
Palembang, cimutnews.co.id — Sebanyak 49 penghulu dari 17 kabupaten/kota se-Sumatera Selatan mengikuti kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penyusunan Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang digelar oleh Bidang Urusan Agama Islam (Urais) Kanwil Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Sumatera Selatan.
Kegiatan berlangsung selama dua hari, 5–6 November 2025, di Hotel Grand Duta Syariah Palembang, dan dibuka secara resmi oleh Kepala Kanwil Kemenag Sumsel yang diwakili oleh Kabag Tata Usaha, H. Taufiq, pada Rabu (05/11/2025).
Wadah Pengembangan Kompetensi dan Profesionalitas Penghulu
Ketua Panitia, H. Maradonna, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan ini diselenggarakan sebagai upaya meningkatkan kemampuan para penghulu dalam menyusun karya tulis ilmiah yang bermutu, sistematis, dan bermanfaat bagi pengembangan profesi.
“Selama Bimtek berlangsung, peserta akan menerima tiga materi utama, yakni Pedoman Penyusunan Karya Tulis Ilmiah bagi Penghulu, Kelengkapan Karya Tulis Ilmiah, serta Manfaat Karya Tulis Ilmiah bagi Penghulu,” jelas Maradonna saat membuka kegiatan.
Ia menambahkan, penyusunan karya ilmiah merupakan bagian penting dari proses peningkatan kualitas penghulu. Melalui kegiatan ini, diharapkan para penghulu tidak hanya mahir dalam menjalankan tugas pelayanan keagamaan, tetapi juga mampu mendokumentasikan pengalaman, gagasan, dan praktik terbaik dalam bentuk tulisan ilmiah yang bisa menjadi referensi bagi rekan sejawat maupun masyarakat luas.
Dorongan Kemenag untuk Melahirkan Penghulu yang Produktif dan Intelektual
Sementara itu, Kabag Tata Usaha Kanwil Kemenag Sumsel, H. Taufiq, dalam arahannya menyampaikan bahwa penyusunan karya tulis ilmiah bukan sekadar tugas administratif, melainkan bagian dari upaya menumbuhkan budaya ilmiah dan meningkatkan kredibilitas profesi penghulu.
Menurutnya, seorang penghulu perlu memiliki kemampuan menulis ilmiah sebagai cara untuk menata pengalaman lapangan menjadi pengetahuan yang sistematis dan bisa dikembangkan lebih lanjut.
“Karya ilmiah membantu penghulu mengikat ilmu, memperluas wawasan, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Tulisan mereka bisa menjadi dasar penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan di masa mendatang,” ujar Taufiq.
Lebih lanjut, ia menegaskan pentingnya semangat belajar dan konsistensi dalam menulis. Dengan membiasakan diri menyusun karya ilmiah, penghulu dapat terus berkembang dan memperkuat perannya sebagai figur publik yang cerdas, visioner, dan inspiratif di tengah masyarakat.
“Saya minta seluruh peserta mengikuti kegiatan ini dengan sungguh-sungguh dan fokus. Harapan kita, semua penghulu di Sumsel bisa menjadi penghulu yang andal, aktif, dan terus menambah wawasan,” tegasnya.
Penghulu: Garda Terdepan Pelayanan dan Pencerahan Umat
Profesi penghulu memiliki peran strategis dalam masyarakat, terutama dalam bidang pelayanan pernikahan, pembinaan keluarga sakinah, dan penguatan moderasi beragama. Namun di era modern ini, penghulu juga dituntut untuk mampu berpikir kritis, menulis, dan berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan keagamaan.
Melalui karya tulis ilmiah, pengalaman para penghulu di lapangan dapat dikaji, dianalisis, dan dibagikan sebagai sumber pembelajaran bagi generasi berikutnya. Selain itu, karya ilmiah juga menjadi indikator profesionalisme dan bentuk tanggung jawab moral untuk menuliskan gagasan yang bisa membawa manfaat lebih luas.
Kegiatan Bimtek ini menjadi langkah nyata Kemenag Sumsel untuk memperkuat kompetensi literasi ilmiah para penghulu sekaligus mendukung program nasional peningkatan mutu sumber daya manusia di lingkungan Kementerian Agama.
Harapan Terbentuknya Budaya Menulis di Kalangan ASN Kemenag
Kemenag Sumsel berharap agar kegiatan seperti ini dapat menjadi agenda berkelanjutan yang mampu menumbuhkan budaya menulis di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN), khususnya para penghulu. Melalui pembinaan dan pelatihan yang berkesinambungan, diharapkan lahir penghulu yang tidak hanya piawai dalam tugas lapangan, tetapi juga produktif dalam melahirkan karya intelektual.
Bimtek ini juga menjadi bagian dari komitmen Kemenag dalam mendorong implementasi program reformasi birokrasi, terutama dalam aspek peningkatan kompetensi dan profesionalitas pegawai. Dengan demikian, para penghulu di Sumatera Selatan tidak hanya menjadi pelayan umat, tetapi juga penulis dan pemikir yang mampu memberi solusi atas berbagai persoalan sosial-keagamaan.
“Kami ingin agar penghulu tidak hanya dikenal di pelaminan atau dalam urusan pernikahan, tetapi juga dikenal sebagai penulis, peneliti, dan penggerak literasi di lingkungan Kemenag,” tambah Taufiq dalam penutup arahannya.
Membangun Generasi Penghulu Intelektual dan Berdaya Guna
Kegiatan Bimtek Penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini menegaskan bahwa penghulu bukan sekadar pejabat pencatat nikah, melainkan juga pendidik dan pencerah umat. Dengan kemampuan menulis ilmiah, penghulu dapat berkontribusi lebih luas dalam pengembangan kebijakan keagamaan, pendidikan masyarakat, dan pembangunan sosial berbasis nilai-nilai Islam.
Melalui pembinaan seperti ini, Kemenag Sumsel berharap ke depan akan lahir generasi penghulu intelektual — mereka yang tak hanya berdakwah lewat lisan, tetapi juga lewat tulisan. (Poerba)

















