Beranda 100 WAJAH DAERAH #001 Dr. H. Ahmad Bermawi, S.Pd., M.Pd

100 WAJAH DAERAH #001 Dr. H. Ahmad Bermawi, S.Pd., M.Pd

Dari Lapangan Madrasah hingga Gelar Doktor: Perjalanan Ahmad Bermawi Mengawal Mutu Pendidikan Sumsel

PEDULI DAERAH | 100 WAJAH DAERAH #001

Ada cerita yang lebih panjang daripada sekadar sebuah gelar.

Di balik nama Dr. H. Ahmad Bermawi, S.Pd., M.Pd., terdapat perjalanan panjang seorang pendidik yang bertahun-tahun bersentuhan langsung dengan dunia madrasah di Sumatera Selatan.

Pada 22 Juni 2026, perjalanan akademik itu mencapai salah satu titik penting. Ahmad Bermawi berhasil mempertahankan disertasinya dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor Program Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang.

Namun, bagi Ahmad, gelar doktor bukan sekadar tambahan di depan nama.

Ada proses yang harus dilewati. Ada pekerjaan yang tetap berjalan. Ada penelitian yang harus diselesaikan di tengah kesibukan. Dan ada keluarga yang terus menjadi tempat bersandar ketika perjalanan mulai terasa berat.

Inilah cerita Ahmad Bermawi dalam 100 Wajah Daerah #001.


Bukan Sekadar Gelar Doktor

Ujian Terbuka Promosi Doktor tersebut berlangsung di Ruang Seminar Lantai 3 Gedung A Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang.

Ahmad mengangkat disertasi berjudul:

“Evaluasi Program Madrasah Education Quality Reform pada Kementerian Agama di Sumatera Selatan.”

Tema tersebut tidak lahir dari ruang akademik semata.

Penelitian itu memiliki hubungan erat dengan pengalaman Ahmad selama mendampingi peningkatan mutu pendidikan madrasah di Sumatera Selatan.

Dalam proses akademiknya, Ahmad dibimbing oleh Promotor Prof. Dr. Ahmad Zainuri, M.Pd.I. dan Co-Promotor Prof. Dr. Muhammad Isnaini, S.Ag., M.Pd.

Sementara tim penguji terdiri atas:

  1. Prof. Dr. Amilda, M.A.
  2. Prof. Dr. Abdurrahmansyah, M.Ag.
  3. Dr. Hartatiana, M.Pd.
  4. Prof. Dr. Annisa Astrid, M.Pd.

Dengan demikian, gelar doktor yang diraihnya menjadi bagian dari perjalanan panjangnya di dunia pendidikan, khususnya dalam pengembangan mutu madrasah.


Dari Ruang Akademik ke Lapangan Madrasah

Nama Ahmad Bermawi sebenarnya sudah cukup dikenal di lingkungan pendidikan madrasah.

Sebelum meraih gelar doktor, ia telah menjalani aktivitas sebagai pengawas madrasah dan terlibat dalam pendampingan berbagai kebutuhan pendidikan.

Pekerjaan tersebut tidak selalu berlangsung di balik meja.

Ada guru yang harus didampingi.

Ada program madrasah yang harus dibahas.

Ada persoalan pendidikan yang harus dicarikan jalan keluarnya.

Ada pula kebutuhan masing-masing madrasah yang tidak selalu sama.

Dalam bahan wawancara yang disampaikan kepada CimutNews.co.id, Ahmad menggambarkan aktivitas tersebut sebagai bagian dari kesehariannya.

“Hampir setiap hari saya berada di lapangan. Kadang harus mendampingi guru, menghadiri rapat, atau menyelesaikan berbagai persoalan pendidikan. Karena itu, proses studi doktor ini tidak mudah.”

Kalimat tersebut memperlihatkan satu hal: perjalanan akademiknya berlangsung bersamaan dengan tanggung jawab profesional yang tetap harus dijalankan.


Prestasi Nasional yang Menguatkan Jejaknya

Perjalanan Ahmad tidak berhenti pada aktivitas pendampingan madrasah.

Pada 2025, ia menerima Anugerah Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah Kementerian Agama Republik Indonesia dalam kategori Tendik Inovatif – Pengawas Madrasah Berprestasi.

Penghargaan tersebut diserahkan pada momentum puncak peringatan Hari Guru Nasional dan Hari Amal Bhakti Kementerian Agama.

