Beranda Palembang Penanganan Stunting Sumsel Diperkuat, Feby Deru Salurkan PMT dan Edukasi Gizi di...

Penanganan Stunting Sumsel Diperkuat, Feby Deru Salurkan PMT dan Edukasi Gizi di Posyandu

11
0
1. Ketua TP PKK Sumsel Feby Deru saat menyalurkan bantuan PMT kepada balita di Posyandu Bougenville Indah, Palembang.(Foto:Poerba/cimutnews.co.id)

PALEMBANG, cimutnews.co.id — Penanganan stunting Sumsel kembali diperkuat melalui intervensi langsung di tingkat masyarakat. Ketua TP PKK Sumatera Selatan, Feby Deru, menyalurkan bantuan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) di Posyandu Bougenville Indah, Kelurahan Karya Baru, Sabtu (18/4/2026).

Langkah ini dinilai strategis karena penanganan stunting Sumsel tidak hanya bergantung pada kebijakan makro, tetapi juga pada konsistensi intervensi gizi dan edukasi kesehatan di tingkat keluarga.

Intervensi Langsung di Posyandu Jadi Kunci

Distribusi PMT dan Pemantauan Tumbuh Kembang

Kegiatan dimulai sejak pagi hari dengan agenda penimbangan balita, pemeriksaan kesehatan, hingga distribusi bantuan gizi. Feby Deru secara langsung membagikan paket PMT berupa telur dan biskuit tinggi protein kepada balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.

Menurut pihak TP PKK Sumsel, bantuan ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan protein harian anak dalam masa pertumbuhan kritis. Selain itu, kader posyandu turut mencatat perkembangan berat badan dan kondisi kesehatan anak secara berkala.

“Jika pemantauan tumbuh kembang dilakukan konsisten dan kebutuhan gizi terpenuhi, peluang anak tumbuh optimal semakin besar,” ujar Feby Deru.

Edukasi Gizi dan Peran Ibu dalam Pencegahan Stunting

ASI Eksklusif dan Pola Makan Seimbang

Tidak hanya menyalurkan bantuan, kegiatan ini juga diisi dengan edukasi langsung kepada para ibu. Feby Deru menekankan pentingnya:

  • Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan
  • MPASI bergizi seimbang setelahnya
  • Konsistensi menghadiri posyandu setiap bulan

Edukasi ini menjadi bagian penting karena berdasarkan data Kementerian Kesehatan, faktor pola asuh dan pemenuhan gizi rumah tangga berkontribusi signifikan terhadap angka stunting nasional.

Dialog interaktif juga dilakukan, di mana para ibu menyampaikan kendala seperti keterbatasan akses pangan bergizi hingga minimnya pemahaman tentang nutrisi anak.

Baca juga  Putri Azizah Jadi Penyiar Tamu TVRI Sumsel, Tampil Percaya Diri dan Komunikatif di Peringatan HUT ke-52

Kronologi Kegiatan di Lapangan

Dari Penyambutan hingga Interaksi Langsung

Kunjungan berlangsung dalam beberapa tahapan:

  1. Penyambutan oleh kader posyandu dan warga sekitar
  2. Peninjauan layanan kesehatan dasar
  3. Pembagian PMT kepada penerima manfaat
  4. Edukasi dan dialog bersama ibu-ibu
  5. Evaluasi singkat bersama kader kesehatan

Antusiasme warga terlihat dari tingginya kehadiran ibu dan balita. Kader posyandu menyebut kegiatan seperti ini meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemantauan kesehatan anak.

Dampak Nyata di Tingkat Masyarakat

Mendorong Perubahan Perilaku Keluarga

Intervensi langsung ini memberikan dampak nyata, antara lain:

  • Meningkatkan konsumsi makanan bergizi di keluarga
  • Memperkuat peran posyandu sebagai pusat layanan kesehatan dasar
  • Mendorong kedisiplinan ibu dalam memantau tumbuh kembang anak

Menurut tenaga kesehatan setempat, program seperti ini efektif karena menyasar langsung kelompok rentan yang menjadi prioritas penanganan stunting.

Konteks Nasional dan Data Pembanding

Secara nasional, pemerintah menargetkan penurunan prevalensi stunting hingga di bawah 14 persen. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), angka stunting masih menjadi tantangan di berbagai daerah, termasuk wilayah Sumatera.

Program PMT dan penguatan posyandu merupakan bagian dari strategi nasional yang juga diterapkan di provinsi lain seperti Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Timur.

Dibandingkan daerah lain, pendekatan di Sumsel mulai menekankan kombinasi antara intervensi gizi dan edukasi keluarga, yang dinilai lebih berkelanjutan.

Tantangan dan Peluang Penanganan Stunting

Dalam jangka pendek, distribusi PMT seperti yang dilakukan di Palembang mampu meningkatkan asupan gizi anak secara langsung. Hal ini penting terutama pada fase 1.000 hari pertama kehidupan yang menjadi penentu kualitas pertumbuhan.

Namun, dalam jangka panjang, tantangan terbesar terletak pada perubahan perilaku. Tanpa edukasi yang berkelanjutan, bantuan pangan berisiko tidak memberikan dampak maksimal.

Baca juga  PCM Kayuagung Ogan Komering Ilir Adakan Audiensi dengan PW Muhammadiyah Sumsel di Gedung Dakwah Muhammadiyah Palembang

Selain itu, faktor ekonomi keluarga dan akses terhadap bahan pangan bergizi masih menjadi kendala utama. Oleh karena itu, program penanganan stunting perlu terintegrasi dengan kebijakan penguatan ekonomi rumah tangga.

Posyandu sebagai Garda Terdepan yang Sering Terlupakan

Satu hal yang sering luput dari perhatian adalah peran strategis posyandu sebagai “frontline system” dalam kesehatan masyarakat. Di tengah keterbatasan fasilitas kesehatan formal, posyandu menjadi titik pertama deteksi masalah gizi.

Jika diperkuat secara sistematis—baik dari sisi kader, logistik, maupun edukasi—posyandu berpotensi menjadi kunci utama percepatan penurunan stunting di Indonesia.

Penguatan penanganan stunting Sumsel melalui intervensi langsung di posyandu menunjukkan pendekatan yang semakin terarah dan berbasis kebutuhan masyarakat. Distribusi PMT, edukasi gizi, serta keterlibatan aktif kader menjadi kombinasi penting dalam menekan angka stunting.

Ke depan, keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada konsistensi pelaksanaan, kolaborasi lintas sektor, serta peningkatan kesadaran keluarga sebagai garda terdepan dalam menjaga kesehatan anak. (Poerba)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here