
LAHAT, cimutnews.co.id — Bakti sosial Yayasan Alumni Santo Yosef Lahat (ALSANTYLA) Tahun 2026 tidak hanya berlangsung dalam bentuk pelayanan kesehatan. Rangkaian kegiatan yang digelar di Kabupaten Lahat juga menyentuh persoalan lingkungan hingga penghormatan terhadap para guru purna bakti.
Kegiatan tersebut berlangsung pada Minggu, 23 Agustus 2026, dengan agenda utama sunatan massal di Klinik Pratama Santo Yosef, Kabupaten Lahat.
Wakil Wali Kota Pagar Alam, Hj. Bertha, turut hadir dalam kegiatan tersebut. Kehadirannya menjadi perhatian tersendiri karena ia merupakan alumni SMP Santo Yosef Lahat angkatan 1993-1996.
Namun, jika dilihat lebih jauh, kegiatan ALSANTYLA kali ini tidak sekadar menjadi agenda reuni alumni.
Ada tiga isu yang dibawa dalam satu rangkaian kegiatan: pelayanan sosial dan kesehatan, kepedulian terhadap lingkungan, serta penghargaan kepada para pendidik yang telah memasuki masa purna bakti.
Sunatan Massal dan Kepedulian Sosial
Sunatan massal menjadi salah satu agenda utama bakti sosial ALSANTYLA 2026.
Kegiatan tersebut diikuti dalam suasana pelayanan sosial di Klinik Pratama Santo Yosef. Kehadiran para alumni dan sejumlah undangan memperlihatkan bahwa jejaring alumni tidak hanya dimanfaatkan untuk mempererat hubungan antarlulusan, tetapi juga diarahkan pada kegiatan yang menyentuh masyarakat.
Ketua Yayasan ALSANTYLA, Yaniman S. Lani, BSMBE, bersama Sri Melyana Bursa dan jajaran alumni turut hadir dalam rangkaian kegiatan.
Hj. Bertha mengapresiasi kegiatan tersebut sebagai bentuk kepedulian dan semangat kebersamaan alumni Santo Yosef.
Di sinilah terdapat sisi lain yang menarik.
Sebuah kegiatan alumni pada dasarnya bisa berhenti pada agenda silaturahmi. Namun ALSANTYLA memilih memasukkan pelayanan sosial sebagai bagian dari rangkaian kegiatan.
Dari Pelayanan Kesehatan ke Sungai Lematang
Rangkaian kegiatan kemudian bergerak ke isu yang berbeda: lingkungan.
Para peserta melakukan penyebaran benih ikan atau restocking di Sungai Lematang. Langkah tersebut diarahkan untuk membantu menjaga kelestarian ekosistem perairan sekaligus membangun kepedulian terhadap lingkungan.
Namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa menjaga ekosistem sungai tidak cukup hanya dengan melepas benih ikan.
Restocking pada akhirnya membutuhkan lingkungan perairan yang mampu mendukung pertumbuhan ikan. Kualitas air, keberadaan habitat, aktivitas masyarakat di sekitar sungai, serta pengawasan terhadap ekosistem menjadi bagian yang tidak terpisahkan.
Karena itu, kegiatan penebaran benih ikan dapat dilihat sebagai langkah awal. Tantangannya adalah memastikan benih yang ditebar benar-benar dapat berkembang dan memberi manfaat bagi ekosistem Sungai Lematang.
Belum ada penjelasan rinci mengenai jumlah benih yang ditebar, jenis ikan yang digunakan, maupun bagaimana mekanisme pemantauan setelah kegiatan tersebut dilakukan.
Hal ini menimbulkan pertanyaan: seberapa jauh kegiatan restocking tersebut akan memberikan dampak jangka panjang bagi kondisi Sungai Lematang?
Bukan Sekadar Reuni Alumni
Rangkaian kegiatan ALSANTYLA kemudian ditutup dengan ramah tamah dan pemberian tali kasih kepada para guru purna bakti.
Agenda tersebut berlangsung di Rumah Dinas Bupati Lahat dan dihadiri Bupati Lahat Bursah Zarnubi serta Komjen Pol (Purn) Susno Duadji bersama rombongan alumni Sekolah Santo Yosef.
Pemberian tali kasih kepada guru purna bakti membawa pesan berbeda dibandingkan agenda sebelumnya.
Jika sunatan massal berbicara mengenai pelayanan sosial dan restocking berkaitan dengan lingkungan, penghormatan terhadap guru berbicara mengenai ingatan kolektif terhadap dunia pendidikan.
Para guru yang telah memasuki masa purna bakti merupakan bagian dari perjalanan panjang sekolah dan para alumninya.
Karena itu, kegiatan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa hubungan antara sekolah dan alumni tidak selalu berakhir ketika seorang siswa lulus.
Di Sisi Lain, Masih Ada Tantangan
Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan ketika kegiatan sosial hendak diterjemahkan menjadi dampak berkelanjutan.
Sunatan massal memiliki manfaat langsung bagi penerima layanan. Restocking memiliki tujuan ekologis yang manfaatnya baru dapat terlihat dalam jangka lebih panjang. Sementara penghormatan kepada guru purna bakti memiliki nilai sosial dan emosional yang tidak mudah diukur dengan angka.
Perbedaan karakter manfaat tersebut membuat keberhasilan kegiatan tidak cukup hanya dilihat dari terlaksananya acara.
Berdasarkan informasi kegiatan, belum ada data rinci mengenai jumlah penerima manfaat sunatan massal, jumlah benih ikan yang ditebar, jenis ikan yang digunakan, maupun indikator keberhasilan program lingkungan tersebut.
Data-data tersebut penting apabila kegiatan serupa ingin dikembangkan menjadi program sosial dan lingkungan yang berkelanjutan.
Jejaring Alumni dan Dampak yang Lebih Panjang
Kekuatan sebuah organisasi alumni sebenarnya tidak hanya terletak pada jumlah anggotanya.
Jejaring alumni memiliki potensi untuk menjadi kekuatan sosial ketika pengalaman, sumber daya, dan kepedulian para anggotanya diarahkan pada kebutuhan masyarakat.
ALSANTYLA memperlihatkan pola tersebut melalui satu rangkaian kegiatan yang menggabungkan pelayanan kesehatan, lingkungan dan pendidikan.
Tetapi pekerjaan berikutnya justru berada setelah acara selesai.
Apakah pelayanan sosial dapat dilakukan secara rutin? Apakah restocking Sungai Lematang akan diikuti pemantauan ekosistem? Dan apakah hubungan alumni dengan para guru purna bakti dapat diterjemahkan menjadi program pendidikan yang lebih berkelanjutan?
Hingga kini, pertanyaan tersebut masih terbuka.
Yang jelas, kegiatan ALSANTYLA 2026 di Lahat menunjukkan bahwa reuni alumni dapat memiliki wajah yang lebih luas. Bukan hanya bertemu dan mengenang masa sekolah, tetapi juga mencoba meninggalkan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.
Namun, seberapa besar manfaat itu akan bertahan setelah rangkaian acara berakhir, masih menjadi pekerjaan yang perlu dilihat bersama. (Antoni)

















