Beranda Palembang Delay System Jalintim Sumsel Diterapkan, Polda Atur Truk saat Puncak Arus Balik...

Delay System Jalintim Sumsel Diterapkan, Polda Atur Truk saat Puncak Arus Balik Lebaran 2026

5
0
1. Petugas kepolisian mengatur arus kendaraan di Jalintim Sumsel saat penerapan delay system arus balik Lebaran 2026.(Foto:Poerba/cimutnews.co.id)

PALEMBANG, cimutnews.co.id — Delay system Jalintim Sumsel mulai diterapkan oleh kepolisian dalam menghadapi puncak arus balik Lebaran 2026. Kebijakan ini diberlakukan di jalur utama lintas timur guna mengatur pergerakan kendaraan angkutan barang yang berpotensi memicu kepadatan.

Langkah tersebut dinilai krusial mengingat lonjakan volume kendaraan terjadi menjelang kembalinya aktivitas kerja dan sekolah. Dengan strategi ini, arus kendaraan pemudik diharapkan tetap lancar, aman, dan terkendali.

Strategi Delay System untuk Kendaraan Berat

Penahanan Truk di Kantong Parkir

Dalam implementasinya, kendaraan angkutan barang tidak langsung melintas di Jalur Lintas Timur (Jalintim). Petugas menahan sementara truk di sejumlah kantong parkir yang telah disiapkan.

Pelepasan dilakukan bertahap, terutama pada malam hari guna menghindari penumpukan kendaraan di jam sibuk.

Jadwal Pelepasan Bertahap

Menurut keterangan Polda Sumatera Selatan melalui Karo Ops Kombes Pol Muhammad Anis Prasetio Santoso, kendaraan berat mulai dilepas sekitar pukul 22.00 WIB.

“Kendaraan berat kami tahan sementara, lalu dilepas bertahap pada malam hari untuk menjaga kelancaran arus utama,” ujarnya.

Operasi Ketupat Musi 2026 dan Pengamanan 24 Jam

Personel Disiagakan di Titik Strategis

Kebijakan ini merupakan bagian dari Operasi Ketupat Musi 2026 dan KRYD Musi. Ribuan personel gabungan disebar di berbagai titik, antara lain:

  • Pos pengamanan (pospam)
  • Pos pelayanan (posyan)
  • Persimpangan padat
  • Akses keluar-masuk wilayah

Seluruh pos beroperasi selama 24 jam untuk memastikan respons cepat terhadap dinamika lalu lintas.

Pengawasan Berbasis Evaluasi Berkala

Kabid Humas Polda Sumatera Selatan Kombes Pol Nandang Mu’min Wijaya menjelaskan bahwa pengawasan dilakukan melalui analisa dan evaluasi (anev) secara berkala.

“Kami terus memantau perkembangan arus balik agar pengamanan berjalan optimal dan masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan aman,” ujarnya.

Baca juga  Ustadz Darmawi, S.IP Resmi Dilantik sebagai Ketua DMI OKI 2025–2030, Tegaskan Komitmen Memakmurkan Masjid

Dampak Langsung bagi Pemudik dan Logistik

Arus Pemudik Lebih Lancar

Dengan berkurangnya kendaraan berat di siang hari, jalur utama menjadi lebih longgar. Hal ini berdampak pada:

  • Waktu tempuh lebih singkat
  • Risiko kecelakaan menurun
  • Distribusi kendaraan lebih merata

Distribusi Logistik Tetap Terjaga

Meski ada penundaan, distribusi barang tidak dihentikan sepenuhnya. Sistem pelepasan bertahap memastikan aktivitas logistik tetap berjalan, meski dengan pengaturan waktu.

Pola Pengaturan Angkutan saat Lebaran

Strategi delay system bukan hal baru dalam manajemen arus mudik dan balik di Indonesia. Secara nasional, pembatasan operasional kendaraan berat kerap diterapkan di jalur-jalur utama selama periode Lebaran.

Di beberapa wilayah Jawa, misalnya, pembatasan truk dilakukan secara penuh pada jam tertentu. Sementara di Sumatera, pendekatan lebih fleksibel melalui delay system dinilai lebih adaptif terhadap kondisi geografis dan distribusi logistik antarwilayah.

Data kepolisian menunjukkan bahwa kepadatan lalu lintas saat arus balik meningkat hingga dua hingga tiga kali lipat dibanding hari biasa, terutama di jalur lintas provinsi seperti Jalintim.

Efektivitas Delay System dan Tantangannya

Penerapan delay system Jalintim Sumsel menunjukkan pendekatan manajemen lalu lintas yang lebih dinamis dibanding sekadar pelarangan total. Strategi ini memberi ruang kompromi antara kelancaran pemudik dan keberlangsungan distribusi barang.

Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada disiplin pelaksanaan di lapangan. Jika koordinasi antarpetugas tidak konsisten atau kantong parkir tidak memadai, potensi penumpukan justru bisa bergeser ke titik lain.

Dalam jangka panjang, kebijakan seperti ini perlu diiringi dengan peningkatan infrastruktur, termasuk jalur alternatif dan area parkir logistik yang representatif. Tanpa itu, delay system berisiko menjadi solusi sementara yang berulang setiap tahun tanpa perbaikan struktural.

Pergeseran Pola Lalu Lintas Pasca-Lebaran

Baca juga  PMI dan Dinas Perkimtan Kota Palembang Resmi Jalin MoU, Donor Darah Massal Targetkan 100 Kantong

Fenomena menarik dari arus balik beberapa tahun terakhir adalah meningkatnya mobilitas secara bertahap, tidak lagi terpusat pada satu hari puncak. Hal ini dipengaruhi oleh fleksibilitas kerja dan kebijakan libur yang lebih longgar.

Artinya, strategi seperti delay system perlu semakin adaptif dan berbasis data real-time, bukan hanya prediksi kalender. Ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi aparat untuk mengembangkan sistem manajemen lalu lintas berbasis teknologi.

Imbauan kepada Pengguna Jalan

Kepolisian mengimbau masyarakat untuk:

  • Mematuhi arahan petugas di lapangan
  • Mengatur waktu perjalanan dengan bijak
  • Menghindari jam puncak jika memungkinkan
  • Memastikan kondisi kendaraan prima

Penerapan delay system Jalintim Sumsel menjadi langkah strategis dalam menjaga kelancaran arus balik Lebaran 2026. Dengan pengaturan yang terukur dan koordinasi lintas instansi, diharapkan mobilitas masyarakat tetap aman tanpa mengganggu distribusi logistik.

Ke depan, pendekatan ini perlu terus disempurnakan agar tidak hanya menjadi solusi tahunan, tetapi bagian dari sistem transportasi yang lebih modern dan berkelanjutan (Poerba)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here