Beranda Nusantara Muhammadiyah Tekankan Ikhtilaf dan Persatuan Umat dalam Silaturahim Syawalan 1447 H

Muhammadiyah Tekankan Ikhtilaf dan Persatuan Umat dalam Silaturahim Syawalan 1447 H

6
0
1. Abdul Mu’ti menyampaikan tausiyah tentang pentingnya persatuan umat dalam acara Syawalan Muhammadiyah di Makassar.(Foto:Muhammadiyah.or.id/CN)

MAKASSAR, cimutnews.co.id – Keluarga besar Muhammadiyah Sulawesi Selatan menggelar silaturahim Syawalan 1447 Hijriah pada Sabtu (28/3), yang dihadiri Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti.

Dalam kesempatan tersebut, Mu’ti menekankan pentingnya memahami perbedaan (ikhtilaf) sebagai bagian dari ketetapan Allah sekaligus memperkuat persatuan umat Islam di tengah keberagaman pandangan.

Memahami Ikhtilaf sebagai Keniscayaan

Perbedaan yang Tidak Bisa Dihindari

Mu’ti menjelaskan bahwa perbedaan pandangan dalam Islam, khususnya dalam ranah fikih, merupakan hal yang tidak terelakkan. Ikhtilaf, menurutnya, terjadi pada aspek cabang (furu’iyah), bukan pada prinsip dasar agama (ushuliyah).

Ia menguraikan bahwa ikhtilaf dapat dikategorikan menjadi tiga bentuk utama:

  • Alamiah (bawaan): perbedaan yang muncul secara natural
  • Ilmiah: perbedaan akibat metode dan pemikiran ulama
  • Amaliah: perbedaan dalam praktik ibadah

Pendekatan ini menunjukkan bahwa perbedaan bukanlah sumber konflik, melainkan bagian dari dinamika intelektual umat Islam.

Mengedepankan Fastabiqul Khairat

Fokus pada Kebaikan, Bukan Perdebatan

Dalam pidatonya, Mu’ti mengingatkan agar umat tidak terjebak dalam perdebatan panjang yang tidak produktif terkait perbedaan mazhab.

“Alih-alih berdebat siapa yang paling benar, yang perlu dikedepankan adalah semangat fastabiqul khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa setiap ijtihad memiliki nilai pahala, sehingga penilaian akhir terhadap kebenaran merupakan hak prerogatif Allah.

Pendekatan ini dinilai relevan dalam konteks masyarakat modern yang semakin plural dan kompleks.

Tiga Kunci Menjaga Keutuhan Umat

Strategi Membangun Harmoni Sosial

Mu’ti juga memaparkan tiga prinsip utama dalam menjaga persatuan umat Islam, yang diibaratkannya sebagai satu tubuh yang saling terhubung.

Berikut tiga kunci tersebut:

  1. Menghindari sikap elitis dan superioritas
    Meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW yang rendah hati dan inklusif.
  2. Membersihkan prasangka buruk
    Tidak mudah menghakimi serta tidak sibuk mencari kesalahan pihak lain.
  3. Menghidupkan silaturahim substantif
    Menjadikan pertemuan sebagai sarana memperbaiki hubungan, bukan sekadar formalitas.
Baca juga  Tim SAR Gabungan Berhasil Evakuasi Wanita Diduga Bunuh Diri di Jembatan Loji Pekalongan

Pendekatan ini dinilai penting untuk meredam potensi konflik internal umat yang kerap dipicu oleh perbedaan pandangan.

Makna Silaturahim dalam Perspektif Sosial

Lebih dari Sekadar Pertemuan Fisik

Mu’ti menekankan bahwa silaturahim memiliki nilai strategis dalam membangun kohesi sosial umat.

Menurutnya, silaturahim tidak boleh hanya berhenti pada pertemuan fisik, tetapi harus mampu:

  • Mengurai konflik yang ada
  • Menyambung kembali hubungan yang renggang
  • Menciptakan dialog yang sehat dan konstruktif

“Kehadiran fisik dalam silaturahim membawa energi positif yang membuat umat lebih sehat dan cerdas melalui perbincangan langsung yang lebih hangat,” jelasnya.

Dampak dan Relevansi bagi Masyarakat

Menjawab Tantangan Polarisasi Umat

Pesan yang disampaikan Mu’ti memiliki relevansi kuat di tengah meningkatnya polarisasi di masyarakat, baik karena perbedaan mazhab, pandangan keagamaan, maupun dinamika sosial-politik.

Dengan mengedepankan:

  • toleransi berbasis pemahaman
  • dialog terbuka
  • semangat kolaborasi

umat Islam diharapkan mampu menjaga stabilitas sosial sekaligus memperkuat peran sebagai kekuatan moral di tengah masyarakat.

Selain itu, pendekatan ini juga mendukung upaya lembaga keagamaan seperti Muhammadiyah dalam membangun Islam yang berkemajuan dan inklusif.

Momentum Syawalan 1447 H menjadi ruang refleksi penting bagi umat Islam untuk memahami perbedaan sebagai rahmat, bukan sumber perpecahan. Penegasan Abdul Mu’ti tentang ikhtilaf dan pentingnya silaturahim memperkuat pesan bahwa persatuan umat harus dibangun di atas toleransi, akhlak, dan semangat kebaikan bersama. (Timred/CN)

Sumber :Muhammadiyah.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here