Beranda Musi Banyuasin Operasi Pasar Murah Digelar, Namun Dampaknya Belum Merata Fakta Lapangan: Antusias Tinggi,...

Operasi Pasar Murah Digelar, Namun Dampaknya Belum Merata Fakta Lapangan: Antusias Tinggi, Tapi Akses Masih Terbatas

11
0
Paket sembako subsidi yang dijual dalam program pasar murah (Foto:Timred/CN)

MUSI BANYUASIN, cimutnews.co.id — Program Operasi Pasar Murah kembali digelar Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) dengan klaim membantu menekan harga dan menjaga daya beli warga.

Namun di lapangan, kondisi yang muncul tidak sepenuhnya sejalan dengan harapan tersebut.

Lalu, apakah program ini benar-benar sudah dirasakan merata oleh masyarakat?

Kegiatan Operasi Pasar Murah digelar secara maraton dan terbaru menyasar Kecamatan Lawang Wetan, Kamis (23/4/2026).

Sejak pagi, ratusan warga terlihat memadati halaman kantor kecamatan untuk mendapatkan bahan pokok dengan harga lebih rendah.

Paket sembako berupa beras SPHP 5 kilogram dan tepung terigu 1 kilogram dijual Rp59.000 setelah subsidi dari harga awal Rp74.000.

Selain itu, LPG 3 kilogram juga tersedia dengan harga Rp21.000 per tabung sesuai ketentuan.

Bupati Muba H. M. Toha Tohet melalui Staf Ahli Bidang Pembangunan, H. Akhmad Toyibir, menyebut program ini sebagai langkah strategis menjaga stabilitas ekonomi.

Menurutnya, operasi pasar bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi bagian dari upaya menekan inflasi daerah.

“Ini bentuk kehadiran pemerintah di tengah masyarakat agar kebutuhan pokok tetap terjangkau,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Muba, Hendra Tris Tomy, menambahkan kegiatan ini melibatkan berbagai pihak seperti Bulog, Bank Sumsel Babel, hingga Pertamina Patra Niaga.

Namun fakta di lapangan menunjukkan, tidak semua warga bisa menikmati program tersebut secara optimal.

Kerumunan panjang dan keterbatasan kuota membuat sebagian warga harus pulang tanpa mendapatkan paket sembako.

Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan oleh warga yang datang lebih awal—mereka bisa mendapatkan harga murah, sementara lainnya hanya menjadi penonton.

Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah distribusi program sudah benar-benar merata atau masih bersifat terbatas di titik tertentu saja

Baca juga  Banyuasin Percepat Transformasi Digital, Targetkan Kota dan Desa Digital Mandiri

Sejumlah warga mengaku terbantu, namun juga menyampaikan kendala.

“Sangat membantu, tapi harus datang pagi sekali. Kalau telat sedikit, sudah habis,” ujar salah satu warga yang ditemui di lokasi.

Warga lain menyebut antrean panjang menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi lansia.

“Ada yang sudah antre lama, tapi tidak kebagian,” ungkapnya.

Secara konsep, operasi pasar murah memang menjadi solusi jangka pendek untuk menekan harga.

Namun efektivitasnya sangat bergantung pada distribusi dan ketersediaan stok.

Jika kuota terbatas sementara permintaan tinggi, maka manfaat program berpotensi tidak merata.

Selain itu, pola kegiatan yang terpusat di satu titik juga diduga membuat akses menjadi tidak inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.

Hingga kini, belum semua warga merasakan dampak program secara merata, terutama di wilayah dengan jumlah penduduk besar.

Program ini masih berjalan dan akan diperluas ke kecamatan lain di Muba.

Namun kondisi di lapangan menunjukkan masih adanya celah antara harapan dan realita.

Apakah ke depan distribusi akan diperbaiki agar lebih merata, atau justru pola yang sama akan terus berulang? (Timred/CN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here