
OGAN KOMERING ILIR, cimutnews.co.id — Pondok Pesantren Ma’had Roudhotul Falah di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) akhirnya memasuki babak baru. Setelah berjalan sekitar empat tahun dan meluluskan santri untuk pertama kalinya, pondok pesantren tersebut kini resmi diresmikan.

Namun, di balik seremoni peresmian itu terdapat satu catatan perjalanan yang menarik perhatian. Tiga tahun sebelumnya, peresmian Pondok Pesantren Ma’had Roudhotul Falah disebut belum dapat dilakukan karena kelengkapan perizinan belum terpenuhi.
Kini, izin operasional disebut telah lengkap dan pondok pesantren tersebut juga telah memperoleh akreditasi.

Wisuda Perdana Jadi Penanda Perjalanan Empat Tahun
Peresmian Pondok Pesantren Ma’had Roudhotul Falah berlangsung bersamaan dengan Haflah Akhirusanah dan wisuda perdana santri, 15 Juni.
Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru diwakili Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Sumsel, Dr. Drs. H. Sunarto, M.Si.
Dalam sambutannya, Sunarto menyampaikan apresiasi terhadap capaian Roudhotul Falah yang telah mampu menghasilkan wisudawan perdana meski usia pondok pesantren tersebut baru sekitar empat tahun.
Menurut Sunarto, capaian tersebut tidak terlepas dari peran pimpinan pondok, Kyai Khifdzillah Al-Haris selaku mudir, bersama seluruh guru yang selama ini membimbing para santri.
Ia juga berharap para santri yang telah diwisuda dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi sesuai dengan cita-cita masing-masing.
Bagi sebuah lembaga pendidikan yang relatif muda, wisuda perdana menjadi penanda bahwa proses pendidikan yang dibangun sejak awal mulai menghasilkan lulusan.
Tetapi perjalanan menuju titik tersebut ternyata tidak hanya berbicara tentang kegiatan belajar-mengajar.

