
Ogan Komering Ilir, cimutnews.co.id — Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) IAIN Ash-Shiddiqiyah, Setiawan Jhordy, menegaskan bahwa gerakan mahasiswa tidak boleh terjebak pada pola kepemimpinan yang stagnan. Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam forum Musyawarah Besar (Mubes) Himpunan Mahasiswa Ekonomi Syariah, yang menjadi ruang strategis bagi mahasiswa untuk merumuskan arah organisasi ke depan. (15/1)
Menurut Setiawan, mahasiswa memiliki peran vital sebagai agen perubahan sosial, sehingga gaya kepemimpinan yang dibangun di lingkungan kampus harus beradaptasi dengan tantangan zaman. Ia menekankan bahwa pemimpin mahasiswa tidak cukup hanya menjalankan tugas administratif, namun dituntut untuk progresif, kritis, dan visioner.
Dalam sambutannya, ia mengatakan bahwa realitas sosial yang terus berkembang menuntut mahasiswa untuk aktif membaca situasi, melakukan analisis, serta berani mengambil peran dalam memperjuangkan kepentingan mahasiswa dan masyarakat luas.
“Kepemimpinan mahasiswa hari ini tidak cukup hanya menjalankan roda organisasi secara administratif. Ia harus progresif, mampu membaca realitas sosial, serta berani mengambil peran dalam memperjuangkan kepentingan mahasiswa dan masyarakat luas,” ujar Setiawan.
Kepemimpinan Progresif Sebagai Sikap Ideologis
Lebih jauh, Setiawan menyampaikan bahwa konsep kepemimpinan progresif bukan sekadar jargon yang sering diperdengarkan saat forum-forum formal mahasiswa. Menurutnya, kepemimpinan progresif adalah sikap ideologis yang lahir dari nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, dan demokrasi.
Mahasiswa, kata dia, perlu menjadikan organisasi kampus sebagai ruang dialektika gagasan—sebuah tempat di mana kaderisasi, diskusi intelektual, dan pertumbuhan kepemimpinan berlangsung secara berkelanjutan. Ia menilai organisasi mahasiswa harus menjadi wadah pembentukan karakter, bukan sekadar simbol tanpa substansi.
“Mahasiswa harus mampu menjadikan organisasi sebagai ruang dialektika gagasan dan pengkaderan kepemimpinan yang berkelanjutan,” ucapnya.
Integritas Moral Menjadi Ujian Terbesar Gerakan Mahasiswa
Setiawan juga menyoroti adanya tantangan internal yang kerap muncul dalam tubuh organisasi mahasiswa. Ia menilai krisis nilai, terutama terkait integritas moral, menjadi masalah serius yang harus segera dibenahi.
Menurutnya, kepemimpinan mahasiswa bukan hanya soal kapasitas intelektual, tetapi juga keberanian moral, komitmen, dan kejujuran dalam menjalankan amanah organisasi.
“Pemimpin mahasiswa harus memiliki keberanian moral, kejujuran, dan komitmen terhadap nilai-nilai pergerakan. Tanpa itu, organisasi hanya akan menjadi simbol tanpa substansi,” tegasnya.
DEMA sebagai Lokomotif Perubahan
Dalam forum tersebut, Setiawan turut menegaskan bahwa Dewan Eksekutif Mahasiswa memiliki tanggung jawab besar sebagai lokomotif perubahan di lingkungan kampus. Ia menekankan pentingnya program kerja yang terstruktur, berbasis riset kebutuhan mahasiswa, serta mampu menjembatani aspirasi antara mahasiswa dan pihak institusi.
Selain itu, ia mendorong mahasiswa agar aktif terlibat dalam proses pengambilan kebijakan kampus melalui partisipasi yang konstruktif.
“Kritik adalah ruh gerakan mahasiswa, tetapi kritik yang baik adalah kritik yang dibangun atas dasar data, kajian, dan tanggung jawab intelektual,” tambahnya.
Setiawan juga mengingatkan bahwa sikap kritis mahasiswa tetap harus menjunjung tinggi etika akademik. Kritik yang membangun, menurutnya, harus dikemas secara santun, argumentatif, dan solutif.
Solidaritas dan Kolaborasi Lintas Organisasi
Dalam kesempatan tersebut, ia menyerukan pentingnya memperkuat solidaritas antarmahasiswa lintas organisasi. Fragmentasi gerakan hanya akan melemahkan posisi mahasiswa dalam menyuarakan aspirasi bersama.
“Perbedaan pandangan adalah keniscayaan dalam demokrasi kampus. Namun, perbedaan tersebut harus dirawat sebagai kekuatan, bukan menjadi sumber perpecahan,” ungkapnya.
Ia berharap kampus dapat menjadi ruang subur bagi lahirnya pemimpin masa depan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga peka terhadap persoalan sosial masyarakat.
Respons Positif Peserta dan Harapan ke Depan
Gagasan-gagasan yang disampaikan Ketua DEMA mendapat sambutan positif dari para peserta Mubes. Perwakilan organisasi mahasiswa menilai bahwa pandangan mengenai kepemimpinan progresif tersebut menjadi refleksi penting untuk memperkuat arah gerakan mahasiswa di masa mendatang.
Menutup penyampaiannya, Setiawan mengajak seluruh mahasiswa untuk tetap menjaga idealisme dan tidak apatis terhadap dinamika sosial yang terus berkembang.
“Mahasiswa adalah harapan perubahan. Jika bukan kita yang bergerak hari ini, maka sejarah akan mencatat kita sebagai generasi yang diam,” pungkasnya. (Jhordy)

















