
BANDUNG, cimutnews.co.id — Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mengenalkan kembali permainan tradisional Sunda kepada generasi muda melalui Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 yang digelar di Taman Cascada Sungai Cikapundung, Sabtu (15/8/2026).
Kegiatan bertema “Neuleuman Walungan” tersebut menghadirkan berbagai kaulinan tradisional Sunda yang dahulu menjadi bagian dari aktivitas masyarakat. Anak-anak yang hadir mendapat kesempatan untuk mencoba secara langsung permainan yang lekat dengan kehidupan generasi sebelumnya.
Festival tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni dan budaya, tetapi juga memberikan ruang bagi anak-anak untuk berinteraksi langsung dengan permainan tradisional. Cara tersebut membuat pengenalan budaya tidak berhenti pada cerita, melainkan dapat dirasakan melalui pengalaman bermain.
Guru SMP Pertiwi, Meti Gandayani, mengatakan keikutsertaan para murid dalam kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk mengenalkan permainan tradisional secara langsung kepada generasi muda.
“Kami datang berdasarkan undangan dan membawa anak-anak karena ada permainan zaman baheula. Jadi, anak-anak diikutsertakan untuk berpartisipasi mengikuti berbagai kegiatan yang ada,” ujar Meti.
Menurutnya, kaulinan tradisional Sunda memiliki daya tarik tersendiri karena tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga menghadirkan pengalaman budaya yang pernah dekat dengan kehidupan masyarakat.
Meti bahkan melihat adanya hubungan antara permainan yang dicoba anak-anak saat festival dengan pengalaman masa kecil generasi sebelumnya.
“Yang tadi anak-anak lakukan itu sudah saya lakukan waktu zaman baheula. Mungkin masih dilestarikan juga,” ungkapnya.
Pengenalan tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga agar permainan tradisional tetap dikenal di tengah perubahan zaman. Anak-anak yang mencoba langsung permainan tradisional dapat mengetahui bentuk aktivitas yang dahulu menjadi bagian dari keseharian masyarakat Sunda.
Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 juga mempertemukan pengalaman lintas generasi. Permainan yang pernah dimainkan orang tua dan generasi sebelumnya kembali diperkenalkan kepada anak-anak melalui kegiatan budaya yang berlangsung di ruang publik.
Bagi Meti, pengenalan kaulinan tradisional perlu terus dilakukan agar warisan budaya Sunda tidak semakin jauh dari kehidupan generasi muda. Kegiatan seperti festival dapat menjadi salah satu ruang untuk memperkenalkan kembali permainan tersebut dengan cara yang lebih dekat dengan anak-anak.
Selain menjadi sarana hiburan, aktivitas permainan tradisional memberikan pengalaman pembelajaran budaya secara langsung. Anak-anak dapat mengenal permainan sekaligus memahami bahwa terdapat bagian dari kehidupan masyarakat masa lalu yang masih dapat dimainkan hingga sekarang.
Meti berharap kegiatan serupa dapat digelar secara rutin. Dengan begitu, kaulinan tradisional Sunda tidak hanya dikenang sebagai permainan zaman dahulu, tetapi tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 menjadi salah satu ruang yang mempertemukan anak-anak dengan permainan tradisional Sunda sekaligus membuka kesempatan bagi generasi muda untuk mengenal kembali warisan budaya melalui pengalaman langsung. (Siti)

