Bagi Ahmad, capaian tersebut menjadi bagian dari perjalanan pengabdian di bidang pendidikan.

Namun menariknya, gelar doktor yang diraih pada 2026 datang setelah proses akademik yang tidak sederhana.

Artinya, dua capaian tersebut tidak berdiri sendiri.

Ada pengalaman lapangan, proses belajar, penelitian, pendampingan guru, serta perjalanan panjang yang saling berkaitan.


Ketika Cita-Cita Harus Berjalan Bersama Tugas

Tidak semua cita-cita dapat dicapai dalam waktu yang cepat.

Ahmad mengakui penyelesaian studi doktoralnya sempat mengalami beberapa kali penundaan.

Penyebabnya bukan karena cita-cita itu hilang.

Justru karena pada saat yang sama ia harus menjalankan tanggung jawab sebagai pengawas madrasah.

Waktu harus dibagi antara pekerjaan, pendampingan, rapat, persoalan pendidikan dan penelitian.

Di sinilah sisi lain dari perjalanan Ahmad menjadi menarik.

Gelar doktor yang terlihat pada akhirnya hanyalah satu titik.

Proses menuju titik itu jauh lebih panjang.

Dan proses tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan pendidikan seseorang tidak selalu berlangsung lurus tanpa hambatan.


Ada Keluarga di Balik Perjalanan Panjang Itu

Di balik capaian akademik Ahmad Bermawi, terdapat keluarga yang ikut memainkan peran penting.

Ia menyebut sang istri, Hj. Nurhayati, S.Ag., M.Pd., sebagai salah satu sumber dukungan selama proses tersebut.

Begitu pula kedua putranya, M. Rifqiba Abi dan M. Arif Adi Brata, S.Pd., M.Pd.

Dukungan tersebut menjadi semakin berarti ketika proses studi mulai terasa berat.

“Saya sangat bersyukur memiliki keluarga yang selalu mendukung. Ketika semangat mulai turun, mereka yang terus mengingatkan untuk menyelesaikan apa yang sudah dimulai.”

Kalimat itu mungkin sederhana.

Namun di baliknya ada gambaran tentang bagaimana sebuah pencapaian akademik tidak selalu lahir dari perjuangan seorang diri.

Ada keluarga yang menunggu.

Ada orang-orang terdekat yang memberikan semangat.

Dan ada komitmen untuk menyelesaikan sesuatu yang sudah dimulai.


Apa yang Bisa Dibawa Pulang untuk Pendidikan Daerah?

Gelar doktor bukanlah akhir dari perjalanan.

Justru setelah penelitian selesai, muncul pertanyaan berikutnya:

Apa yang bisa diberikan kembali kepada dunia pendidikan?

Tema disertasi Ahmad tentang evaluasi program peningkatan mutu madrasah menjadi relevan dengan persoalan pendidikan yang masih terus berkembang.

Peningkatan kualitas pembelajaran, kompetensi guru, pemerataan mutu, pengelolaan madrasah hingga pemanfaatan teknologi menjadi bagian dari tantangan yang harus dihadapi secara bersama.

Ahmad berharap hasil kajiannya dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan mutu madrasah, khususnya di Sumatera Selatan.

Menurutnya, peningkatan kualitas pendidikan tidak bisa dibebankan kepada satu pihak.

Pemerintah, pengelola madrasah, guru, orang tua dan masyarakat memiliki peran masing-masing.


Bukan Tentang Siapa yang Paling Hebat

Di sinilah 100 Wajah Daerah mencoba melihat sosok seperti Ahmad Bermawi dari sudut yang berbeda.

Bukan untuk menempatkan seorang tokoh sebagai sosok yang paling hebat.

Bukan pula sekadar membuat daftar orang berprestasi.

Melainkan untuk melihat cerita, perjalanan, gagasan dan kontribusi manusia yang hidup serta bekerja di tengah masyarakat daerah.

Ahmad Bermawi adalah salah satu wajah dari perjalanan panjang pendidikan di Sumatera Selatan.

Gelar doktor menjadi salah satu pencapaiannya.

Penghargaan nasional menjadi bagian dari rekam jejaknya.

Namun cerita tentang bagaimana semua itu dicapai justru menjadi bagian yang menarik untuk diketahui.