
PALEMBANG, cimutnews.co.id — Program bedah rumah Polda Sumsel kembali digelar secara serentak di berbagai wilayah hukum Sumatera Selatan menjelang peringatan Hari Bhayangkara 2026. Kegiatan ini dipimpin langsung Kapolda Sumsel Irjen Pol Sandi Nugroho sebagai bentuk nyata kepedulian Polri terhadap masyarakat.
Sebanyak 37 rumah warga dengan kondisi tidak layak huni menjadi sasaran utama dalam program ini. Selain renovasi fisik, kegiatan tersebut dinilai penting karena menyasar kelompok rentan dan terdampak musibah, termasuk korban kebakaran menjelang Idul Fitri.
Bedah Rumah Jadi Program Sosial Prioritas
Fokus pada Warga Kurang Mampu dan Korban Musibah
Program bedah rumah Polda Sumsel menyasar masyarakat berpenghasilan rendah serta warga yang tinggal di hunian tidak layak.
Beberapa kategori prioritas penerima bantuan meliputi:
- Rumah rusak berat akibat usia bangunan
- Hunian tidak layak dari sisi kesehatan dan keselamatan
- Korban kebakaran menjelang Idul Fitri
- Warga dengan keterbatasan ekonomi ekstrem
Kegiatan utama dipusatkan di rumah Indra Irmawan di Kelurahan 13 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu II, Palembang, Jumat (10/4/2026). Lokasi ini dipilih sebagai simbol pelaksanaan program berbasis kebutuhan nyata masyarakat perkotaan.
Kronologi Pelaksanaan di Lapangan
Dari Pendataan Hingga Renovasi
Pelaksanaan program ini diawali dengan proses identifikasi oleh jajaran kepolisian di tingkat Polres hingga Polsek.
Berikut tahapan kegiatan:
- Pendataan rumah tidak layak huni di wilayah hukum Polda Sumsel
- Verifikasi kondisi dan kelayakan penerima bantuan
- Penentuan skala renovasi (total atau sebagian)
- Pelaksanaan pembangunan bersama masyarakat setempat
Menurut pihak kepolisian, pelibatan tokoh masyarakat dilakukan agar program tepat sasaran dan mendapat dukungan warga.
Kapolda Sumsel Irjen Pol Sandi Nugroho menegaskan bahwa program ini bukan sekadar kegiatan seremonial.
“Bedah rumah ini bukan hanya membangun tempat tinggal, tetapi juga membangun harapan dan semangat hidup masyarakat,” ujarnya.
Peran Polrestabes dan Dukungan Institusi
Pengawasan dan Ketepatan Sasaran
Polrestabes Palembang turut mengawal pelaksanaan program agar berjalan efektif.
Di bawah koordinasi Kombes Pol Sonny Mahar Budi Adityawan, kegiatan dipastikan sesuai kebutuhan penerima bantuan.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol Nandang Mu’min Wijaya menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari pendekatan humanis Polri.
“Ini bentuk komitmen Polri hadir tidak hanya dalam penegakan hukum, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” katanya.
Dampak Nyata bagi Masyarakat
Perbaikan Hunian dan Kualitas Hidup
Program bedah rumah Polda Sumsel memberikan dampak langsung berupa:
- Hunian lebih aman dan layak
- Peningkatan kesehatan lingkungan keluarga
- Pengurangan risiko bencana rumah tangga
- Meningkatkan rasa aman dan stabilitas sosial
Bagi warga penerima manfaat, perubahan kondisi rumah juga berdampak pada produktivitas dan kesejahteraan jangka panjang.
Konteks Nasional dan Tren Program Serupa
Sejalan Program Pengentasan Kemiskinan
Program ini sejalan dengan kebijakan nasional dalam pengurangan kemiskinan ekstrem dan penyediaan hunian layak.
Secara nasional, program bedah rumah juga dilakukan oleh berbagai institusi, seperti Kementerian PUPR dan pemerintah daerah. Namun, keterlibatan institusi kepolisian dalam skala terstruktur menjadi nilai tambah tersendiri.
Data menunjukkan, kebutuhan rumah layak huni di Indonesia masih tinggi, terutama di wilayah perkotaan padat dan daerah rawan bencana.
Lebih dari Sekadar Renovasi Fisik
Program ini menunjukkan pergeseran peran Polri dari sekadar penegak hukum menjadi aktor sosial yang aktif. Dalam jangka pendek, bantuan ini mampu memperbaiki kondisi hidup masyarakat rentan secara langsung.
Dalam jangka panjang, pendekatan seperti ini berpotensi memperkuat kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian. Ketika masyarakat merasakan manfaat konkret, hubungan sosial antara aparat dan warga menjadi lebih harmonis.
Menariknya, program bedah rumah cenderung meningkat menjelang momen besar seperti Hari Bhayangkara. Ini menunjukkan pola bahwa kegiatan sosial dijadikan momentum strategis untuk memperkuat legitimasi institusi sekaligus menjawab kebutuhan riil masyarakat.
Program bedah rumah Polda Sumsel menjadi bukti nyata transformasi Polri yang semakin humanis dan adaptif. Tidak hanya memperbaiki fisik bangunan, tetapi juga membangun harapan baru bagi masyarakat kurang mampu.
Ke depan, keberlanjutan program semacam ini menjadi kunci dalam menjaga stabilitas sosial sekaligus mendukung agenda nasional pengentasan kemiskinan. (Poerba)

















