Beranda Penukal Abab Lematang Ilir Terungkap, Limbah Panen yang Dulu Jadi Asap Kini Jadi Sumber Uang

Terungkap, Limbah Panen yang Dulu Jadi Asap Kini Jadi Sumber Uang

11
0
Petani Desa Pengabuan menunjukkan hasil olahan limbah jerami yang kini memiliki nilai jual ekonomi. (Foto:Edi/cimutnews.co.id)

PALI, cimutnews.co.id — Tumpukan jerami yang selama bertahun-tahun dianggap limbah kini mulai memiliki nilai ekonomi di Desa Pengabuan, Kabupaten PALI, Sumatera Selatan.

Melalui program Pertanian Mandiri Desa Tangguh (PERMATA) yang dijalankan Pertamina EP Adera Field, para petani mulai mengolah sisa batang dan daun padi menjadi produk bernilai jual.

Produk tersebut mulai dari briket hingga wadah ramah lingkungan pengganti plastik.

Namun fakta di lapangan menunjukkan persoalan limbah jerami sebelumnya bukan hal kecil bagi petani.

Selama bertahun-tahun, sebagian besar jerami hasil panen hanya dibakar karena dianggap tidak memiliki manfaat ekonomis.

Jerami Empat Ton per Hektare Pernah Jadi Beban

Seorang petani dari Kelompok Tani Barokah, Sarbeni, mengaku limbah jerami di desanya bisa mencapai empat ton per hektare.

Karena keterbatasan pengetahuan dan fasilitas, petani selama ini memilih cara paling cepat, yakni membakar jerami setelah panen selesai.

Padahal, praktik tersebut diduga ikut memicu pencemaran udara dan berdampak pada lingkungan sekitar.

“Dulu jerami cuma jadi sampah. Habis panen ya dibakar,” ujar Sarbeni, Selasa (19/5/2026).

Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan petani setelah mendapatkan pelatihan pengolahan limbah jerami dari Pertamina EP Adera Field pada 2025.

Petani mulai dikenalkan pada proses produksi briket dan wadah ramah lingkungan berbahan dasar jerami.

Pendapatan Petani Disebut Meningkat Tajam

Perubahan paling terasa disebut terjadi pada sisi ekonomi masyarakat.

Sebelumnya, rata-rata pendapatan petani di Desa Pengabuan hanya sekitar Rp1,7 juta per orang per bulan.

Jumlah itu bahkan disebut masih berada di bawah standar upah minimum di Kabupaten PALI.

Namun setelah pengolahan limbah jerami berjalan, rata-rata pendapatan 60 petani dari tiga kelompok tani diklaim meningkat menjadi sekitar Rp3,9 juta per bulan.

Baca juga  Festival Candi Bumi Ayu 2025 Resmi Dibuka: UMKM PALI Tampil Unggul di Dua Lokasi Pameran Dagang

“Jerami yang dulu cuma jadi sampah ternyata bisa bawa berkah. Ngebulnya enggak lagi di sawah, alhamdulillah ngebulnya di dapur karena pemasukan nambah,” kata Sarbeni.

Namun fakta di lapangan menunjukkan tantangan program pemberdayaan semacam ini biasanya muncul setelah fase pendampingan awal selesai.

Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah para petani nantinya mampu menjaga kualitas produksi dan pasar secara mandiri?

Sampah Plastik dan Pembakaran Jadi Sorotan

Selain soal ekonomi, program ini juga diklaim memiliki dampak lingkungan.

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2024 mencatat timbunan sampah di Kabupaten PALI mencapai 38.730 ton per tahun.

Dari jumlah tersebut, sekitar 8.404 ton merupakan sampah plastik.

Karena itu, wadah ramah lingkungan berbahan dasar jerami dinilai bisa menjadi alternatif untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

Program ini juga diperkirakan berpotensi menurunkan emisi karbon hingga 18 ton CO2 per tahun karena berkurangnya praktik pembakaran jerami.

Namun fakta di lapangan menunjukkan perubahan pola pikir petani tidak selalu mudah dilakukan.

Sejumlah warga mengaku masih ada petani yang memilih membakar jerami karena dianggap lebih praktis dan cepat membersihkan lahan.

Perusahaan Klaim Dorong Kemandirian Desa

Manager Community Involvement and Development (CID) PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), Iwan Ridwan Faizal, menyebut Desa Pengabuan menjadi contoh bagaimana perubahan bisa dimulai dari keresahan warga.

Menurutnya, program PERMATA hadir untuk membantu menyelesaikan persoalan lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar wilayah operasi perusahaan.

“Kami ingin memastikan kehadiran perusahaan menjadi pendorong bagi masyarakat untuk mandiri melalui pemberdayaan berkelanjutan,” ujar Iwan.

Di sisi lain, sejumlah pengamat pemberdayaan masyarakat menilai keberhasilan program seperti ini sangat bergantung pada keberlanjutan pasar dan konsistensi pendampingan.

Baca juga  Dua Atlit FPTI PALI Raih Medali di Kejuaraan Nasional HIMPALA Bahtera Buana 2025

Sebab tidak sedikit program serupa yang berjalan baik di awal, namun perlahan berhenti ketika dukungan berkurang.

Harapan Baru dari Limbah yang Pernah Dianggap Tak Berguna

Kini, jerami yang dulu identik dengan asap pembakaran mulai berubah menjadi sumber harapan baru bagi warga Desa Pengabuan.

Bagi sebagian petani, perubahan ini bukan sekadar soal tambahan penghasilan.

Lebih dari itu, ada rasa bahwa limbah pertanian yang selama ini dianggap tak berguna ternyata bisa menjadi jalan pemberdayaan ekonomi desa.

Hingga kini, belum semua wilayah pertanian di Sumsel memiliki inovasi serupa dalam mengolah limbah panen.

Apakah program ini akan menjadi model baru pertanian ramah lingkungan di daerah lain, atau justru berhenti sebagai proyek sesaat? Waktu yang akan menjawab. (Edi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here