
Ogan Komering Ilir, cimutnews.com- Derasnya hujan dan hempasan perahu tak menyurutkan semangat pejuang dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ogan Komering Ilir (OKI), menyusuri dan silaturrahim saudara muslimnya di daerah pinggiran sungai. Sabtu, 14/3/2026.

Pagi itu sekitar 09.00 kami bergegas memulai perjalanan darat dari Kota Kayuagung menuju Tulung Selapan dengan jarak tempuh sekitar 3 (tiga) jam. Jalan darat yang kebanyakan sudah diperbaiki dengan pengerasan beton dan juga aspal. Walaupun masih ada sebagian kecil yang belum dibeton atau diaspal. Jalan ini sebagai urat nadi perekonomian untuk beberapa kecamatan menyambungkan ke Kota Palembang dan ibukota Kabupaten OKI

Auman Harimau di Hutan Kecil
Di tengah perjalanan, sekitar 45 menit menjelang tiba di Tulung selalan, ibukota kecamatan Tulung Selapan, kami sayup-sayup mendengar eraman harimau. Semakin lama semakin keras. Kami saling pandang. Apalagi ini di tengah hutan walaupun hutan kecil.
“Ado harimau di hutan kecik ini,” suara KH Shoemery memecah keheningan.

“Ado yang berdegup jantung, kemungkinan,” batinku.
Bukannya satu auman harimau, ternyata dia auman sekarang. Ternyata temen di kursi belakang mulai mendengkur walaupun di goyang oleh mobil menghindari lubang jalanan. Maklum sopir muda, Ustad Wafi, gas poll.
Sesampai di terminal speedboat Tulung Selapan, kami disambut hujan deras, kami bertujuh Ketua MUI, KH Muazni Masykur, KH Shoemery Al-Hafizh, sekretaris FKUB Andre, Sekretaris ICMI H. Legianto Amat Tohali, eralih menggunakan moda laut berupa speedboat bermuatan sekitar 25 orang.
Sekitar 30 menit speedboat kami melaju, masih diguyur hujan walaupun mulai reda.
Singgah di pinggiran sungai untuk mengambil penumpang, tepatnya desa simpang tiga. Sekaligus memberikan kesempatan penumpang bila ada yang buang air atau makan dan minum sejenak 10 menitan. Namun kali ini cukup ambil penumpang dan speedboat melaju kembali karena banyak yang berpuasa.
Masih Ada Buaya di Jalur Sungai ini
Hamparan enceng gondok di kiri kanan jalur sungai ini. Dan Tanaman khas pinggiran sungai tanah rendah, memhampar luas sejauh mata memandang.
Toba-tiba ingat sekitar tiga tahun lalu, saat penulis melintas sungai ini. “Muncul kepala buaya menghadang perjalanan kami menuju Sungai Lumpur.” Hanya saya dan sopir speedboat yang melihat. Waktu itu setelah subuh langsung Jalan, sehingga kondisi masih sungai masih keadaan gelap. (Aleg)

















