Home Nasional Mendagri Tito Karnavian Minta Investigasi Asal Kayu Gelondongan yang Terseret Banjir Bandang...

Mendagri Tito Karnavian Minta Investigasi Asal Kayu Gelondongan yang Terseret Banjir Bandang di Aceh, Sumut, dan Sumbar

58
0
Tumpukan kayu gelondongan yang ditemukan di salah satu lokasi banjir bandang di Sumatra. (Foto: Timred/CN)

JAKARTA, cimutnews.co.id – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian angkat bicara terkait kemunculan tumpukan kayu gelondongan yang terseret banjir bandang di sejumlah wilayah, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Fenomena yang ramai dibahas publik itu memunculkan berbagai spekulasi mengenai asal-usul kayu yang terbawa hingga ke tepi sungai dan daerah pesisir.

Dalam keterangannya usai menghadiri rapat koordinasi di kantor Kemendagri, Jakarta Pusat, Senin (1/12/2025), Tito menegaskan bahwa pemerintah pusat belum menerima laporan lengkap mengenai sumber tumpukan kayu tersebut. Hingga kini, belum ada kepastian apakah kayu-kayu itu terkait aktivitas pembalakan liar atau hanyut secara alami akibat intensitas banjir yang sangat kuat.

“Terus terang saya belum bisa memastikan dari mana sumber kayu-kayu itu. Ada yang menduga hasil illegal logging, ada juga yang bilang itu kayu lapuk yang hanyut terbawa arus,” ujar Tito kepada wartawan. Menurutnya, semua dugaan yang beredar tidak bisa dijadikan rujukan tanpa adanya bukti yang kuat dan penyelidikan resmi dari aparat penegak hukum.

Perlu Penyelidikan Resmi, Bukan Spekulasi Publik

Tito meminta masyarakat tidak terjebak dalam opini dan asumsi yang berpotensi memperkeruh suasana di tengah penanganan bencana. Ia menekankan bahwa pemerintah harus mengedepankan data dan hasil investigasi mendalam sebelum menyimpulkan penyebab atau faktor yang memperparah bencana banjir bandang tersebut.

“Saya tidak ingin berspekulasi. Yang penting aparat di lapangan melakukan penyelidikan menyeluruh agar kita tahu persis apa yang terjadi,” tegasnya.

Investigasi diperlukan untuk memastikan apakah tumpukan kayu itu merupakan indikasi kerusakan lingkungan akibat aktivitas illegal logging di hulu sungai atau sekadar material alami yang terseret arus deras. Hasil penyelidikan tersebut penting bagi pemerintah pusat untuk menentukan langkah mitigasi jangka panjang, termasuk evaluasi tata kelola hutan dan DAS (Daerah Aliran Sungai) di wilayah terdampak.

Baca juga  Kemnaker Evaluasi K3 PT ASL Shipyard Batam: 5 Pelanggaran Belum Dipenuhi, Perusahaan Diberi Deadline Mei 2026

Banjir Bandang Seret Material Besar, Picu Pertanyaan Baru

Bencana banjir bandang di Aceh, Sumut, dan Sumbar dalam beberapa hari terakhir menimbulkan kerusakan signifikan. Derasnya arus air tak hanya merendam permukiman dan memutus akses jalan, tetapi juga menyeret sejumlah material berukuran besar seperti batu, lumpur, hingga tumpukan batang kayu gelondongan.

Keberadaan kayu-kayu berdiameter besar yang terdampar di bibir sungai serta area pesisir memicu perhatian publik. Warga mempertanyakan apakah skala banjir bandang itu semakin parah karena adanya aktivitas manusia di wilayah hulu sungai. Tidak sedikit pula yang mengaitkannya dengan isu pembalakan liar, mengingat wilayah pegunungan di Aceh dan Sumatera dikenal kaya hutan.

Namun, sebagian ahli kebencanaan menilai bahwa material kayu bisa saja berasal dari pohon tua atau batang kayu lapuk yang sebelumnya tertumpuk di hulu sungai dan terbawa banjir besar. Fenomena ini kerap terjadi pada bencana hidrometeorologi berskala besar, terutama saat hujan ekstrem terjadi dalam waktu lama.

Pemerintah Fokus Tangani Dampak Bencana

Meski isu asal-usul kayu bergulir di tengah masyarakat, Tito Karnavian menekankan bahwa pemerintah tetap memprioritaskan penanganan darurat bencana. Upaya penyelamatan korban, pendistribusian bantuan, hingga pemulihan akses jalan dan jembatan menjadi fokus utama sejumlah tim yang diterjunkan ke lokasi terdampak.

Ia memastikan koordinasi antara BNPB, pemerintah daerah, TNI/Polri, dan lembaga kemanusiaan berjalan intens untuk mempercepat penanganan dampak banjir bandang. Tito juga meminta kepala daerah melaporkan setiap temuan penting di lapangan agar pemerintah pusat dapat mengambil keputusan yang tepat dan cepat.

“Kita harus mengutamakan keselamatan warga. Setelah itu baru kita lakukan penelusuran lebih dalam terkait penyebab dan faktor yang memperparah bencana,” ujar Tito.

Baca juga  Hadiri Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah 2026, Gubernur Herman Deru Tegaskan Komitmen Sinergi Menuju Indonesia Emas 2045

Investigasi Diharapkan Beri Penjelasan Publik

Pemerintah berharap proses penyelidikan dapat memberikan kejelasan bagi publik yang selama ini bertanya-tanya mengenai asal-usul kayu gelondongan tersebut. Kejelasan hasil investigasi sangat penting untuk menghindari misinformasi, sekaligus memastikan langkah penataan lingkungan ke depan lebih tepat sasaran.

Koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah disebut akan diperkuat untuk memantau kondisi hutan dan aliran sungai. Pencegahan bencana serupa di masa depan juga menjadi perhatian serius pemerintah melalui langkah mitigasi jangka panjang, seperti penghijauan kembali, penataan kawasan rawan bencana, serta peningkatan edukasi kebencanaan bagi masyarakat.

Dengan adanya investigasi komprehensif, diharapkan pemerintah dapat memberikan jawaban pasti terkait isu yang berkembang, sekaligus memperkuat komitmen terhadap perlindungan lingkungan dan keselamatan warga di wilayah rawan banjir bandang. (Timred/CN)