Beranda Banyuasin Banyuasin Perkuat Sinergi Lintas Sektor Percepat Eliminasi AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria, Sekda:...

Banyuasin Perkuat Sinergi Lintas Sektor Percepat Eliminasi AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria, Sekda: Pencegahan Jadi Tanggung Jawab Bersama

15
0
Sekretaris Daerah Kabupaten Banyuasin Ir. Erwin Ibrahim membuka Dialog Interaktif Sinergi dan Komitmen Multi-Sektor dalam Akselerasi Eliminasi AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria (ATM) Tahun 2026 di Auditorium Pemkab Banyuasin, Selasa (14/7/2026). (Foto: Noto/CimutNews.co.id).

PANGKALAN BALAI, CimutNews.co.id – Pemerintah Kabupaten Banyuasin mempertegas komitmennya dalam mendukung target nasional eliminasi AIDS, Tuberkulosis (TBC), dan Malaria melalui penguatan kolaborasi lintas sektor. Komitmen tersebut mengemuka dalam Dialog Interaktif Sinergi dan Komitmen Multi-Sektor dalam Akselerasi Eliminasi AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria (ATM) Tahun 2026 yang digelar di Auditorium Pemerintah Kabupaten Banyuasin, Selasa (14/7/2026).

Kegiatan yang dibuka langsung oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Banyuasin Ir. Erwin Ibrahim, ST, MM, MBA, IPU, ASEAN Eng itu menjadi forum strategis untuk menyatukan langkah pemerintah daerah, organisasi profesi, perangkat daerah, pemerintah desa, hingga berbagai pemangku kepentingan dalam mempercepat pengendalian tiga penyakit menular yang masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat.

Menurut Erwin Ibrahim, keberhasilan eliminasi AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria tidak dapat dicapai apabila hanya mengandalkan sektor kesehatan. Dibutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen, mulai dari pemerintah, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga masyarakat itu sendiri.

“Persoalan AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria membutuhkan kerja bersama. Sinergi dan komitmen lintas sektor menjadi kunci agar program yang telah direncanakan dapat berjalan secara efektif, terarah, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ujar Erwin.

Eliminasi ATM Menjadi Agenda Prioritas Nasional

Upaya yang dilakukan Banyuasin sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat yang menempatkan pengendalian penyakit menular sebagai salah satu prioritas pembangunan kesehatan nasional.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan menargetkan eliminasi malaria di seluruh wilayah Indonesia secara bertahap, percepatan eliminasi HIV/AIDS sebagai ancaman kesehatan masyarakat, serta eliminasi Tuberkulosis pada tahun 2030 sebagaimana tertuang dalam berbagai dokumen kebijakan nasional, termasuk Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), Strategi Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, serta komitmen Indonesia terhadap Sustainable Development Goals (SDGs).

Baca juga  Bulog Siapkan Infrastruktur Pascapanen di Banyuasin, Pemkab Dukung IPP Modern untuk Perkuat Ketahanan Pangan Nasional

Ketiga penyakit tersebut juga menjadi bagian penting dalam agenda peningkatan kualitas sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045, karena berkaitan langsung dengan produktivitas penduduk, kualitas hidup, dan pembangunan ekonomi daerah.

Tuberkulosis Masih Menjadi Tantangan Besar

Secara nasional, Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan beban Tuberkulosis tertinggi di dunia. Data Kementerian Kesehatan dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa Indonesia termasuk dalam kelompok negara dengan jumlah kasus TBC terbesar secara global.

Sementara itu, HIV/AIDS masih memerlukan upaya deteksi dini, pengobatan berkelanjutan, dan penghapusan stigma agar penderita memperoleh layanan kesehatan secara optimal. Di sisi lain, malaria tetap menjadi perhatian khusus terutama di wilayah-wilayah yang masih memiliki potensi penularan akibat faktor lingkungan.

Karena itu, pendekatan lintas sektor dinilai menjadi strategi yang lebih efektif dibandingkan hanya mengandalkan pelayanan kesehatan semata.

Edukasi Pola Hidup Sehat Harus Menjangkau Seluruh Lapisan Masyarakat

Dalam arahannya, Erwin Ibrahim menekankan bahwa pencegahan merupakan langkah paling efektif dalam menekan penyebaran penyakit menular.

