
PALEMBANG, cimutnews.co.id — Pemberian Makanan Tambahan (PMT) ibu hamil di Palembang terus diperkuat sebagai bagian dari strategi percepatan penurunan angka stunting. Pemerintah Kota Palembang bersama Tim Penggerak (TP) PKK menyalurkan bantuan gizi kepada ibu hamil yang berisiko melahirkan anak stunting, dengan pelaksanaan terbaru dipusatkan di Kecamatan Sako.
Program tersebut menjadi bagian dari intervensi gizi pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), fase yang dinilai paling menentukan kualitas tumbuh kembang anak sekaligus menjadi fondasi lahirnya generasi sehat menuju Indonesia Emas 2045.
PMT Jadi Intervensi Gizi Sejak Masa Kehamilan
Ketua TP PKK Kota Palembang, Dewi Sastrani Ratu Dewa, mengatakan pencegahan stunting tidak cukup dilakukan setelah anak lahir. Upaya tersebut harus dimulai sejak ibu mengandung melalui pemenuhan kebutuhan gizi yang memadai.
Menurutnya, program PMT bertujuan meningkatkan status gizi ibu hamil, mencegah kekurangan energi kronis (KEK), mengurangi risiko anemia, serta mendukung pertumbuhan janin agar lahir dengan berat badan normal.
“Masa kehamilan merupakan bagian penting dari 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Jika kebutuhan gizi ibu terpenuhi, maka risiko stunting pada bayi dapat ditekan secara signifikan,” ujarnya.
Ia menambahkan, intervensi pada periode tersebut menjadi salah satu langkah yang paling efektif dalam memutus rantai stunting sejak dini.
Angka Stunting di Palembang Mulai Menurun
Program yang dijalankan secara berkelanjutan mulai menunjukkan hasil positif.
Berdasarkan data Pemerintah Kota Palembang, jumlah balita stunting menurun dari 157 kasus pada 2025 menjadi 136 kasus hingga Mei 2026.
Di Kecamatan Sako, tren penurunan juga terlihat. Kasus stunting berkurang dari delapan balita menjadi lima balita dalam periode yang sama.
Menurut Dewi, capaian tersebut mencerminkan bahwa kolaborasi lintas sektor mulai memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesehatan masyarakat.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa penurunan angka tersebut belum menjadi alasan untuk berpuas diri.
“Keberhasilan ini harus menjadi motivasi agar seluruh pihak terus memperkuat upaya pencegahan sehingga angka stunting dapat terus ditekan,” katanya.
179 Ibu Hamil Berisiko Menerima Bantuan PMT
Dalam program tersebut, TP PKK Kota Palembang menyalurkan PMT berupa susu dan telur kepada 179 ibu hamil berisiko stunting yang tersebar di 18 kecamatan.
Khusus di Kecamatan Sako terdapat sembilan penerima manfaat.
Penyaluran dilakukan secara bertahap selama tiga bulan, yakni mulai Mei hingga Juli 2026.
Pemilihan susu dan telur bukan tanpa alasan. Kedua bahan pangan tersebut mengandung protein berkualitas tinggi, vitamin, mineral, serta berbagai zat gizi penting yang dibutuhkan ibu hamil dan janin selama masa pertumbuhan.
Menurut TP PKK, bantuan tersebut merupakan bagian dari strategi intervensi gizi, bukan sekadar pemberian bahan pangan.
Kolaborasi Jadi Kunci Percepatan Penurunan Stunting
Dewi menilai keberhasilan program percepatan penurunan stunting tidak mungkin dicapai oleh satu lembaga saja.
Sinergi antara pemerintah daerah, TP PKK, tenaga kesehatan, kader Posyandu, puskesmas, hingga masyarakat menjadi faktor penting dalam memastikan ibu hamil mendapatkan pendampingan secara berkelanjutan.
Mulai dari pendataan, edukasi mengenai pola makan sehat, pemeriksaan kesehatan kehamilan, hingga pemantauan perkembangan ibu dan janin dilakukan secara terpadu.
Ia juga memberikan apresiasi kepada para kader yang selama ini aktif mendampingi ibu hamil di lapangan.
Menurutnya, keberadaan kader menjadi ujung tombak dalam mendeteksi dini risiko stunting sehingga intervensi dapat dilakukan lebih cepat.
Pencegahan Stunting Tidak Hanya Soal Bantuan Pangan
Keberhasilan menekan stunting sejatinya tidak hanya bergantung pada distribusi makanan tambahan.
Berbagai kebijakan nasional menunjukkan bahwa penurunan stunting juga dipengaruhi akses layanan kesehatan, sanitasi layak, air bersih, pendidikan keluarga, serta perubahan perilaku masyarakat dalam memenuhi kebutuhan gizi anak dan ibu hamil.
Karena itu, program PMT memiliki nilai strategis ketika diikuti dengan edukasi gizi, pemeriksaan kehamilan secara rutin, serta pendampingan berkelanjutan oleh tenaga kesehatan.
Intervensi Kehamilan Lebih Efektif Dibanding Penanganan Setelah Anak Lahir
Pendekatan yang dilakukan Pemerintah Kota Palembang memperlihatkan perubahan paradigma dalam penanganan stunting.
Jika sebelumnya intervensi lebih banyak difokuskan pada balita yang sudah mengalami gangguan pertumbuhan, kini perhatian mulai diarahkan pada fase kehamilan. Langkah ini dinilai lebih efektif karena berbagai penelitian menunjukkan pembentukan organ dan perkembangan otak janin berlangsung sejak awal masa kehamilan.
Dalam jangka pendek, pemenuhan gizi ibu dapat menekan risiko bayi lahir dengan berat badan rendah maupun komplikasi persalinan. Sementara dalam jangka panjang, investasi pada kesehatan ibu berpotensi meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui lahirnya generasi yang lebih sehat, cerdas, dan produktif. (Poerba)

















