Beranda Opini Titik-Titik yang Diraba, Ayat Suci yang Dirasa: Menyalakan Cahaya bagi Saudara Tunanetra...

Titik-Titik yang Diraba, Ayat Suci yang Dirasa: Menyalakan Cahaya bagi Saudara Tunanetra Penghafal Kalam Ilahi

523
0
1. Ustadz H. Entang Kurniawan sedang membimbing santri tunanetra membaca huruf Braille Al-Qur’an.(Foto: Asep/cimutnews.co.id)

OPINI – cimutnews.co.id — Ada suasana yang sulit digambarkan ketika menyaksikan seseorang membaca Al-Qur’an menggunakan huruf Braille. Tidak ada lantunan suara yang keras, tidak ada halaman yang dibolak-balik tergesa. Yang ada justru keheningan yang penuh makna — sepasang tangan yang perlahan meraba titik-titik timbul, menghayati setiap huruf dengan kesabaran, ketekunan, dan cinta kepada Tuhan.

2. Santri tunanetra meraba titik-titik mushaf Braille dengan khidmat dalam proses pembelajaran.(Foto: Asep/cimutnews.co.id)

Keheningan itulah yang selalu menemani perjuangan Ustadz H. Entang Kurniawan, salah satu sosok sentral dalam gerakan Mushaf Wakaf Al-Qur’an Braille. Beliau bukan hanya seorang pengajar, tetapi pejuang yang memahami betul bagaimana sulitnya saudara-saudara tunanetra di Indonesia mengakses mushaf Braille untuk membaca ayat-ayat suci.

Di balik setiap lembar mushaf itu, ada harapan. Ada doa. Ada perjuangan panjang agar setiap titik Braille mampu menghadirkan cahaya yang sama bagi mereka yang tidak bisa melihat, namun tetap ingin merasakan Kalamullah dengan sepenuh jiwa.

Mengenal Ayat dengan Meraba, Bukan Melihat

Bagi kita yang terbiasa membaca mushaf biasa, akses terhadap ayat demi ayat terasa begitu mudah. Mushaf bisa ditemukan di masjid, sekolah, ruang keluarga, bahkan melalui aplikasi di gawai. Namun hal itu tidak berlaku bagi para penyandang tunanetra.

Untuk membaca Al-Qur’an, mereka bergantung pada huruf Braille, sistem tulisan timbul yang hanya dapat “dibaca” dengan meraba titik-titik khusus. Setiap kata, setiap ayat, setiap surah — semua harus dirasakan, bukan sekadar dilihat.

Di titik inilah perjuangan mereka menjadi begitu menyentuh. Membaca Al-Qur’an bagi mereka bukan sekadar aktivitas ibadah, tetapi proses merasakan kedalaman kata demi kata melalui sentuhan yang penuh kesabaran.

Gerakan wakaf mushaf Al-Qur’an Braille bukan sekadar aksi sosial. Ini adalah bentuk kepedulian spiritual. Setiap mushaf Braille yang sampai ke tangan para tunanetra adalah cahaya yang membebaskan mereka dari keterbatasan dan menghubungkan mereka langsung dengan Kalamullah (Foto: Asep/cimutnews.co.id)

Ribuan Saudara Tunanetra Masih Berjuang Tanpa Mushaf

Data beberapa organisasi penyandang disabilitas menunjukkan bahwa ribuan tunanetra muslim di Indonesia masih belum memiliki Al-Qur’an Braille. Mereka ingin belajar, ingin menghafal, ingin merasakan pengalaman spiritual itu — tetapi tidak memiliki mushaf yang layak.

Baca juga  Ide untuk Mengembangkan Surya Minimart dengan Pemasaran Online

Di sinilah peran para relawan dan penggerak literasi Al-Qur’an Braille begitu penting. Salah satunya adalah Ummi Maktum Voice, gerakan yang fokus memberantas buta huruf Al-Qur’an di kalangan tunanetra muslim Indonesia. Melalui gerakan wakaf mushaf Braille, mereka berupaya menyebarkan mushaf ke pesantren, sekolah luar biasa, komunitas tunanetra, dan ke berbagai daerah yang membutuhkan.

Namun, kebutuhan mushaf Braille ini sangat besar, sedangkan biaya produksinya tidak kecil. Mushaf Braille biasanya terdiri dari belasan hingga puluhan jilid, memerlukan kertas khusus, dan proses percetakannya jauh lebih rumit dibanding mushaf biasa.

Ustadz Entang: Menyalakan Harapan dengan Sentuhan

Di tengah keterbatasan itulah sosok seperti Ustadz H. Entang Kurniawan hadir. Beliau bukan hanya mengajar, tetapi menyalakan api semangat bagi para murid tunanetra agar tidak menyerah dalam menuntut ilmu Al-Qur’an.

Ustadz Entang memahami betul bahwa keinginan untuk membaca Al-Qur’an tidak pernah hilang, bahkan ketika penglihatan sudah tidak lagi berfungsi. Justru dorongan spiritual itu semakin besar.

Setiap kali beliau mengajarkan huruf demi huruf Braille, ada pancaran keyakinan bahwa tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak bisa mendekat pada Al-Qur’an. Dan bagi murid-muridnya, beliau bukan hanya guru, tetapi cahaya yang membuka jalan.

Menghadirkan Mushaf, Menghadirkan Cahaya

Gerakan wakaf mushaf Al-Qur’an Braille bukan sekadar aksi sosial. Ini adalah bentuk kepedulian spiritual. Setiap mushaf Braille yang sampai ke tangan para tunanetra adalah cahaya yang membebaskan mereka dari keterbatasan dan menghubungkan mereka langsung dengan Kalamullah.

Melalui Ummi Maktum Voice, para donatur diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari perjuangan ini. Wakaf mushaf Braille bukan hanya menjadi amal jariyah, tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa dakwah inklusif harus melibatkan semua kalangan, termasuk mereka yang tidak dapat melihat.

Baca juga  Menjaga Marwah Jurnalisme : Wartawan Tak Bisa Rangkap Jabatan, Apalagi ASN

Bayangkan sebuah mushaf dibaca setiap hari oleh seseorang yang meraba titik-titik hurufnya dengan penuh kesungguhan. Selama mushaf itu dibaca, selama itulah pahala mengalir tanpa henti.

Panggilan untuk Kita Semua

Sebagai masyarakat, kita sering lupa bahwa ada saudara-saudara kita yang harus berjuang lebih keras untuk hal-hal yang bagi kita begitu mudah. Mereka tidak meminta belas kasihan, hanya kesempatan yang sama untuk belajar Al-Qur’an.

Gerakan Mushaf Wakaf Al-Qur’an Braille adalah panggilan untuk membuka mata hati. Bahwa ibadah, cahaya, dan petunjuk Tuhan adalah hak setiap insan, tanpa memandang keterbatasan fisiknya.

Mari bersama-sama menghadirkan cahaya itu.

Penulis : Asep /redaksi cimutnews.co.id