Beranda Banyuasin Korban Tenggelam Banyuasin Disantuni Wakil Bupati, Warga Diimbau Tidak Mandi di Sungai...

Korban Tenggelam Banyuasin Disantuni Wakil Bupati, Warga Diimbau Tidak Mandi di Sungai Saat Air Surut

4
0
Wakil Bupati Banyuasin Ir. Netta Indian, SP menyerahkan santunan kepada keluarga korban tenggelam di Desa Sungai Kedukan, Kecamatan Rambutan, sebagai bentuk kepedulian pemerintah daerah terhadap masyarakat terdampak musibah. (Foto:Noto/cimutnews.co.id)

RAMBUTAN, cimutnews.co.id — Pemerintah Kabupaten Banyuasin bergerak cepat memberikan perhatian kepada keluarga korban tenggelam di Desa Sungai Kedukan, Kecamatan Rambutan. Wakil Bupati Banyuasin, Ir. Netta Indian, SP, menyerahkan santunan kepada keluarga almarhumah Ira Safitri (34) yang meninggal dunia setelah diduga tenggelam di aliran sungai setempat.

Kunjungan yang berlangsung pada Selasa (7/7/2026) tersebut menjadi bagian dari rangkaian respons pemerintah daerah terhadap sejumlah musibah yang terjadi di Banyuasin. Sebelumnya, Wakil Bupati juga telah mengunjungi dan memberikan bantuan kepada korban kebakaran. Langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah untuk hadir langsung di tengah masyarakat saat menghadapi bencana maupun musibah kemanusiaan.

Kronologi Korban Tenggelam di Sungai Kedukan

Korban Hilang Saat Mandi di Sungai

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari pemerintah daerah, peristiwa tersebut bermula pada Sabtu, 4 Juli 2026 sekitar pukul 13.00 WIB.

Saat itu, Ira Safitri diduga pergi mandi di sungai yang berada tepat di belakang rumahnya di Desa Sungai Kedukan. Namun hingga beberapa waktu kemudian korban tidak kembali sehingga memicu pencarian oleh keluarga dan warga sekitar.

Setelah dilakukan pencarian, korban akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia sekitar 10 kilometer dari lokasi awal, tepatnya di aliran Sungai Tangga Takat. Penemuan korban mengakhiri proses pencarian yang melibatkan masyarakat setempat.

Menurut keterangan pemerintah daerah, peristiwa ini menjadi pengingat akan tingginya risiko aktivitas di sungai, terutama pada musim tertentu ketika kondisi debit air mengalami perubahan.

Pemkab Banyuasin Berikan Santunan dan Bantuan Administrasi

Dukungan untuk Keluarga Korban

Dalam kunjungannya, Wakil Bupati Netta Indian menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan sekaligus menyerahkan bantuan sebagai bentuk kepedulian pemerintah daerah.

Ia juga memastikan keluarga korban akan memperoleh pendampingan dalam pengurusan berbagai dokumen administrasi kependudukan yang diperlukan, di antaranya:

  • Pembaruan Kartu Keluarga (KK)
  • Dokumen Kartu Tanda Penduduk (KTP)
  • Administrasi kepesertaan BPJS
Baca juga  Puluhan Karangan Bunga Penuhi Kejari Banyuasin, K3S dan Dewan Guru Dukung Kinerja Pidsus Tindak Oknum yang Dinilai Meresahkan Sekolah

Menurut Netta, kemudahan administrasi pascakejadian merupakan bagian dari pelayanan pemerintah agar keluarga tidak terbebani oleh proses birokrasi di tengah suasana duka.

Imbauan Keselamatan: Hindari Mandi di Sungai Saat Air Surut

Potensi Kemunculan Buaya Meningkat

Selain menyampaikan santunan, Wakil Bupati juga mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan ketika beraktivitas di sekitar sungai.

Menurutnya, kondisi air yang sedang surut berpotensi meningkatkan kemunculan satwa liar, termasuk buaya, yang selama ini menjadi salah satu ancaman di sejumlah kawasan perairan Banyuasin.

“Untuk saat ini sebaiknya mandi di rumah saja, jangan mandi dulu di sungai karena ketika air surut biasanya buaya mulai muncul,” pesannya kepada masyarakat.

Imbauan tersebut sekaligus menjadi langkah preventif agar kejadian serupa tidak kembali menimpa warga.

Keselamatan di Sungai Menjadi Tantangan Wilayah Perairan Banyuasin

Kabupaten Banyuasin memiliki karakteristik wilayah yang didominasi jaringan sungai, rawa, dan perairan pasang surut. Di banyak desa, sungai masih menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari masyarakat, mulai dari mandi, mencuci hingga transportasi.

Namun kondisi tersebut juga membawa risiko keselamatan yang tidak kecil. Perubahan debit air, arus bawah, hingga keberadaan satwa liar menjadi faktor yang perlu diantisipasi.

Dalam sejumlah kasus di Sumatera Selatan pada beberapa tahun terakhir, insiden tenggelam maupun konflik antara manusia dan buaya masih beberapa kali terjadi, terutama di kawasan sungai yang menjadi pusat aktivitas warga. Karena itu, pemerintah daerah terus mendorong peningkatan kesadaran masyarakat terhadap keselamatan di wilayah perairan.

Edukasi Keselamatan Perlu Menjadi Prioritas

Musibah yang menimpa Ira Safitri menunjukkan bahwa aktivitas yang selama ini dianggap rutin, seperti mandi di sungai, tetap menyimpan risiko besar apabila tidak memperhatikan kondisi lingkungan.

Baca juga  Warga Banyuasin I Gelar Aksi Damai, Bupati Askolani Tegaskan Komitmen Lindungi Hak Masyarakat

Di banyak daerah pedesaan, sungai memang masih menjadi sumber kebutuhan harian. Namun perubahan kondisi alam akibat musim kemarau, surutnya air, maupun perubahan habitat satwa liar membuat tingkat risiko ikut berubah. Edukasi mengenai keselamatan sungai menjadi langkah yang sama pentingnya dengan pembangunan infrastruktur.

Selain itu, respons cepat pemerintah daerah melalui pemberian santunan dan bantuan administrasi menunjukkan bahwa penanganan pascabencana tidak hanya berfokus pada bantuan material, tetapi juga pemulihan layanan publik bagi keluarga korban. Pendekatan seperti ini dapat mempercepat proses pemulihan sosial sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan pemerintah. (noto)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here