Beranda OKI Mandira Tradisi Midang Morge Siwe OKI, Ini Makna dan Daya Tariknya Saat Lebaran

Tradisi Midang Morge Siwe OKI, Ini Makna dan Daya Tariknya Saat Lebaran

54
0
1. Arak-arakan peserta mengenakan busana adat dalam Tradisi Midang Morge Siwe di Kayuagung, OKI, Sumatera Selatan saat Lebaran 2026.(Foto:Asep/cimutnews.co.id)

OKI, cimutnews.co.id — Tradisi Midang Morge Siwe di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, kembali digelar saat Idul Fitri 2026 di Kayuagung sebagai arak-arakan budaya yang melibatkan masyarakat dan pemerintah daerah. Tradisi ini berlangsung pada hari ketiga dan keempat Lebaran, menghadirkan 11 kelurahan dengan tujuan mempererat silaturahmi sekaligus melestarikan warisan budaya.

Tradisi Midang Morge Siwe di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, kembali digelar saat Idul Fitri 2026 (foto:Asep/cimutnews.co.id)

Tradisi Midang Morge Siwe menjadi momen yang selalu dinanti masyarakat Kayuagung, terutama para perantau yang pulang kampung. Arak-arakan panjang yang berjalan kaki ini menampilkan kekayaan budaya lokal melalui busana adat dan iringan musik tradisional.

Kegiatan yang digelar di kawasan Pantai Love, tepian Sungai Komering, pada Senin (23/3/2026) berlangsung meriah dengan kehadiran Sekretaris Daerah Sumsel H. Edward Candra dan Bupati OKI H. Muchendi Mahzareki. Ribuan warga tampak memadati lokasi, menjadikan suasana penuh warna dan kebersamaan.

“Kita bersyukur kegiatan budaya kebanggaan Midang Morge Siwe dapat terus dilaksanakan dan menjadi warisan budaya tak benda Indonesia,” ujar Edward Candra dalam sambutannya.

Dalam arak-arakan, peserta tampil mengenakan busana adat khas Kayuagung seperti Maju Setakatan, Maju Inti, Bengian Inti, hingga Manjau Kahwin. Kain songket, selendang, dan hiasan kepala menjadi simbol identitas budaya yang kuat.

Midang sendiri memiliki dua bentuk utama, yakni Midang Begorok yang digelar dalam hajatan seperti pernikahan, serta Midang Bebuke yang dilaksanakan saat Lebaran dan lebih dikenal luas oleh masyarakat.

Makna Tradisi Midang Morge Siwe di OKI

Tradisi Midang Morge Siwe tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarat nilai budaya seperti kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan kepada leluhur yang terus dijaga secara turun-temurun.

Dalam adat pernikahan Kayuagung, Midang juga menjadi bagian dari rangkaian mabang handak, yaitu tahap kesepakatan menuju pernikahan, di mana calon pengantin diperkenalkan kepada masyarakat sebagai bentuk pengakuan sosial.

Baca juga  OKI Intervensi Cegah Stunting Secara Serentak

Dampak Tradisi Midang bagi Pariwisata OKI

Pemerintah daerah menilai tradisi Midang Morge Siwe memiliki potensi besar dalam mendorong sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di OKI. Antusiasme masyarakat dan pengunjung menunjukkan daya tarik budaya ini semakin meningkat.

“Diharapkan kegiatan ini dapat mendorong kemajuan di bidang pariwisata, terutama ekonomi kreatif,” kata Bupati OKI Muchendi Mahzareki.

Kegiatan ini juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam melestarikan warisan budaya tak benda sekaligus mengembangkan potensi daerah berbasis kearifan lokal.

Respons masyarakat terhadap tradisi ini sangat positif, terutama sebagai ruang temu antara warga lokal dan perantau yang pulang kampung saat Lebaran.

Ke depan, pemerintah daerah berharap tradisi Midang Morge Siwe dapat terus dikemas lebih inovatif dan menarik, sehingga mampu menjadi agenda budaya berskala nasional hingga internasional, tanpa menghilangkan nilai kearifan lokal yang menjadi identitas masyarakat Kayuagung.

OKI, cimutnews.co.id — Tradisi Midang Morge Siwe di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, kembali digelar saat Idul Fitri 2026 di Kayuagung sebagai arak-arakan budaya yang melibatkan masyarakat dan pemerintah daerah. Tradisi ini berlangsung pada hari ketiga dan keempat Lebaran, menghadirkan 11 kelurahan dengan tujuan mempererat silaturahmi sekaligus melestarikan warisan budaya.

Tradisi Midang Morge Siwe menjadi momen yang selalu dinanti masyarakat Kayuagung, terutama para perantau yang pulang kampung. Arak-arakan panjang yang berjalan kaki ini menampilkan kekayaan budaya lokal melalui busana adat dan iringan musik tradisional.

Kegiatan yang digelar di kawasan Pantai Love, tepian Sungai Komering, pada Senin (23/3/2026) berlangsung meriah dengan kehadiran Sekretaris Daerah Sumsel H. Edward Candra dan Bupati OKI H. Muchendi Mahzareki. Ribuan warga tampak memadati lokasi, menjadikan suasana penuh warna dan kebersamaan.

Baca juga  Ratusan Petugas Kebersihan di OKI Terima Zakat

“Kita bersyukur kegiatan budaya kebanggaan Midang Morge Siwe dapat terus dilaksanakan dan menjadi warisan budaya tak benda Indonesia,” ujar Edward Candra dalam sambutannya.

Dalam arak-arakan, peserta tampil mengenakan busana adat khas Kayuagung seperti Maju Setakatan, Maju Inti, Bengian Inti, hingga Manjau Kahwin. Kain songket, selendang, dan hiasan kepala menjadi simbol identitas budaya yang kuat.

Midang sendiri memiliki dua bentuk utama, yakni Midang Begorok yang digelar dalam hajatan seperti pernikahan, serta Midang Bebuke yang dilaksanakan saat Lebaran dan lebih dikenal luas oleh masyarakat.

Makna Tradisi Midang Morge Siwe di OKI

Tradisi Midang Morge Siwe tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarat nilai budaya seperti kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan kepada leluhur yang terus dijaga secara turun-temurun.

Dalam adat pernikahan Kayuagung, Midang juga menjadi bagian dari rangkaian mabang handak, yaitu tahap kesepakatan menuju pernikahan, di mana calon pengantin diperkenalkan kepada masyarakat sebagai bentuk pengakuan sosial.

Dampak Tradisi Midang bagi Pariwisata OKI

Pemerintah daerah menilai tradisi Midang Morge Siwe memiliki potensi besar dalam mendorong sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di OKI. Antusiasme masyarakat dan pengunjung menunjukkan daya tarik budaya ini semakin meningkat.

“Diharapkan kegiatan ini dapat mendorong kemajuan di bidang pariwisata, terutama ekonomi kreatif,” kata Bupati OKI Muchendi Mahzareki.

Kegiatan ini juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam melestarikan warisan budaya tak benda sekaligus mengembangkan potensi daerah berbasis kearifan lokal.

Respons masyarakat terhadap tradisi ini sangat positif, terutama sebagai ruang temu antara warga lokal dan perantau yang pulang kampung saat Lebaran.

Ke depan, pemerintah daerah berharap tradisi Midang Morge Siwe dapat terus dikemas lebih inovatif dan menarik, sehingga mampu menjadi agenda budaya berskala nasional hingga internasional, tanpa menghilangkan nilai kearifan lokal yang menjadi identitas masyarakat Kayuagung. (Asep)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here