
BATURAJA, cimutnews.co.id — Sebanyak 496 mahasiswa Universitas Baturaja (Unbara) resmi menyandang gelar akademik setelah mengikuti Sidang Senat Khusus Terbuka Wisuda Program Magister Angkatan IX dan Program Sarjana Angkatan XXXVII di Gedung Kesenian Baturaja, Rabu (16/9/2026).
Momentum wisuda tersebut tidak hanya menjadi penanda berakhirnya masa studi, tetapi juga menjadi titik awal bagi para lulusan untuk menerapkan ilmu, membangun kemandirian, dan mengambil bagian dalam pembangunan Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU).
Bupati OKU Minta Lulusan Tak Berhenti pada Gelar
Bupati OKU H Teddy Meilwansyah mengatakan, gelar akademik seharusnya berjalan beriringan dengan kemampuan menerapkan ilmu di tengah masyarakat.
Menurut Teddy, wisuda bukan sekadar seremoni akademik. Para lulusan memiliki tanggung jawab untuk menjadikan pengetahuan yang diperoleh selama kuliah sebagai sesuatu yang memberi manfaat nyata.
“Wisuda ini bukan hanya seremonial semata, tetapi menjadi awal untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat agar lebih bermanfaat di tengah masyarakat,” kata Teddy saat menghadiri prosesi wisuda.
Ia juga mendorong alumni Unbara agar tidak hanya memandang dunia kerja dari sisi mencari pekerjaan. Menurutnya, lulusan perguruan tinggi memiliki peluang untuk menciptakan lapangan atau kesempatan ekonomi yang berdampak terhadap masyarakat di sekitarnya.
Pesan tersebut menjadi penting di tengah perubahan kebutuhan dunia kerja yang semakin menuntut kemampuan praktis, kreativitas, serta kemampuan beradaptasi.
Alumni Dipandang Bisa Terlibat dalam Pembangunan Daerah
Teddy menyebut keberadaan Unbara memiliki arti strategis bagi pengembangan sumber daya manusia di OKU. Dengan jumlah lulusan yang terus bertambah, perguruan tinggi tersebut dinilai memiliki potensi untuk memperkuat ekosistem keilmuan di daerah.
Pemkab OKU, kata Teddy, juga membuka ruang kolaborasi dengan alumni maupun sivitas akademika Unbara dalam mendukung kebutuhan pembangunan pemerintah daerah.
Salah satu bentuk yang disebut adalah pemanfaatan kompetensi alumni melalui kerja sama kajian dan penyusunan dokumen teknis.
“Kami berupaya menyerap lulusan Unbara dan berkolaborasi. Alumni ini bisa dibuat tim kecil untuk kerja sama dalam kajian-kajian, seperti FS maupun DED kegiatan pemerintah,” jelasnya.
FS atau feasibility study berkaitan dengan kajian kelayakan suatu rencana kegiatan atau proyek. Sementara DED (detail engineering design) merupakan dokumen perencanaan teknis yang menjadi salah satu bagian penting dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi.
Dengan demikian, keterlibatan lulusan perguruan tinggi tidak harus selalu berbentuk pekerjaan sebagai aparatur atau pegawai. Keahlian akademik juga dapat ditempatkan sebagai bagian dari kebutuhan teknis pembangunan.
496 Wisudawan Berasal dari Berbagai Bidang Keilmuan
Pada periode wisuda kali ini, 496 mahasiswa berasal dari sejumlah program pendidikan di Universitas Baturaja.
Rinciannya meliputi:
- 89 lulusan Program Magister;
- 69 lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis;
- 59 lulusan Fakultas Pertanian;
- 86 lulusan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan;
- 86 lulusan Fakultas Teknik dan Komputer;
- 107 lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa lulusan yang memasuki masyarakat memiliki latar belakang keilmuan yang beragam, mulai dari ekonomi, pertanian, pendidikan, teknik dan komputer hingga ilmu sosial dan politik.
Keberagaman kompetensi tersebut sekaligus membuka ruang kontribusi yang luas, baik melalui sektor pemerintahan, dunia usaha, pendidikan, organisasi masyarakat maupun kegiatan kewirausahaan.
Unbara Telah Meluluskan 14.981 Alumni
Universitas Baturaja hingga periode 2026 tercatat telah meluluskan 14.981 alumni.
Angka tersebut memperlihatkan skala kontribusi perguruan tinggi terhadap penyediaan sumber daya manusia di OKU. Alumni yang tersebar di berbagai bidang dapat menjadi modal sosial sekaligus sumber daya profesional bagi perkembangan daerah.
Bagi pemerintah daerah, tantangannya kemudian bukan hanya menghasilkan lulusan, tetapi bagaimana kompetensi tersebut dapat terhubung dengan kebutuhan pembangunan dan dunia kerja.
Rektor Unbara Tekankan Kreativitas dan Adaptasi
Rektor Universitas Baturaja Ir. Hj. Lindawati MZ., M.T. mengatakan, kelulusan bukan akhir dari proses pembelajaran.
Menurutnya, perkembangan teknologi dan perubahan dunia kerja membuat lulusan perguruan tinggi harus memiliki kemampuan lebih dari sekadar penguasaan materi akademik.
“Pada era digital yang bergerak cepat ini, kepemilikan gelar akademik harus diimbangi dengan kreativitas dan kemampuan adaptasi yang tinggi,” ujar Lindawati.
Ia berharap para wisudawan mampu membawa bekal akademik sekaligus karakter yang kuat ketika memasuki kehidupan profesional dan masyarakat.
Lindawati menilai kemampuan beradaptasi menjadi salah satu modal penting menghadapi perubahan zaman yang berlangsung cepat.
“Kami berharap saudara menjadi lulusan yang matang secara akademis sekaligus memiliki ketahanan karakter dalam menghadapi tantangan zaman,” katanya.
Dari Wisuda Menuju Kontribusi Nyata
Wisuda 496 mahasiswa Unbara pada akhirnya memperlihatkan satu persoalan yang lebih luas dalam pendidikan tinggi: keberhasilan perguruan tinggi tidak berhenti ketika mahasiswa memperoleh ijazah.
Nilai pendidikan baru benar-benar terlihat ketika kompetensi lulusan mampu digunakan untuk menyelesaikan persoalan masyarakat, meningkatkan produktivitas, menciptakan peluang ekonomi, atau membantu pemerintah mengambil keputusan berbasis pengetahuan.
Dalam konteks OKU, gagasan kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi dan alumni dapat menjadi salah satu jalur untuk mempertemukan kebutuhan pembangunan dengan sumber daya manusia lokal. Namun, efektivitasnya akan sangat bergantung pada bentuk kerja sama yang jelas, kebutuhan yang terukur, serta kompetensi alumni yang sesuai dengan pekerjaan yang diberikan.
Ribuan Alumni Menjadi Aset Pengetahuan Daerah
Hal menarik dari momentum ini bukan hanya jumlah 496 wisudawan, melainkan akumulasi 14.981 alumni Unbara hingga 2026.
Jika jaringan alumni tersebut dapat terhubung secara sistematis dengan kebutuhan pemerintah, dunia usaha dan masyarakat, perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai tempat mencetak sarjana. Kampus juga dapat berkembang menjadi salah satu simpul pengetahuan daerah yang menyediakan sumber daya profesional untuk menjawab persoalan lokal.
Karena itu, tantangan setelah wisuda bukan sekadar berapa banyak lulusan yang mendapatkan pekerjaan. Pertanyaan yang lebih penting adalah seberapa jauh kompetensi mereka dapat menciptakan nilai baru bagi OKU. (Agus)

















