Jakarta, cimutnews.co.id — Upaya penanganan bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara masih terus berlangsung. Di berbagai titik, petugas gabungan bekerja siang dan malam melakukan evakuasi, pencarian korban, hingga distribusi bantuan ke desa-desa yang terisolir. Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kembali merilis pembaruan jumlah korban, dan angkanya terus meningkat.
Dalam konferensi pers di Jakarta pada Kamis (4/12/2025), Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan lonjakan signifikan angka korban meninggal dunia.
“Cut off per pukul 16.00 WIB, hingga sore ini jumlah korban meninggal dunia bertambah menjadi 836 jiwa,” ujarnya.
Angka tersebut naik dibandingkan laporan resmi sebelumnya, menandakan bahwa operasi pencarian masih menghadapi medan sulit dan banyak wilayah yang baru bisa dijangkau tim.
Ribuan Warga Luka-Luka, Ratusan Masih Hilang
Selain korban meninggal dunia, BNPB mencatat 2.700 warga mengalami luka-luka dengan kondisi beragam, mulai dari luka ringan hingga cedera serius yang membutuhkan perawatan di fasilitas kesehatan rujukan. Kondisi ini menambah beban tenaga medis di tiga provinsi terdampak.
Tak hanya itu, 518 orang masih dinyatakan hilang. Proses pencarian dilakukan oleh tim gabungan TNI, Polri, Basarnas, BPBD, relawan, dan masyarakat setempat. Banyak lokasi masih tertutup material longsor, reruntuhan, hingga lumpur tebal yang mempersulit upaya evakuasi.
Distribusi Korban Per Provinsi
BNPB merinci sebaran korban meninggal dunia sebagai berikut:
- Aceh: 325 orang meninggal, 170 orang masih hilang
- Sumatera Utara: 311 orang meninggal
- Sumatera Barat: 200 orang meninggal
Abdul Muhari menyebutkan bahwa data ini masih sangat dinamis, mengingat sejumlah kawasan belum dapat dijangkau karena kondisi geografis berat, kerusakan jalan, hingga cuaca ekstrem.
Kerusakan Infrastruktur Meluas
Dampak bencana tidak hanya menelan korban jiwa, tetapi juga menghancurkan infrastruktur vital di tiga provinsi tersebut. Berdasarkan data resmi Pusdatin BNPB per pukul 17.33 WIB, tercatat:
- 10.500 rumah warga rusak dalam berbagai tingkat
- 536 fasilitas umum terdampak
- 25 fasilitas kesehatan tidak dapat beroperasi
- 326 fasilitas pendidikan rusak
- 185 tempat ibadah mengalami kerusakan
- 295 jembatan rusak atau putus total
Rusaknya ratusan jembatan dan jalan utama membuat sejumlah wilayah benar-benar terisolasi. Bantuan logistik terpaksa dikirim menggunakan helikopter, perahu karet, atau jalur alternatif yang memakan waktu jauh lebih lama.
Laporan di lapangan menunjukkan masih banyak warga yang bertahan di daerah terpencil tanpa listrik, air bersih, dan komunikasi. Situasi ini menjadi perhatian serius BNPB karena dapat meningkatkan risiko penyakit dan memperburuk kondisi kemanusiaan.
Data Masih Dipastikan Berubah
BNPB menegaskan bahwa seluruh data sementara bersifat bergerak karena tim terus membuka akses ke wilayah baru, sementara laporan dari daerah juga masuk secara bertahap.
“Data ini adalah data sementara dan akan terus diperbarui seiring tim mencapai lokasi-lokasi yang sebelumnya tidak terjangkau,” ujar Abdul Muhari.
Cuaca yang masih sulit diprediksi juga menjadi tantangan utama, terutama dengan potensi hujan lebat yang kembali mengancam daerah rawan longsor.
Koordinasi Ditingkatkan, Pemerintah Fokus pada Tanggap Darurat
Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah meningkatkan koordinasi lintas lembaga untuk percepatan penanganan. Dapur umum lapangan, posko kesehatan, dan pusat pengungsian terus ditambah untuk memenuhi kebutuhan dasar penyintas.
Sementara itu, evakuasi dan rekayasa jalur alternatif terus diupayakan untuk mempercepat distribusi logistik ke daerah yang paling terdampak.
Hingga berita ini diturunkan, status tanggap darurat masih diberlakukan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Pemerintah mengimbau masyarakat di daerah rawan agar tetap waspada menghadapi potensi cuaca ekstrem beberapa hari ke depan.
Bencana ini meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat Sumatera, sekaligus menjadi peringatan bahwa mitigasi bencana harus terus diperkuat agar daerah memiliki kesiapan lebih baik ketika menghadapi kejadian luar biasa seperti ini. (Timred/CN)


















