Terungkap: Kompetisi Nasional Digelar, Tapi Kondisi Lapangan Belum Merata
PALEMBANG, cimutnews.co.id — Ajang nasional digelar meriah dengan ratusan peserta.
Namun di balik kemegahan itu, muncul pertanyaan: apakah kesiapsiagaan di lapangan sudah benar-benar sekuat yang ditampilkan? (27/4)
Kota Palembang kembali menjadi tuan rumah National Firefighter Skill Competition (NFSC) 2026.
Sebanyak 336 peserta dari 42 tim pemadam kebakaran seluruh Indonesia ambil bagian dalam kegiatan ini.
Pembukaan dipusatkan di kawasan ikonik Benteng Kuto Besak yang menjadi simbol sejarah sekaligus wajah kota.
Kompetisi ini disebut sebagai ajang peningkatan kemampuan teknis dan koordinasi antarpetugas pemadam kebakaran.
Berbagai simulasi dan uji keterampilan dilakukan untuk menguji ketangkasan, kecepatan, serta ketepatan dalam menangani situasi darurat.
Sekretaris Daerah Palembang, Aprizal Hasyim, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar perlombaan.
“Ini adalah sarana untuk mengasah keterampilan dan memperkuat koordinasi antarpetugas dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala DPKPB Palembang, Kemas Haikal, menjelaskan terdapat tiga kategori utama yang diperlombakan dalam NFSC 2026.
Namun fakta di lapangan menunjukkan kondisi tidak selalu seideal yang ditampilkan dalam kompetisi.
Berdasarkan temuan di lapangan, sejumlah wilayah di luar pusat kota masih menghadapi keterbatasan sarana dan prasarana pemadam kebakaran.
Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan oleh masyarakat di kawasan padat penduduk, yang mengaku respons penanganan kebakaran terkadang masih terkendala akses jalan sempit dan distribusi armada.
Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah kompetisi ini benar-benar mencerminkan kesiapan nyata di semua wilayah?
Sejumlah warga mengaku apresiasi terhadap kegiatan tersebut, namun berharap ada dampak langsung.
“Bagus ada lomba seperti ini, tapi yang penting di lapangan cepat tanggap,” ujar seorang warga Palembang.
Ada pula yang menyebut bahwa peningkatan kemampuan harus diikuti dengan pemerataan fasilitas.
“Kalau alatnya terbatas, tetap saja sulit,” kata warga lainnya.
Secara konsep, kompetisi seperti NFSC memang penting untuk meningkatkan standar profesionalisme petugas.
Namun efektivitasnya diduga sangat bergantung pada implementasi di lapangan, termasuk dukungan anggaran, distribusi peralatan, dan pelatihan berkelanjutan.
Tanpa itu, kompetisi berpotensi menjadi ajang seremonial semata yang belum sepenuhnya menyentuh akar persoalan.
Hingga kini, belum semua wilayah memiliki kesiapan yang merata dalam menghadapi risiko kebakaran.
NFSC 2026 menjadi panggung penting bagi peningkatan kapasitas petugas pemadam kebakaran.
Namun di balik semangat kompetisi, masih tersisa pertanyaan yang belum terjawab.
Apakah ajang ini akan berdampak nyata pada peningkatan layanan di lapangan, atau hanya berhenti sebagai simbol kesiapsiagaan?
Hingga kini, jawabannya masih menunggu pembuktian.


















