
PALEMBANG, cimutnews.co.id — Palembang kembali dipercaya menjadi tuan rumah agenda nasional di bidang kesehatan. Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan memastikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) ke-17 Perhimpunan Dokter Intensive Care Indonesia (PERDICI) atau Indonesian Society of Intensive Care Medicine (ISICM).
Komitmen tersebut disampaikan Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru saat menerima audiensi panitia penyelenggara di Ruang Tamu Gubernur Sumsel, Senin (13/7/2026).
Namun, di balik kesiapan menjadi tuan rumah forum ilmiah bergengsi itu, muncul pertanyaan yang juga penting bagi masyarakat. Sejauh mana perkembangan ilmu intensive care yang akan dibahas dalam forum tersebut nantinya benar-benar mampu meningkatkan kualitas layanan kesehatan hingga ke daerah-daerah di Sumatera Selatan?
Pertanyaan itu menjadi relevan mengingat pelayanan intensive care masih menjadi salah satu sektor yang membutuhkan penguatan, baik dari sisi sumber daya manusia, fasilitas medis, hingga pemerataan layanan di berbagai kabupaten dan kota.
Dalam audiensi tersebut, panitia memaparkan kesiapan penyelenggaraan PIT ke-17 PERDICI yang akan mengusung tema “Redefining Critical Care: Innovation, Integration, and Impact”. Tema tersebut menitikberatkan pada inovasi, integrasi pelayanan, serta dampak nyata dalam pengembangan pelayanan pasien kritis di Indonesia.
Gubernur Herman Deru menyatakan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan siap mendukung seluruh rangkaian kegiatan tersebut. Menurutnya, forum ilmiah nasional ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kompetensi tenaga kesehatan sekaligus membangun kolaborasi antardokter intensive care dari berbagai wilayah.
“Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, khususnya di bidang intensive care, sekaligus memperkenalkan Sumatera Selatan sebagai daerah yang siap menjadi tuan rumah berbagai agenda nasional,” demikian komitmen yang disampaikan Gubernur dalam pertemuan tersebut.
Ajang ilmiah seperti PIT PERDICI memang menjadi ruang strategis bagi para dokter spesialis untuk berbagi pengalaman, hasil penelitian, hingga perkembangan teknologi penanganan pasien dalam kondisi kritis.
Tantangan pelayanan kesehatan kritis tidak hanya berkaitan dengan perkembangan ilmu kedokteran. Pemerataan fasilitas ICU, ketersediaan tenaga medis terlatih, hingga akses masyarakat terhadap layanan rujukan masih menjadi pekerjaan yang terus dihadapi berbagai daerah.
Di sejumlah wilayah, masyarakat masih menghadapi kendala ketika membutuhkan layanan perawatan intensif, terutama saat terjadi kondisi darurat yang memerlukan penanganan cepat. Jarak menuju rumah sakit rujukan, keterbatasan tempat tidur ICU, maupun kebutuhan tenaga kesehatan dengan kompetensi khusus menjadi persoalan yang kerap disorot dalam berbagai diskusi pelayanan kesehatan.
Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan oleh masyarakat yang tinggal di wilayah perkotaan dengan akses rumah sakit yang relatif lebih lengkap dibandingkan daerah yang jauh dari pusat layanan kesehatan.
Sejumlah warga mengaku berharap forum ilmiah semacam ini tidak berhenti pada penyelenggaraan seminar atau diskusi akademik semata, tetapi mampu menghasilkan rekomendasi nyata yang berdampak terhadap peningkatan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat luas.
Pelaku layanan kesehatan juga menilai kolaborasi antara pemerintah daerah, rumah sakit, organisasi profesi, dan institusi pendidikan menjadi faktor penting agar inovasi yang dibahas dalam forum ilmiah dapat diterapkan secara berkelanjutan.
Dari sisi pembangunan daerah, penyelenggaraan kegiatan nasional juga memiliki dampak ekonomi. Kehadiran ratusan hingga ribuan peserta dari berbagai provinsi berpotensi menggerakkan sektor perhotelan, transportasi, kuliner, hingga usaha mikro di Kota Palembang.
Meski demikian, hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai sejauh mana manfaat jangka panjang yang akan dirasakan masyarakat setelah kegiatan selesai dilaksanakan. Apakah hasil diskusi ilmiah tersebut akan diterjemahkan menjadi penguatan layanan intensive care di rumah sakit-rumah sakit daerah, atau hanya menjadi agenda akademik tahunan?
Hingga kini, belum semua tantangan pelayanan kesehatan kritis dapat dijawab hanya melalui penyelenggaraan forum ilmiah. Diperlukan sinergi antara peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, penyediaan fasilitas, pemerataan layanan, serta kebijakan yang berkelanjutan agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
PIT ke-17 PERDICI di Palembang diharapkan menjadi langkah awal memperkuat sistem pelayanan pasien kritis di Indonesia. Namun, apakah semangat inovasi dan kolaborasi yang diusung benar-benar mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat, atau masih menyisakan pekerjaan rumah bagi dunia kesehatan, hal itu masih akan menjadi perhatian bersama. (Poerba)

















