Beranda Opini Opini: Evaluasi Total MBG, Jangan Main-main dengan Nyawa Anak Bangsa Oleh:...

Opini: Evaluasi Total MBG, Jangan Main-main dengan Nyawa Anak Bangsa Oleh: M. Noto Prayitno

82
0
Dengan menyediakan makanan sehat di sekolah, pemerintah ingin menekan angka stunting, meningkatkan konsentrasi belajar, serta menciptakan generasi emas Indonesia 2045.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka sejatinya merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kualitas generasi muda. Dengan menyediakan makanan sehat di sekolah, pemerintah ingin menekan angka stunting, meningkatkan konsentrasi belajar, serta menciptakan generasi emas Indonesia 2045. Namun, niat mulia ini mulai tercoreng oleh serangkaian kasus keracunan massal yang menimpa siswa akibat makanan dari dapur Sentra Penyedia Pangan Gizi (SPPG).

Kasus-kasus ini memicu pro-kontra di tengah masyarakat. Sebagian menganggap ini adalah “risiko wajar” dari program baru berskala nasional. Tetapi, pandangan semacam ini berbahaya, sebab menyangkut nyawa anak bangsa. Satu saja kasus keracunan sudah sangat serius, apalagi jika berulang di berbagai daerah. Di titik ini, pemerintah tidak bisa hanya menenangkan publik dengan janji evaluasi harus ada langkah nyata berupa evaluasi total dapur SPPG dan pemberian sanksi tegas bagi pihak yang lalai.

Pertanyaan utama yang harus dijawab apakah standar keamanan pangan sudah diterapkan dengan benar? Sejauh mana pengawasan kualitas bahan baku, proses masak, dan distribusi dilakukan? Jangan-jangan program dikejar target kuantitas berapa banyak porsi yang tersaji namun kualitas dan keamanan terabaikan. Jika benar demikian, maka kita sedang mempertaruhkan masa depan generasi bangsa hanya demi klaim pencapaian angka.

Evaluasi total harus dilakukan secara menyeluruh. Pertama, audit ketat terhadap dapur SPPG di seluruh wilayah. Pemeriksaan meliputi sanitasi ruang masak, sumber air, penyimpanan bahan makanan, serta mekanisme distribusi ke sekolah. Kedua, libatkan ahli gizi, tenaga kesehatan, dan lembaga independen untuk memverifikasi kelayakan makanan. Ketiga, sanksi tegas bagi dapur yang terbukti lalai, mulai dari pencabutan izin, blacklist penyedia, hingga jalur hukum jika mengakibatkan korban.

Baca juga  OPINI : Ketika Uang Negara Berakhir di Jamban melalui Program Makan Bergizi Gratis

Lebih jauh, pemerintah juga perlu memperkuat sistem pengawasan berlapis. Tidak cukup hanya mengandalkan laporan administrasi. Pengawasan harus berbasis inspeksi mendadak, sampling makanan sebelum didistribusikan, hingga melibatkan orang tua murid dan komite sekolah dalam pengawasan. Transparansi juga penting masyarakat berhak tahu dapur mana yang bermasalah, dan apa langkah koreksi yang sudah dilakukan.

MBG adalah program investasi besar yang digadang-gadang menjadi ikon pemerintahan Prabowo-Gibran. Anggaran yang digelontorkan pun tidak sedikit. Maka wajar jika publik menuntut jaminan kualitas. Apa gunanya program makan gratis jika justru membawa petaka berupa keracunan massal? Kredibilitas pemerintah akan runtuh jika kasus ini terus terjadi tanpa penindakan tegas.

Di sisi lain, kita tidak boleh menutup mata bahwa MBG adalah ide baik yang harus diselamatkan. Artinya, kritik dan evaluasi bukan untuk menghentikan program, melainkan untuk memperbaikinya agar lebih aman, bermutu, dan tepat sasaran. Keselamatan siswa harus ditempatkan di atas segala kepentingan politik maupun administratif.

Ingat, anak-anak bukan objek percobaan kebijakan. Mereka adalah masa depan bangsa. Satu nyawa saja terlalu berharga untuk dikorbankan akibat kelalaian dapur SPPG. Karena itu, evaluasi total dan sanksi tegas bukan hanya tuntutan, melainkan keharusan moral dan politik. Bila pemerintah serius menjadikan MBG sebagai warisan kebijakan unggulan, maka keselamatan siswa harus menjadi prioritas nomor satu.

Tidak ada toleransi untuk lalai. Tidak ada kompromi untuk bermain-main dengan nyawa anak bangsa