Ia mengajak seluruh perangkat daerah, pemerintah desa, tenaga kesehatan, hingga tokoh masyarakat untuk memperkuat edukasi mengenai perilaku hidup bersih dan sehat, deteksi dini penyakit, kepatuhan terhadap pengobatan, serta pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.

“Pola hidup sehat harus terus kita dorong dan biasakan di tengah masyarakat. Pencegahan tentu menjadi langkah yang sangat penting. Masyarakat harus diberikan pemahaman dan edukasi secara berkelanjutan tentang bagaimana menjaga kesehatan diri, keluarga, dan lingkungan,” katanya.

Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat merupakan fondasi utama dalam menurunkan angka penularan penyakit menular.

Peran Kominfo Dinilai Strategis di Era Digital

Dalam kesempatan tersebut, Sekda Banyuasin juga memberikan perhatian khusus terhadap pemanfaatan media digital sebagai sarana edukasi kesehatan.

Baca juga  Eksplorasi Sultan Muda Digencarkan, Namun Hilirisasi dan Kesejahteraan Peternak Masih Jadi Pertanyaan

Ia meminta Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian Kabupaten Banyuasin memperluas penyebaran informasi mengenai pola hidup sehat melalui berbagai kanal digital pemerintah agar pesan kesehatan lebih mudah diterima masyarakat.

“Dinas Kominfo saya minta untuk terus menyosialisasikan pola hidup sehat melalui media sosial. Buat informasi dan edukasi yang mudah dipahami masyarakat sehingga pesan-pesan kesehatan dapat tersampaikan secara luas dan berkelanjutan,” tegasnya.

Pemanfaatan media sosial dinilai semakin penting mengingat tingginya penetrasi internet di Indonesia yang memungkinkan penyampaian informasi kesehatan dilakukan secara lebih cepat, luas, dan interaktif.

Kolaborasi Hingga Tingkat Desa Menjadi Kunci

Dialog interaktif tersebut turut melibatkan para camat, lurah, kepala desa, organisasi profesi kesehatan, serta seluruh perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Kabupaten Banyuasin.

Pelibatan pemerintah desa dinilai strategis karena desa menjadi garda terdepan dalam mendeteksi dini kasus, memberikan edukasi kepada masyarakat, hingga memastikan warga mendapatkan akses terhadap layanan kesehatan.

Kolaborasi ini diharapkan mampu mempercepat pencapaian target eliminasi penyakit sekaligus memperkuat sistem kesehatan daerah secara berkelanjutan.

Pendekatan Multi-Sektor Menjadi Model Penanganan Penyakit Menular Modern

Pendekatan yang diterapkan Pemerintah Kabupaten Banyuasin menunjukkan adanya perubahan paradigma dalam pembangunan kesehatan. Penanganan penyakit menular kini tidak lagi dipahami sebagai tanggung jawab fasilitas pelayanan kesehatan semata, melainkan membutuhkan dukungan sektor pendidikan, komunikasi publik, pemerintahan desa, hingga organisasi masyarakat.

Model kolaboratif seperti ini dinilai mampu meningkatkan efektivitas program karena setiap sektor memiliki peran berbeda, mulai dari penyediaan data, edukasi, perubahan perilaku, hingga pengawasan di tingkat masyarakat.

Di sisi lain, keberhasilan eliminasi AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria juga akan memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Menurunnya angka kesakitan berpotensi meningkatkan produktivitas tenaga kerja, mengurangi beban pembiayaan kesehatan, sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Baca juga  Polres Banyuasin Ungkap 15 Kasus Narkoba dan Terima 10 Senpi Rakitan, Wujud Sinergi Publik Demi Keamanan

Bagi Banyuasin, keberhasilan program ini juga dapat memperkuat indeks pembangunan kesehatan daerah yang menjadi salah satu indikator penting dalam pembangunan manusia.

Namun demikian, tantangan yang masih dihadapi adalah konsistensi edukasi, pemerataan akses layanan kesehatan, kepatuhan masyarakat menjalani pengobatan, serta penguatan sistem surveilans penyakit. Karena itu, sinergi lintas sektor perlu dijaga agar tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi diwujudkan melalui program yang berkelanjutan. (Noto)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here