Tiga Tahun Lalu Belum Bisa Diresmikan
Dalam keterangannya, Sunarto mengungkapkan bahwa sekitar tiga tahun sebelumnya, Pondok Pesantren Ma’had Roudhotul Falah sebenarnya telah ada.
Namun, saat itu peresmian belum dapat dilakukan karena kelengkapan perizinan pondok pesantren belum terpenuhi.
Kondisi tersebut kemudian berubah setelah proses administrasi dan persyaratan kelembagaan dilengkapi.
Sunarto menyebut izin operasional dari Kementerian Agama serta perizinan terkait pendidikan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah tersedia. Pondok pesantren itu juga disebut telah memperoleh akreditasi.
Atas dasar kelengkapan tersebut, dirinya hadir mewakili Gubernur Sumsel untuk meresmikan Pondok Pesantren Ma’had Roudhotul Falah.
Namun Fakta Ini Menunjukkan Ada Proses Panjang di Balik Sebuah Peresmian
Seremoni peresmian sering kali menjadi titik akhir yang terlihat oleh publik.
Pita dipotong, foto bersama dilakukan, dan sebuah lembaga secara resmi diperkenalkan kepada masyarakat.
Namun fakta perjalanan Roudhotul Falah memperlihatkan bahwa sebelum sampai pada tahap tersebut, terdapat proses administratif yang harus diselesaikan.
Di satu sisi, pondok telah menjalankan aktivitas pendidikan dan pada tahun keempat bahkan mampu menggelar wisuda perdana.
Di sisi lain, aspek perizinan kelembagaan tetap menjadi bagian penting yang harus dipenuhi sebelum sebuah pondok pesantren dapat memperoleh pengakuan operasional secara lengkap.
Hal ini menimbulkan pertanyaan: seberapa penting kelengkapan administrasi dan legalitas bagi keberlanjutan lembaga pendidikan berbasis pesantren?
Jawabannya terlihat dari perjalanan Roudhotul Falah sendiri. Aktivitas pendidikan dapat berjalan, tetapi kepastian administratif tetap menjadi bagian yang tidak bisa diabaikan.
Asrama Putri Dibangun dari Wakaf
Pada momentum yang sama, Asrama Putri Pondok Pesantren Ma’had Roudhotul Falah juga diresmikan.
Berbeda dengan persoalan izin operasional pondok pesantren, keberadaan Asrama Putri dalam bahan kegiatan disebut merupakan hasil dukungan keluarga dan masyarakat melalui wakaf.
Pimpinan Pondok Pesantren Ma’had Roudhotul Falah, Kyai Khifdzillah Al-Haris, menyampaikan bahwa pembangunan Asrama Putri merupakan wakaf dari keluarga besar Ishak Mekki dan Hj. Mariyam.
Sementara tanah yang digunakan untuk pembangunan disebut diwakafkan oleh H. Sumarna.
Khifdzillah menyampaikan apresiasi dan doa bagi para pewakaf agar diberikan kesehatan, umur panjang, rezeki yang berlipat serta terus memiliki kepedulian terhadap pengembangan pondok pesantren.
Dukungan wakaf tersebut menjadi bagian penting dalam pembangunan fasilitas pendidikan dan tempat tinggal bagi santri putri.
Dua Momentum dalam Satu Perhelatan
Haflah Akhirusanah Roudhotul Falah tidak hanya menjadi panggung wisuda perdana.
Rangkaian kegiatan juga mencakup peresmian Pondok Pesantren Ma’had Roudhotul Falah dan peresmian Asrama Putri.
Acara diawali pembukaan, pembacaan Kalam Ilahi oleh Ustaz Abi Quhafah, S.Hub.Int., yang disebut sebagai qori internasional di Qatar, kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Pondok Pesantren Roudhotul Falah.
Setelah itu, acara diisi sambutan Ketua Panitia Mansyur, S.Pd., penampilan Syahril Qur’an santri, serta sambutan pimpinan pondok.
Prosesi wisuda kemudian menjadi salah satu agenda utama. Para santri juga memberikan persembahan kepada guru dan kedua orang tua.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan sambutan Bupati OKI H. Muchendi Mahzareki, S.E., M.Si., serta sambutan Gubernur Sumsel yang diwakili Sunarto.
Puncaknya, Pondok Pesantren Roudhotul Falah dan Asrama Putri secara resmi diresmikan, dilanjutkan pemotongan pita oleh Bupati OKI.
Bukan Hanya Soal Peresmian
Jika dilihat lebih jauh, momentum tersebut mempertemukan tiga cerita sekaligus: pendidikan, legalitas kelembagaan dan gotong royong masyarakat.
Wisuda perdana menunjukkan hasil proses pendidikan.
Kelengkapan izin operasional menunjukkan adanya proses administratif yang telah dilalui pondok.
Sementara pembangunan Asrama Putri melalui wakaf menunjukkan adanya dukungan masyarakat terhadap keberlangsungan pendidikan pesantren.
Di sisi lain, peresmian bukan berarti seluruh pekerjaan telah selesai.
Justru setelah sebuah lembaga resmi dan fasilitasnya bertambah, tantangan berikutnya adalah memastikan kualitas pendidikan terus berkembang, fasilitas terawat, dan kebutuhan santri dapat dipenuhi secara berkelanjutan.
Setelah Resmi, Apa Tantangan Berikutnya?
Hingga kini, Pondok Pesantren Ma’had Roudhotul Falah telah memasuki fase baru setelah izin operasional disebut lengkap dan proses akreditasi telah dilalui.
Asrama Putri juga telah diresmikan sebagai bagian dari pengembangan fasilitas pondok.
Namun, ukuran keberhasilan ke depan tentu tidak berhenti pada seremoni peresmian.
Pertanyaannya adalah, mampukah Roudhotul Falah mempertahankan perkembangan pendidikan setelah menghasilkan wisudawan perdana dan terus meningkatkan kualitasnya?
Dan bagaimana dukungan wakaf masyarakat serta perhatian pemerintah dapat terus menjadi energi bagi perkembangan pondok pesantren tersebut?
Hingga kini, perjalanan Roudhotul Falah masih terus berlanjut. Peresmian bukan garis akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. (Asep)

















