Beranda Palembang Vaksinasi DBD Digencarkan, Tapi Ancaman Nyamuk Masih Menghantui Palembang

Vaksinasi DBD Digencarkan, Tapi Ancaman Nyamuk Masih Menghantui Palembang

18
0
Petugas kesehatan melakukan vaksinasi DBD kepada siswa di salah satu sekolah di Palembang. (Foto: Poerba/cimutnews.co.id)

PALEMBANG, cimutnews.co.id — Upaya Pemerintah Kota Palembang menekan penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) kini mulai diperkuat lewat program vaksinasi anak di sekolah-sekolah. Ribuan siswa sudah menerima suntikan vaksin, namun ancaman penyakit yang setiap tahun muncul saat musim hujan itu dinilai masih belum sepenuhnya mereda.

Di tengah tingginya mobilitas warga dan kondisi lingkungan yang belum merata bebas dari sarang nyamuk, muncul pertanyaan: apakah vaksinasi saja cukup untuk menahan laju kasus DBD di Kota Palembang?

Dinas Kesehatan Kota Palembang mencatat hingga 6 Mei 2026 sebanyak lebih dari 4.500 anak dari 41 sekolah telah menerima vaksinasi DBD dosis pertama. Program tersebut menjadi bagian dari langkah pencegahan yang diperkuat menyusul masih tingginya kasus DBD di Sumatera Selatan.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Palembang, dr. Fenty Aprina, mengatakan risiko penularan DBD meningkat saat musim hujan karena menjadi periode berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti. Karena itu, pemerintah tidak hanya mengandalkan gerakan pemberantasan sarang nyamuk, tetapi juga mulai memperluas perlindungan melalui vaksinasi pada kelompok rentan, terutama anak-anak.

Menurut data Kementerian Kesehatan hingga Desember 2025, tercatat lebih dari 2.600 kasus DBD terjadi di Sumatera Selatan. Kota Palembang disebut menjadi salah satu wilayah dengan angka kasus cukup tinggi sehingga membutuhkan langkah penanganan yang lebih serius dan berkelanjutan.

Program vaksinasi tersebut dijalankan bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan serta Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Selain vaksinasi, dilakukan pula pemantauan kesehatan secara aktif terhadap anak-anak peserta program.

Pemantauan itu bersifat sukarela dan dilakukan berkala untuk melihat kondisi kesehatan anak setelah menerima vaksin. Pemerintah menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari penguatan sistem deteksi dini terhadap potensi kasus DBD.

Baca juga  Semangat Kebangkitan Digelorakan, Tapi Kesiapan Generasi Digital Belum Merata

Namun fakta di lapangan menunjukkan persoalan DBD di Palembang tidak hanya berkaitan dengan vaksinasi. Di sejumlah kawasan padat penduduk, genangan air dan sanitasi lingkungan masih menjadi persoalan klasik yang kerap ditemukan warga saat musim hujan tiba.

Sejumlah warga mengaku masih menemukan banyak titik rawan perkembangbiakan nyamuk, terutama di lingkungan permukiman padat dan saluran air yang kurang terawat. Kondisi ini dinilai membuat upaya pengendalian DBD belum sepenuhnya merata.

Di sisi lain, kesadaran masyarakat terhadap pola hidup bersih memang mulai meningkat, tetapi belum semua lingkungan memiliki pengawasan rutin terkait pemberantasan sarang nyamuk. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas pengawasan jangka panjang di tingkat lingkungan warga.

Program Gerakan 3M Plus dan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J) sebenarnya telah lama dijalankan pemerintah. Namun hingga kini, kasus DBD masih terus muncul hampir setiap tahun dengan pola yang relatif serupa.

Dr. Fenty menegaskan keberhasilan pengendalian DBD tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah atau tenaga kesehatan semata. Menurutnya, keterlibatan sekolah, orang tua, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam memutus rantai penyebaran penyakit tersebut.

“Melalui kolaborasi ini, upaya pencegahan DBD diharapkan semakin kuat sehingga mampu memberikan perlindungan yang lebih optimal bagi anak-anak dan masyarakat luas,” ujarnya, Selasa (2/6/2026).

Program vaksinasi itu sendiri mendapat respons cukup positif dari masyarakat. Tingginya partisipasi orang tua dan dukungan sekolah disebut menjadi sinyal meningkatnya kesadaran terhadap pentingnya pencegahan DBD sejak dini.

Meski demikian, tantangan pengendalian DBD di Palembang diperkirakan masih cukup besar. Selain faktor lingkungan, perubahan cuaca dan kepadatan permukiman juga dinilai berpotensi memengaruhi penyebaran penyakit tersebut.

Hingga kini, belum semua kawasan dinilai memiliki kesiapan yang sama dalam menjalankan pengawasan lingkungan secara konsisten. Di tengah gencarnya program vaksinasi, efektivitas pengendalian DBD jangka panjang pun masih akan sangat bergantung pada perubahan perilaku masyarakat dan pengawasan di lapangan.

Baca juga  Dandim 0418 Palembang Hadiri Jalan Santai Kodam II Sriwijaya, Perkuat Kebugaran dan Soliditas Prajurit

Apakah langkah vaksinasi dan pemantauan kesehatan ini mampu benar-benar menekan lonjakan kasus DBD di Palembang, atau justru masih menyisakan celah yang belum teratasi sepenuhnya? (Poerba)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here