
PALEMBANG, cimutnews.co.id — Penggunaan momen Iduladha untuk memperkuat solidaritas sosial kembali digaungkan Pemerintah Kota Palembang. Namun di tengah suasana religius dan penuh kebersamaan di Masjid Agung Palembang, sejumlah warga mulai menyoroti bagaimana distribusi hewan kurban benar-benar dirasakan secara merata di lapangan.
Ribuan jemaah memadati kawasan Masjid Agung Palembang saat pelaksanaan Salat Iduladha 1447 Hijriah, Jumat pagi. Kehadiran Wali Kota Palembang Ratu Dewa bersama Wakil Wali Kota Prima Salam menambah suasana hangat di tengah gema takbir, tahmid, dan tahlil yang menggema sejak pagi.
Dalam sambutannya, Ratu Dewa mengajak masyarakat memaknai Iduladha bukan sekadar penyembelihan hewan kurban, tetapi momentum memperbesar kepedulian sosial dan mengendalikan ego pribadi.
“Hari ini kita hadir bukan hanya untuk menunaikan Salat Id, tetapi juga untuk memaknai arti pengorbanan,” ujar Ratu Dewa di hadapan ribuan jemaah.
Ia menegaskan bahwa pembangunan Kota Palembang tidak hanya soal fisik dan infrastruktur, tetapi juga soal akhlak, kebersamaan, dan kepedulian antarsesama.
Namun fakta di lapangan menunjukkan, persoalan distribusi kurban masih menjadi perhatian sebagian masyarakat setiap momentum Iduladha tiba.
Usai pelaksanaan salat, rombongan pemerintah kota meninjau lokasi penyembelihan hewan kurban, termasuk seekor sapi simental berbobot sekitar 1,4 ton yang dipusatkan di area tersebut sebelum nantinya didistribusikan kepada masyarakat penerima.
Pemerintah mengimbau agar pembagian daging kurban dilakukan tertib dan tepat sasaran. Meski demikian, sejumlah warga mengaku masih mempertanyakan pemerataan distribusi di beberapa lingkungan padat penduduk.
“Biasanya ramai saat simbolis penyerahan, tapi kadang ada warga yang belum kebagian atau dapat belakangan,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan sebagian masyarakat yang mengaku distribusi tahun ini lebih tertib dibanding sebelumnya. Beberapa masjid mulai menggunakan kupon dan pendataan penerima untuk menghindari penumpukan massa.
Situasi ini menunjukkan bahwa semangat Iduladha tidak hanya berhenti pada seremoni dan penyembelihan hewan kurban, tetapi juga menyangkut efektivitas penyaluran kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
Hal ini menimbulkan pertanyaan, sejauh mana sistem distribusi kurban di Kota Palembang sudah mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat secara merata?
Pengamat sosial lokal menilai, transparansi data penerima dan pola distribusi menjadi faktor penting agar momentum Iduladha tidak hanya terlihat besar secara simbolik, tetapi juga berdampak nyata bagi warga.
Selain itu, kepadatan masyarakat saat pembagian kurban juga dinilai masih menjadi tantangan tahunan yang membutuhkan pengawasan lebih ketat agar tidak memicu kericuhan ataupun ketimpangan penerima.
Hingga kini, belum semua persoalan distribusi kurban dapat dipastikan berjalan tanpa kendala di seluruh wilayah Kota Palembang. Di tengah semangat kebersamaan yang terus digaungkan, masyarakat masih menunggu apakah pemerataan manfaat kurban benar-benar bisa dirasakan seluruh warga pada tahun-tahun mendatang. (Poerba)

















