Beranda Opini Rapuhnya Seorang Kesatria Karya: Setiawan Jhordy

Rapuhnya Seorang Kesatria Karya: Setiawan Jhordy

135
0
Penulis cerpen (Foto: Setiawan Jhordy/cimutnews.co.id)

Ia dikenal sebagai seorang kesatria. Bukan karena pedangnya yang paling tajam, tetapi karena ia selalu berdiri paling depan—menjadi tameng sebelum luka sempat menyentuh yang lain.

Setiap pagi, ia mengenakan zirahnya dengan khidmat. Bagi orang lain, itu hanyalah besi. Namun bagi dirinya, zirah itu adalah doa yang ditempa dari harapan. Orang-orang melihatnya tegak, yakin, seolah tak pernah tergoyahkan. Mereka lupa satu hal: bahkan besi pun bisa retak jika terlalu lama menahan beban.

Kesatria itu jarang berbicara tentang lelah. Baginya, kelelahan adalah kemewahan yang tak pantas diminta. Ia terbiasa menelan takut, menyimpan ragu di balik helm, dan mengurung air mata di lipatan dadanya. Dunia memintanya kuat—dan ia mengiyakan tanpa tawar-menawar.

Namun malam selalu jujur.

Di bawah langit yang tak pernah bertanya, ia duduk sendirian, membuka zirah yang penuh goresan. Yang paling menyakitkan bukanlah luka perang, tetapi kesunyian yang tak pernah bisa ia tebas. Ia sadar, tidak semua pertempuran terjadi di medan laga. Ada perang yang tumbuh dalam dada yang diam—namun menggerogoti tanpa henti.

Ia mulai bertanya pada dirinya sendiri:

Jika aku roboh, siapa yang akan menjaga mereka?

Namun pertanyaan itu kembali menikam:

Lalu… siapa yang pernah menjaga aku?

Keesokan harinya, di medan yang sama, ia tetap maju. Pedangnya masih terangkat, langkahnya masih pasti. Namun ada sesuatu yang runtuh tanpa suara. Keberanian yang dahulu menyala kini tinggal bara yang bertahan seadanya.

Ia bertarung bukan lagi untuk menang, melainkan karena ia tak tahu bagaimana caranya berhenti.

Dan ketika akhirnya ia terjatuh, tidak ada sorak kemenangan. Yang ada hanya debu, darah, dan sunyi yang panjang.

Baca juga  OPINI REDAKSI | Dari Buku ke Kamera: Literasi Harus Bergerak, atau Ia Akan Hilang oleh A. Saepuloh, SP

Orang-orang berlari menghampiri, terkejut melihat kesatria mereka tak lagi berdiri. Saat itu mereka baru sadar: selama ini mereka menyandarkan harapan pada seorang manusia—bukan legenda.

Kesatria itu tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya, ia membiarkan dirinya rapuh. Bukan sebagai tanda kekalahan, melainkan pengakuan bahwa menjadi kuat tanpa jeda adalah jalan tercepat menuju hancur.

Pada detik itu, ia mengerti:
Kesatria sejati bukanlah mereka yang tak pernah tumbang, tetapi mereka yang berani mengakui bahwa dirinya pernah patah.