia. Resolusi kita jelas: mencetak pemuda yang jempolnya mahir menari di atas layar, namun hatinya tetap tertambat pada nilai luhur dan perilaku mulia. Karena pada akhirnya, kecerdasan tanpa adab hanya akan melahirkan kehancuran, namun adab tanpa kecerdasan akan sulit bertahan di zaman ini. Keduanya harus beriringan demi Indonesia Emas 2045.