Kayuagung, cimutnews.co.id – Puluhan siswa di dua sekolah Kecamatan Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), dilaporkan mengalami gejala mual, muntah, dan diare setelah mengonsumsi paket makanan dari program katering sekolah. Meski pihak penyedia jasa, SPPG Menang Raya, sudah mengeluarkan klarifikasi resmi dan menegaskan semua prosedur dapur telah sesuai standar, sejumlah fakta di lapangan membuka ruang pertanyaan: benarkah persoalan sesederhana “telat makan”?
Kronologi Dugaan Keracunan
Peristiwa bermula pada Selasa (tanggal sesuai data), saat SPPG mendistribusikan 3.144 paket makanan ke 14 titik sekolah di wilayah Pedamaran. Distribusi dilakukan sejak pukul 09.00 WIB, namun sebagian siswa baru mengonsumsi paket tersebut sekitar pukul 12.30 WIB bahkan lebih.
Tak lama berselang, laporan masuk: 76 siswa dari dua sekolah mengeluhkan mual dan muntah usai menyantap makanan. Sementara di 12 sekolah lain, kasus serupa tidak ditemukan.
Klarifikasi SPPG: SOP Dijalankan, Penyebab Telat Konsumsi
Dalam keterangan resmi yang diterima redaksi, pihak SPPG Menang Raya menegaskan bahwa semua tahapan pengolahan makanan dilakukan sesuai standar operasional prosedur (SOP).
Mulai dari pemilihan bahan baku, pencucian sayuran dengan air hangat dan garam, penggunaan air bersih dalam memasak, sterilisasi peralatan dapur, hingga uji coba menu oleh ahli gizi dilakukan secara rutin. Disiplin higienitas karyawan juga diklaim ketat, termasuk kewajiban cuci tangan, pakaian kerja steril, hingga larangan bekerja bagi yang sakit.
Menurut Ari Gosaci, Humas Mitra SPPG Menang Raya, penyebab utama diduga karena keterlambatan konsumsi.
“Pantauan kami, makanan didistribusikan pukul 09.00 WIB, tapi baru dimakan sekitar pukul 12.30 WIB. Padahal, standar konsumsi maksimal satu jam setelah makanan diterima. Kondisi inilah yang sangat berpotensi memicu kontaminasi bakteri,” jelas Ari.
Fakta Lapangan: Hanya Dua Sekolah Terdampak
Data yang diperoleh cimutnews menunjukkan, dari ribuan paket yang disalurkan, hanya dua sekolah yang melaporkan adanya kasus siswa sakit. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan serius: jika semua makanan berasal dari dapur yang sama, mengapa hanya dua titik yang terdampak?
Di sisi lain, sumber internal sekolah yang enggan disebut namanya mengaku, makanan kerap dibiarkan menumpuk di ruang guru sebelum dibagikan ke siswa. “Kadang baru sempat dibagikan saat jam istirahat kedua. Anak-anak sudah lapar, jadi langsung dimakan tanpa cuci tangan,” katanya.
Jejak Medis dan Pengawasan Instansi
Pihak Dinas Kesehatan Kabupaten OKI bersama BPOM dan BGN disebut sudah turun ke lapangan untuk melakukan pemeriksaan. Sampel makanan dan sisa muntahan siswa dikabarkan tengah diuji laboratorium, namun hasil resminya belum diumumkan ke publik.
Seorang tenaga medis puskesmas setempat menyampaikan, gejala yang dialami siswa memang mirip dengan keracunan bakteri E-Coli. Namun, tanpa hasil lab resmi, sulit memastikan apakah sumber kontaminasi berasal dari dapur, rantai distribusi, atau perilaku konsumsi di sekolah.
Analisis Investigatif: Celah di Rantai Konsumsi
Dari penelusuran tim redaksi, setidaknya ada tiga celah utama yang membuka risiko kasus ini:
- Distribusi dan waktu konsumsi – Jeda 3–4 jam dari dapur hingga ke perut siswa memperbesar risiko pertumbuhan bakteri.
- Penyimpanan di sekolah – Tidak semua sekolah punya fasilitas penyimpanan layak. Paket makanan kerap dibiarkan di ruang terbuka tanpa pendingin.
- Pengawasan konsumsi siswa – Kebiasaan cuci tangan belum disiplin, sementara pengawasan guru terbatas.
Meski pihak SPPG menegaskan SOP dapur dijalankan, investigasi lapangan memperlihatkan bahwa mata rantai distribusi dan konsumsi masih menjadi titik rawan.
Tindak Lanjut dan Perbaikan
Sebagai respons, SPPG bersama BGN, BPOM, dan Dinkes OKI berkomitmen melakukan sejumlah langkah:
- Meningkatkan infrastruktur dapur,
- Memberi pelatihan higienitas bagi karyawan,
- Menerapkan label batas waktu konsumsi (expired time) pada paket makanan,
- Mengedukasi perilaku hidup bersih siswa bersama puskesmas dan Dinas Kesehatan.
Bukan Sekadar Klarifikasi
Kasus dugaan keracunan makanan di Pedamaran membuka pelajaran berharga bahwa keamanan pangan bukan hanya soal dapur, melainkan juga distribusi, pengawasan, dan kedisiplinan konsumsi di sekolah.
Jika hasil laboratorium nanti membuktikan sumber kontaminasi, publik berharap transparansi penuh dari semua pihak, bukan sekadar lempar tanggung jawab. Karena bagi orang tua, keselamatan anak-anak jauh lebih penting daripada sekadar klaim SOP dan klarifikasi sepihak.
(tim/red)


















