Beranda Utama Karhutla Meluas Saat Banjir Belum Usai, Fakta Lapangan Jadi Sorotan

Karhutla Meluas Saat Banjir Belum Usai, Fakta Lapangan Jadi Sorotan

5
0
Petugas gabungan melakukan pemadaman karhutla di wilayah Aceh saat asap tebal menyelimuti area kebakaran. (Foto: PNPB/CN)

JAKARTA, cimutnews.co.id — Program kesiapsiagaan bencana terus digencarkan pemerintah pusat dan daerah.

Namun di lapangan, sejumlah wilayah justru masih berjibaku dengan banjir, longsor, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mulai meluas di awal Juni 2026.

Lalu, mengapa bencana seolah datang bersamaan saat pergantian musim mulai terjadi?

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat rangkaian bencana masih terjadi di berbagai daerah Indonesia pada periode 1–2 Juni 2026. Menariknya, di saat musim kemarau mulai masuk ke wilayah Sumatra dan sebagian Indonesia barat, bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor masih terjadi di kawasan timur Indonesia.

Situasi ini memunculkan kontras yang cukup tajam. Di satu sisi, sejumlah daerah di Sumatra mulai menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan. Namun di sisi lain, beberapa wilayah timur Indonesia justru masih dihantam hujan intensitas tinggi yang memicu longsor dan banjir bandang.

Di Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan, longsor yang terjadi sejak Sabtu (30/5) menyebabkan akses menuju Desa Leppangeng, Kecamatan Pitu Riase, tertutup material tanah. Akibatnya, wilayah tersebut sempat terisolasi.

Berdasarkan kaji cepat BPBD setempat, sebanyak 614 jiwa terdampak dalam peristiwa tersebut. Selain itu, 221 rumah dilaporkan terdampak dan dua titik akses jalan mengalami kerusakan.

Petugas gabungan hingga Senin (1/6) masih melakukan pembersihan material longsor. Namun fakta di lapangan menunjukkan proses penanganan belum berjalan maksimal karena hujan masih terus turun dan memperlambat alat berat masuk ke lokasi terdampak.

Di Gorontalo Utara, banjir bandang yang sebelumnya menerjang lima desa di Kecamatan Biau memang mulai surut. Akan tetapi, lumpur dan material kayu masih memenuhi lingkungan permukiman warga.

Sebanyak 2.817 jiwa tercatat terdampak akibat banjir yang dipicu luapan Sungai Didingga tersebut. Tiga rumah hanyut dan puluhan rumah lainnya mengalami kerusakan berat.

Baca juga  MagangHub 2026 Didorong Merata ke Seluruh Provinsi, Kemnaker Targetkan Peluang Kerja Lulusan Muda Lebih Luas

Pemerintah daerah telah menetapkan status tanggap darurat selama 30 hari. BNPB menyebut dapur umum serta distribusi logistik masih terus dilakukan bersama TNI, Polri, Tagana, dan relawan.

Namun di sisi lain, sejumlah warga mengaku aktivitas mereka belum sepenuhnya kembali normal. Material lumpur yang tersisa disebut masih menyulitkan pembersihan rumah dan akses lingkungan.

Situasi berbeda juga terjadi di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Banjir akibat luapan sungai memang telah surut, tetapi ancaman lain justru muncul.

BPBD Nunukan mengingatkan warga agar waspada terhadap kemungkinan banjir susulan dan kemunculan satwa liar seperti buaya di area terdampak banjir. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai kesiapan mitigasi di wilayah rawan bencana berulang.

Sementara itu, perhatian besar mulai tertuju ke Pulau Sumatra. Memasuki awal musim kemarau, titik kebakaran hutan dan lahan mulai bermunculan di sejumlah wilayah Aceh dan Riau.

Di Kabupaten Aceh Barat, karhutla dilaporkan terjadi di tiga gampong dengan total lahan terbakar mencapai 13 hektare. Tim gabungan BPBD, damkar, dan TNI mengaku mengalami kendala pemadaman akibat angin kencang serta asap tebal yang mengganggu jarak pandang.

Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah. Meski api berhasil dipadamkan, petugas masih melakukan pemantauan intensif untuk mencegah kebakaran meluas kembali.

Yang paling menjadi sorotan adalah Provinsi Riau.

Data Sipongi mencatat total luas lahan terbakar di Riau sejak Januari hingga 1 Juni 2026 mencapai lebih dari 15 ribu hektare. Angka tersebut menempatkan Riau kembali menjadi salah satu wilayah prioritas penanganan karhutla nasional.

Namun fakta di lapangan menunjukkan kebakaran masih terus muncul di sejumlah titik baru, termasuk di Rokan Hulu, Rokan Hilir, dan Kabupaten Siak.

Baca juga  Jadikan Perpustakaan Sarana Rekreasi, Wisata Baca

Sejumlah pengamat kebencanaan menilai kondisi ini diduga dipengaruhi masa transisi cuaca yang tidak menentu. Curah hujan ekstrem masih terjadi di beberapa wilayah, sementara daerah lain mulai mengalami kekeringan.

Dampaknya bukan hanya pada lingkungan, tetapi juga terhadap aktivitas warga, kesehatan, hingga potensi gangguan ekonomi daerah jika penanganan tidak dilakukan cepat.

BNPB sendiri mengimbau masyarakat untuk tetap siaga menghadapi potensi cuaca ekstrem, angin kencang, banjir, longsor, hingga ancaman gempa bumi yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Masyarakat juga diminta menyiapkan tas siaga bencana dan terus memantau informasi resmi dari BNPB, BPBD, maupun BMKG.

Hingga kini, belum semua wilayah terdampak pulih sepenuhnya. Di saat sebagian daerah mulai menghadapi ancaman kebakaran lahan, wilayah lain justru masih bergelut dengan banjir dan longsor.

Apakah pola bencana yang datang hampir bersamaan ini akan semakin sering terjadi ke depan, atau justru menjadi alarm serius bagi kesiapan mitigasi Indonesia? (Timred/CN)

Sumber : BNPB

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here