Home Nasional Patahkan Klaim Jambi, Sejarawan Sumsel Tegaskan Awal Kedatuan Sriwijaya Berpusat di Palembang

Patahkan Klaim Jambi, Sejarawan Sumsel Tegaskan Awal Kedatuan Sriwijaya Berpusat di Palembang

49
0
4. Para sejarawan Unsri saat memberikan keterangan pers mengenai polemik lokasi Sriwijaya. (Foto:Timred/CN)

JAKARTA, cimutnews.co.id — Perdebatan seputar lokasi awal pusat pemerintahan Kedatuan Sriwijaya kembali mencuat ke panggung nasional. Sejumlah sejarawan terkemuka dari Sumatera Selatan menegaskan bahwa bukti ilmiah paling kuat menunjukkan Palembang adalah pusat awal Sriwijaya, bukan Jambi sebagaimana dilontarkan seorang arkeolog Universitas Indonesia dalam sebuah seminar nasional pekan lalu.

Penegasan itu disampaikan oleh para akademisi Universitas Sriwijaya (Unsri) dan UIN Raden Fatah Palembang. Mereka menyebut bahwa prasasti-prasasti kunci yang menandai kelahiran Sriwijaya justru ditemukan di wilayah Palembang.

Tiga Prasasti Kuno yang Mengunci Bukti Palembang sebagai Pusat Sriwijaya

Menurut Prof. Dr. Farida R. Wargadalem, sejarawan Universitas Sriwijaya, rujukan paling otoritatif untuk membuktikan lokasi pusat kerajaan adalah sumber tertulis dari masa itu sendiri.

“Ada tiga prasasti utama—Kedukan Bukit, Talang Tuwo, dan Telaga Batu—yang semuanya ditemukan di wilayah Palembang. Ini tidak bisa dibantah,” ujarnya, Jumat (14/11/2025).

Prasasti Kedukan Bukit (682 M) mencatat perjalanan suci Siddhayatra oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa sebagai tonggak pendirian Sriwijaya.
Prasasti Telaga Batu memuat struktur jabatan pemerintahan, menandakan pusat kekuasaan berada tepat di lokasi prasasti ditemukan.
Sementara Prasasti Talang Tuwo (684 M) menggambarkan aktivitas sosial kerajaan melalui pembangunan taman bagi rakyat.

“Ketiga prasasti ini saling berkaitan dan berada dalam rentang waktu hanya dua tahun. Semua aktivitas pemerintahan berlangsung di wilayah yang sama—Palembang,” jelasnya.

Geografi Palembang dan Jejak Arkeologis Menguatkan Bukti

Menurut Prof. Farida, lanskap Palembang yang didominasi sungai dan lebak sejak dahulu membuat transportasi air menjadi jalur utama pemerintahan.

Ia juga menyinggung temuan Prasasti Baturaja yang menyebut istilah Minangga Tamwan, yang diyakini terletak di wilayah OKU.
“Ini menunjukkan aktivitas Sriwijaya berada di Sumatera bagian selatan, bukan Jambi,” tegasnya.

Baca juga  Presiden Prabowo Anugerahkan Tanda Kehormatan bagi Polri di Hari Bhayangkara ke-79

Terkait anggapan bahwa Palembang tidak memiliki candi, Farida menepisnya.

“Ekskavasi di Geding Suro menemukan tiga struktur candi dari abad ke-7 hingga ke-8. Kondisi geografis memang membuat bangunan batu sulit bertahan, tapi lapisan tanah jelas menunjukkan kesinambungan dari masa Sriwijaya hingga Kesultanan Palembang,” katanya.

Struktur bata Geding Suro juga memiliki kemiripan dengan situs di Muara Jambi, menunjukkan hubungan budaya, bukan pusat pemerintahan.

Pusat Keagamaan Beda dengan Pusat Pemerintahan

Farida menegaskan perbedaan mendasar.

“Bukit Siguntang adalah pusat keagamaan, sementara pusat pemerintahan Sriwijaya pertama berada di Satu Ilir, Palembang. Sama seperti Borobudur atau Muara Takus—itu pusat agama, bukan pusat pemerintahan,” jelasnya.

Dedi Irwanto: Sriwijaya Bermula di Palembang, Jambi Hanya Wilayah Kekuasaan

Sejarawan Unsri lainnya, Dr. Dedi Irwanto, M.A, mendukung kesimpulan tersebut. Ia menyebut temuan historis dan arkeologis dari Sungai Musi memperkuat posisi Palembang sebagai pusat peradaban.

“Arca, keramik kuno, sampai koin Dinasti Umayyah abad ke-7 ditemukan di dasar Sungai Musi. Ini bukti adanya perdagangan internasional dan pusat aktivitas ekonomi,” jelas Ketua Puskass Unsri itu.

Menurut Dedi, temuan itu kemungkinan dibuang ke sungai saat serangan Kerajaan Cola pada abad ke-11, sehingga banyak artefak tidak ditemukan di dataran.

Dedi juga mengingatkan bahwa Muara Jambi merupakan situs abad ke-11 hingga ke-14, jauh lebih muda dari masa kejayaan Sriwijaya abad ke-7 hingga ke-10.

UIN Palembang: Klaim Jambi Tidak Kuat Secara Kronologi

1. Peneliti arkeologi meninjau lokasi ekskavasi situs Geding Suro di Palembang. (Foto: Timred/CN)

Sementara itu, Dr. Kemas Ar Panji, sejarawan UIN Raden Fatah, menyebut klaim Jambi sebagai pusat Sriwijaya “tidak memiliki dasar historis yang kuat”.

Menurutnya, sumber sejarah tertulis di Palembang berasal dari abad ke-7, jauh lebih tua dibandingkan temuan di wilayah lain.

Baca juga  KDM Dorong Pemda Cianjur Hadirkan Pendidikan Keterampilan bagi Warga Perdesaan

“Bukan tidak mungkin Sriwijaya pernah berpindah pusat pada abad ke-11–13. Tapi awal kejayaannya jelas bermula di Palembang,” tegas Kemas.

Kemas menilai minimnya peninggalan di Palembang disebabkan oleh bangunan berbahan kayu dan bata merah yang tidak bertahan lama, ditambah perubahan lanskap masa Kesultanan, Belanda, dan awal kemerdekaan.

Respons terhadap Klaim Arkeolog UI yang Memicu Polemik

Sebelumnya, dalam Seminar Nasional “Kedigdayaan Melayu Jambi”, arkeolog UI Prof. Agus Aris Munandar menggugat teori klasik yang menempatkan Palembang sebagai pusat Sriwijaya.
Ia beralasan minimnya candi besar di Palembang serta interpretasi ulang terhadap Prasasti Kedukan Bukit.

Namun para sejarawan Sumsel sepakat bahwa argumen tersebut tidak kuat secara ilmiah.

“Klaim bahwa Jambi adalah ibu kota Sriwijaya harus diuji ulang secara akademis, bukan politis,” tutup Kemas. (Timred/CN)