
PALEMBANG, cimutnews.co.id — Kebutuhan darah Palembang masih belum terpenuhi secara optimal. Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Palembang mencatat kebutuhan sekitar 7.000 kantong darah setiap bulan, namun ketersediaan baru mencapai 5.000 kantong, sehingga terjadi defisit sekitar 2.000 kantong.
Kondisi ini menjadi perhatian serius karena berdampak langsung pada layanan kesehatan, terutama bagi pasien yang membutuhkan transfusi darah secara rutin maupun darurat.
Kesenjangan Kebutuhan dan Ketersediaan Darah
Data PMI Kota Palembang
Ketua PMI Kota Palembang, Dewi Sastrani, mengungkapkan bahwa kebutuhan darah yang tinggi belum diimbangi dengan jumlah pendonor aktif.
Menurutnya, meskipun terjadi peningkatan kinerja pelayanan, termasuk layanan ambulans 24 jam, kebutuhan darah tetap menjadi tantangan utama yang harus dihadapi.
“Kebutuhan darah kita sekitar 7.000 kantong per bulan, sementara yang terpenuhi baru sekitar 5.000 kantong,” ujarnya dalam program Halo Palembang di PalTV, Senin (6/4/2026).
Kronologi dan Upaya PMI Mengatasi Kekurangan
Edukasi dan Perubahan Pola Pikir
PMI Palembang terus melakukan berbagai upaya untuk menekan kekurangan stok darah.
Langkah yang dilakukan antara lain:
- Sosialisasi donor darah rutin
- Kolaborasi dengan komunitas dan instansi
- Peningkatan layanan donor mobile
Menurut Dewi, salah satu tantangan utama adalah pola pikir masyarakat yang masih menganggap donor darah hanya dilakukan saat kondisi darurat.
“Donor darah harus menjadi gaya hidup, bukan hanya kebutuhan sesaat,” tegasnya.
Standar Keamanan dan Kualitas Darah
Terapkan Standar CPOB
Dalam menjaga kualitas darah, PMI Kota Palembang menerapkan standar ketat sesuai regulasi dari Badan POM, yaitu Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB).
Proses pengelolaan darah meliputi:
- Skrining donor
- Pengujian laboratorium
- Penyimpanan dan distribusi
Menurut pihak PMI, sistem manajemen mutu dijalankan secara menyeluruh untuk memastikan darah yang diterima masyarakat aman dan layak digunakan.
Dampak Kekurangan Stok Darah
Risiko terhadap Layanan Kesehatan
Kekurangan sekitar 2.000 kantong darah setiap bulan berpotensi berdampak pada berbagai layanan kesehatan, seperti:
- Penanganan pasien operasi
- Kebutuhan transfusi pasien kronis
- Kondisi darurat kecelakaan
Jika tidak diantisipasi, kondisi ini dapat memperlambat pelayanan medis dan meningkatkan risiko bagi pasien.
Tantangan Donor Darah di Indonesia
Tren Kebutuhan yang Terus Meningkat
Secara nasional, kebutuhan darah di Indonesia terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah penduduk dan layanan kesehatan.
Banyak daerah mengalami kondisi serupa, yakni kekurangan stok darah akibat rendahnya tingkat partisipasi donor rutin.
Dibandingkan standar ideal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jumlah pendonor aktif di Indonesia masih perlu ditingkatkan agar kebutuhan darah dapat terpenuhi secara stabil.
Kunci Ada pada Partisipasi Masyarakat
Permasalahan kekurangan darah di Palembang bukan semata persoalan distribusi, tetapi lebih pada ketersediaan donor aktif. Tanpa perubahan perilaku masyarakat, kesenjangan antara kebutuhan dan stok akan terus terjadi.
Dalam jangka pendek, kampanye donor darah dan mobilisasi komunitas menjadi solusi utama. Namun dalam jangka panjang, diperlukan strategi yang lebih sistematis, seperti integrasi donor darah dalam program kesehatan rutin dan edukasi sejak usia dini.
Selain itu, peran generasi muda menjadi sangat penting. Dengan jumlah yang besar dan mobilitas tinggi, mereka berpotensi menjadi tulang punggung gerakan donor darah berkelanjutan.
Krisis stok darah bukan hanya persoalan medis, tetapi cerminan tingkat kepedulian sosial masyarakat—semakin tinggi partisipasi donor, semakin kuat sistem kesehatan suatu daerah.
Kebutuhan darah Palembang yang mencapai 7.000 kantong per bulan menjadi tantangan serius yang membutuhkan perhatian bersama. Dengan kekurangan sekitar 2.000 kantong, peran masyarakat sebagai pendonor aktif menjadi kunci utama dalam menjaga ketersediaan darah.
PMI Kota Palembang mengajak seluruh lapisan masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menjadikan donor darah sebagai bagian dari gaya hidup demi mendukung layanan kesehatan yang lebih baik dan menyelamatkan lebih banyak nyawa. (Poerba)


















