Beranda Utama Terungkap, Awal Juni Diwarnai Bencana Beruntun dan Ancaman Cuaca Ekstrem

Terungkap, Awal Juni Diwarnai Bencana Beruntun dan Ancaman Cuaca Ekstrem

5
0
Petugas BPBD bersama tim gabungan melakukan pemadaman karhutla di wilayah Aceh.(Foto: BNPB/CN)

JAKARTA, cimutnews.co.id — Program kesiapsiagaan bencana terus digaungkan pemerintah. Namun memasuki awal Juni 2026, sejumlah wilayah di Indonesia justru kembali dihadapkan pada kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta cuaca ekstrem yang memicu kerusakan rumah warga.

Di tengah berbagai upaya penanganan, fakta di lapangan menunjukkan masih adanya titik api yang belum berhasil dipadamkan dan potensi bencana yang terus meluas akibat cuaca panas serta angin kencang.

Lalu, seberapa siap sebenarnya daerah menghadapi ancaman bencana yang terus berulang ini?

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat beberapa kejadian bencana sejak Minggu (31/5) hingga Senin (1/6) pukul 07.00 WIB. Bencana yang mendominasi berasal dari kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Aceh, disusul cuaca ekstrem di Sumatera Utara.

Laporan pertama berasal dari Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh. Kebakaran lahan terjadi pada Sabtu (30/5) sekitar pukul 18.00 WIB setelah Posko Damkar Kecamatan Ketol menerima informasi adanya titik api di sejumlah kawasan.

Wilayah terdampak meliputi Gampong Kala Ketol, Kecamatan Ketol, Gampong Pendere Saril Kecamatan Bebesen, hingga Gampong Pukes Kecamatan Kebayakan.

Berdasarkan data sementara, sedikitnya tiga hektare lahan dilaporkan habis terbakar. Petugas gabungan akhirnya berhasil memadamkan api pada Minggu (31/5).

Namun kondisi berbeda justru terjadi di Kabupaten Aceh Barat. Kebakaran lahan di Kecamatan Bubon yang melanda Gampong Berawang dan Gampong Kuta Padang Layung hingga kini masih dalam proses pemadaman.

BPBD bersama tim gabungan masih berjibaku mengendalikan api yang telah membakar sekitar dua hektare lahan.

Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan di Kabupaten Nagan Raya. Kebakaran yang terjadi di Gampong Kayee Uneo Kecamatan Darul Makmur dan Gampong Babah Lueng Kecamatan Tripa Makmur disebut jauh lebih luas.

Baca juga  Walikota Blitar Pimpin Upacara 17 Agustus 2025 : Jaga Persatuan dan Perkuat Gotong Royong

Hasil pendataan sementara menunjukkan sekitar 17 hektare lahan habis terbakar.

Petugas BPBD bersama tim gabungan telah mengerahkan dua unit pompa air untuk mempercepat pemadaman. Namun fakta di lapangan menunjukkan api belum berhasil dikendalikan sepenuhnya.

Cuaca panas disertai angin kencang diduga menjadi salah satu faktor yang memperbesar risiko api terus meluas.

“Diperkirakan api masih bisa meluas mengingat kondisi cuaca saat ini panas dan angin kencang,” demikian laporan penanganan lapangan yang diterima BNPB.

Tak hanya karhutla, ancaman cuaca ekstrem juga terjadi di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara.

Hujan deras disertai angin kencang yang terjadi Kamis (28/5) malam menyebabkan kerusakan di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Perbaungan, Kecamatan Serbajadi, dan Kecamatan Tebing Tinggi.

Sedikitnya 14 rumah warga mengalami rusak berat akibat terjangan angin.

BPBD setempat langsung melakukan asesmen dan penanganan darurat di lokasi terdampak.

Meski BNPB telah mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan dengan memangkas pohon rindang, memperkuat atap rumah, hingga rutin memantau prakiraan cuaca resmi, sejumlah warga mengaku masih khawatir terhadap potensi bencana susulan.

Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai kesiapan daerah dalam menghadapi pola cuaca ekstrem yang belakangan semakin sering terjadi.

Pengamat kebencanaan menilai bencana seperti karhutla dan angin kencang bukan lagi persoalan musiman semata. Minimnya mitigasi lingkungan, kondisi cuaca yang semakin tidak menentu, hingga lemahnya pengawasan di sejumlah daerah diduga ikut memperbesar risiko.

Hingga kini, belum semua titik kebakaran berhasil dipadamkan sepenuhnya.

Sementara ancaman cuaca ekstrem diperkirakan masih berpotensi terjadi di beberapa wilayah dalam beberapa hari ke depan.

Apakah langkah mitigasi yang dilakukan saat ini sudah cukup, atau justru bencana serupa akan terus berulang setiap tahunnya? (timred/CN)

Baca juga  Jejak Pesantren Tertua di Indonesia: Dari Somalangu Abad ke-15 hingga Lirboyo Abad ke-20, Warisan Panjang Pendidikan Islam Nusantara

Sumber : BNPB

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here