
BATURAJA, cimutnews.co.id – Program Makan Bersama Gratis OKU kembali digelar di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, Jumat (14/8/2026). Ketua TP PKK Kabupaten OKU Hj. Zwesty Karenia Teddy bersama Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) OKU Rosari Indah Alva turun langsung melayani dan membagikan makanan kepada masyarakat.
Kehadiran keduanya tidak sekadar sebagai seremoni. Di tengah aktivitas warga, mereka ikut menyapa masyarakat, membagikan makanan, sekaligus memastikan pelayanan berjalan tertib. Pola keterlibatan langsung ini menjadi bagian penting dari upaya pemerintah daerah mendekatkan pelayanan sosial kepada warga.
Berawal dari Gagasan Spontan, Kini Menjadi Agenda Rutin
Program Makan Bersama Gratis tersebut merupakan gagasan Bupati OKU H. Teddy Meilwansyah bersama Wakil Bupati OKU Ir. H. Marjito Bachri.
Program ini pada awalnya tidak dirancang sebagai kegiatan rutin. Pemerintah Kabupaten OKU menggagasnya secara spontan untuk memeriahkan HUT ke-116 Kabupaten OKU.
Namun, respons masyarakat membuat pemerintah daerah melihat adanya manfaat yang lebih luas. Tingginya antusiasme warga kemudian menjadi pertimbangan untuk mempertahankan program tersebut dan menjadikannya agenda rutin setiap Jumat.
Keputusan melanjutkan kegiatan ini menunjukkan bahwa sebuah program yang bermula dari momentum peringatan daerah dapat berkembang menjadi bentuk pelayanan langsung apabila mendapat respons positif dari masyarakat.
Menyasar Warga yang Beraktivitas di Lapangan
Bupati OKU Teddy Meilwansyah menjelaskan, sasaran program bukan hanya kelompok tertentu. Kegiatan tersebut diarahkan untuk masyarakat yang sedang menjalankan aktivitas sehari-hari, termasuk pekerja dan warga yang mencari nafkah.
Beberapa kelompok yang menjadi bagian dari sasaran program antara lain:
- buruh;
- pengemudi ojek;
- pedagang;
- masyarakat sekitar lokasi kegiatan; dan
- warga yang sedang beraktivitas.
Pendekatan tersebut membuat program tidak berhenti pada pembagian makanan, tetapi juga menjadi sarana interaksi antara pemerintah daerah dan masyarakat.
Ketua TP PKK OKU Ikut Membagikan Makanan
Pada pelaksanaan Jumat (14/8/2026), Hj. Zwesty Karenia Teddy terlihat berbaur bersama warga. Bersama Ketua DWP OKU Rosari Indah Alva, ia ikut melayani dan membagikan makanan secara langsung.
Situasi tersebut menciptakan suasana yang lebih cair. Warga dapat berinteraksi secara langsung dengan unsur organisasi perempuan daerah sekaligus menyampaikan respons mereka terhadap kegiatan yang diselenggarakan pemerintah.
Menurut Zwesty, antusiasme masyarakat menjadi dorongan bagi pemerintah dan pihak-pihak yang terlibat untuk mempertahankan kualitas pelayanan.
“Alhamdulillah, antusias masyarakat sangat luar biasa, ini menjadi motivasi kita untuk memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat OKU yang kita cintai,” ujar Zwesty.
Bukan Sekadar Makanan Gratis
Jika dilihat dari sisi pelayanan publik, program makan bersama memiliki dimensi yang lebih luas daripada pemenuhan kebutuhan makanan dalam satu waktu.
Bagi pekerja informal seperti pengemudi ojek, pedagang, maupun buruh, makanan gratis dapat memberikan manfaat langsung ketika mereka sedang berada di tengah aktivitas ekonomi. Pada saat yang sama, interaksi langsung antara pejabat dan warga dapat membuka ruang komunikasi yang lebih informal.
Program semacam ini juga memiliki nilai sosial. Pemerintah tidak hanya hadir melalui kebijakan administratif, tetapi menunjukkan kehadiran secara langsung di ruang publik tempat masyarakat beraktivitas.
Antusiasme Warga Menjadi Faktor Keberlanjutan
Keputusan mempertahankan program setiap Jumat menjadi menarik karena keberlanjutannya didorong oleh respons masyarakat terhadap kegiatan awal.
Dalam banyak program sosial, tantangan terbesar bukan hanya memulai kegiatan, tetapi menjaga konsistensi pelaksanaan. Ketika sebuah kegiatan telah menjadi agenda rutin, pemerintah perlu memastikan kualitas pelayanan, ketepatan sasaran, kebersihan makanan, serta mekanisme pelaksanaan tetap terjaga.
Artinya, keberhasilan program dalam jangka panjang tidak cukup diukur dari banyaknya makanan yang dibagikan. Dampak sosial, keterjangkauan penerima manfaat, konsistensi pelaksanaan dan evaluasi juga menjadi ukuran penting.
Tantangan Program Makan Bersama Gratis ke Depan
Program Makan Bersama Gratis OKU berpotensi menjadi salah satu bentuk pelayanan sosial yang semakin dikenal masyarakat apabila dikelola secara konsisten.
Dalam jangka pendek, manfaat paling terlihat adalah membantu masyarakat yang sedang beraktivitas dan menyediakan ruang interaksi langsung dengan pemerintah. Dalam jangka panjang, program tersebut dapat memiliki nilai lebih apabila disertai evaluasi berkala mengenai jumlah penerima manfaat, kebutuhan makanan, kebersihan, distribusi dan efektivitas anggaran.
Di sinilah letak tantangan pemerintah daerah. Antusiasme warga merupakan modal sosial yang positif, tetapi keberlanjutan program membutuhkan sistem yang jelas agar kegiatan tidak bergantung pada momentum atau sekadar popularitas.
hal yang menarik dari program ini bukan hanya makanan gratisnya, melainkan perubahan sebuah kegiatan yang awalnya dibuat untuk memeriahkan HUT OKU menjadi agenda pelayanan rutin. Ini menunjukkan bahwa respons warga dapat menjadi indikator penting dalam menentukan apakah sebuah kegiatan seremonial layak dikembangkan menjadi program berkelanjutan.
Pemkab OKU Pastikan Program Berlanjut
Bupati OKU Teddy Meilwansyah memastikan kegiatan tersebut akan terus dilaksanakan setiap Jumat. Ia juga meminta doa dan dukungan masyarakat agar program dapat berjalan secara berkelanjutan.
“Insyaallah, mohon doa dan dukungannya. Program ini akan terus kami lanjutkan dan digelar setiap hari Jumat,” kata Teddy.
Ke depan, konsistensi pelaksanaan akan menjadi kunci agar Makan Bersama Gratis OKU tidak hanya menjadi kegiatan berbagi makanan, tetapi benar-benar menjadi salah satu bentuk kedekatan pelayanan pemerintah dengan masyarakat.
Bagi warga yang sehari-hari bekerja di sektor informal, kehadiran program seperti ini dapat menjadi bantuan sederhana namun terasa langsung. Sementara bagi pemerintah daerah, keberlanjutan program menjadi kesempatan untuk membuktikan bahwa kepedulian sosial dapat diterjemahkan menjadi pelayanan publik yang konsisten dan terukur. (Agus)

















