Beranda Palembang Terungkap, Semangat Generasi Qurani di Sumsel Belum Sepenuhnya Didukung Merata

Terungkap, Semangat Generasi Qurani di Sumsel Belum Sepenuhnya Didukung Merata

9
0
Gubernur Sumsel Herman Deru menghadiri pembukaan Khotmul Quran dan Imtihan Akbar Metode Ummi di Palembang. (foto: Poerba/cimutnews.co.id)

PALEMBANG, cimutnews.co.id — Program pembinaan Al-Quran terus digaungkan di Sumatera Selatan.
Namun di tengah seremoni besar dan wisuda ratusan santri, muncul pertanyaan soal pemerataan pembinaan rumah tahfidz di daerah.

Apakah geliat pendidikan Qurani sudah benar-benar dirasakan hingga pelosok?

Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menghadiri pembukaan kegiatan Khotmul Quran dan Imtihan Akbar Angkatan III Tartil, Tahfidz dan Turjuman Metode Ummi yang digelar di Grand Ballroom Golden Sriwijaya, Palembang, Kamis (14/5/2026).

Ratusan peserta rumah tahfidz mengikuti kegiatan wisuda dan khotmul Quran di Grand Ballroom Golden Sriwijaya. (foto: Poerba/cimutnews.co.id)

Kegiatan yang diselenggarakan Ummi Palembang itu diikuti ratusan peserta dari berbagai lembaga rumah tahfidz di Sumsel. Acara tersebut disebut sebagai bagian dari penguatan pendidikan Al-Quran dan pembinaan generasi Qurani di daerah.

Panitia Munaqosyah dan Khotmul Qur’an Akbar Metode Ummi, Maliki Utama Putra, mengatakan program tersebut telah memasuki tahun ketiga pelaksanaan.

“Tahun ini Ummi Palembang telah meluluskan 149 peserta dari lembaga rumah tahfidz di Sumsel,” ujarnya.

Jumlah itu menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap pendidikan Al-Quran masih cukup tinggi. Terlebih, dalam beberapa tahun terakhir, rumah tahfidz tumbuh di berbagai wilayah Sumsel, termasuk kawasan pinggiran kota hingga kabupaten.

Namun fakta di lapangan menunjukkan, tidak semua lembaga tahfidz memiliki kondisi yang sama.

Berdasarkan temuan di lapangan dan pengakuan sejumlah pengelola rumah tahfidz, masih ada lembaga yang menjalankan kegiatan belajar dengan fasilitas terbatas. Beberapa bahkan disebut masih mengandalkan swadaya masyarakat untuk operasional harian.

Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan sejumlah rumah tahfidz di wilayah perkotaan yang dinilai lebih mudah mendapatkan akses pembinaan maupun dukungan kegiatan.

“Kalau di kota mungkin lebih mudah cari donatur. Kami di daerah kadang masih kesulitan untuk kebutuhan dasar belajar,” ungkap salah satu pengelola rumah tahfidz di wilayah Sumsel yang meminta namanya tidak disebutkan.

Baca juga  Kerja Sama Sumsel–Australia Diperkuat, Gubernur Dorong Perluasan IPAL dan Ekspor Kopi Unggulan

Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai pemerataan perhatian terhadap lembaga pendidikan Al-Quran nonformal di daerah.

Meski kegiatan wisuda dan khotmul Quran berlangsung meriah, sejumlah pihak berharap perhatian tidak berhenti pada seremoni tahunan semata.

Pengamat pendidikan keagamaan di Palembang menilai keberhasilan program tahfidz tidak hanya diukur dari jumlah wisudawan, tetapi juga kesinambungan pembinaan dan kualitas fasilitas belajar.

“Semangat generasi Qurani memang meningkat. Tapi tantangan berikutnya adalah pemerataan kualitas dan pendampingan,” ujarnya.

Hingga kini, belum semua rumah tahfidz di Sumsel disebut memiliki akses pembinaan yang sama. Sejumlah pengelola berharap ada langkah lanjutan berupa pendataan, penguatan tenaga pengajar, hingga dukungan fasilitas belajar yang lebih merata.

Di tengah tingginya antusiasme masyarakat terhadap pendidikan Al-Quran, kondisi tersebut masih menjadi perhatian.

Apakah ke depan pembinaan rumah tahfidz di Sumsel benar-benar bisa dirasakan merata, atau justru masih menyisakan kesenjangan di lapangan? (Poerba)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here