Beranda Palembang Donor Darah Digencarkan, Tapi Kebutuhan 2.000 Kantong per Bulan Masih Menghantui

Donor Darah Digencarkan, Tapi Kebutuhan 2.000 Kantong per Bulan Masih Menghantui

10
0
Penandatanganan kerja sama donor darah antara PMI Kota Palembang dan Sekretariat Daerah Kota Palembang di Ruang Rapat Parameswara. (Foto: Poerba/cimutnews.co.id)

PALEMBANG, cimutnews.co.id — Ketersediaan darah menjadi salah satu kebutuhan vital yang tak pernah berhenti di Kota Palembang. Setiap hari, rumah sakit membutuhkan pasokan darah untuk pasien kecelakaan, operasi, ibu melahirkan hingga penderita penyakit tertentu.

Di tengah kebutuhan yang terus meningkat itu, Pemerintah Kota Palembang melalui Sekretariat Daerah (Setda) bersama Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Palembang menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) kegiatan donor darah, Kamis (4/6), di Ruang Rapat Parameswara Setda Kota Palembang.

Penandatanganan kerja sama tersebut sekaligus dirangkai dengan aksi donor darah yang diikuti ratusan pegawai. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ketersediaan stok darah sekaligus menumbuhkan budaya donor darah rutin di lingkungan aparatur pemerintah.

Dalam kegiatan tersebut, tercatat sebanyak 105 pegawai dari total 508 ASN dan PPPK di lingkungan Setda Kota Palembang ikut mendonorkan darahnya.

Sekretaris Daerah Kota Palembang, Aprizal Hasyim, menilai donor darah bukan hanya bentuk kepedulian sosial, tetapi juga memberikan manfaat kesehatan bagi para pendonor.

Menurutnya, partisipasi yang cukup tinggi dalam kegiatan perdana tersebut menjadi sinyal positif bahwa kesadaran kemanusiaan di lingkungan aparatur pemerintah terus meningkat.

Namun di balik antusiasme tersebut, terdapat persoalan yang jauh lebih besar.

PMI Kota Palembang mengungkapkan kebutuhan darah di kota ini mencapai sekitar 2.000 kantong setiap bulan. Angka tersebut menunjukkan bahwa kegiatan donor darah sesekali belum cukup untuk menjawab kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan.

Ketua PMI Kota Palembang, Dewi Sastrani Ratu Dewa, berharap kerja sama yang telah ditandatangani tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata.

PMI mendorong agar donor darah di lingkungan Setda dapat dilakukan secara rutin setiap beberapa bulan sehingga mampu memberikan kontribusi nyata terhadap ketersediaan stok darah.

Baca juga  Pemkot Prabumulih Perkuat Sinergi Pusat-Daerah, Fokus Kendalikan Inflasi dan Dukung Program 3 Juta Rumah

Namun fakta di lapangan menunjukkan, kebutuhan darah sering kali mengalami fluktuasi yang dipengaruhi banyak faktor. Saat momen libur panjang, cuaca ekstrem, atau ketika jumlah pendonor menurun, stok darah di sejumlah daerah kerap berada dalam kondisi terbatas.

Di sisi lain, sejumlah pemerhati kesehatan menilai tantangan terbesar bukan hanya mencari pendonor baru, tetapi menjaga konsistensi donor rutin. Banyak warga yang bersedia mendonor sekali, namun belum tentu kembali mendonor dalam periode berikutnya.

Kondisi ini membuat PMI harus terus melakukan edukasi sekaligus membangun kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari instansi pemerintah, perusahaan swasta hingga organisasi masyarakat.

Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah program donor darah rutin yang mulai diperluas melalui kerja sama lintas lembaga mampu menjawab kebutuhan darah yang terus meningkat setiap bulan?

Berdasarkan temuan di lapangan, kegiatan donor darah masih sangat bergantung pada momentum tertentu seperti peringatan hari besar, kegiatan kantor atau agenda komunitas. Sementara kebutuhan pasien berlangsung setiap hari tanpa mengenal waktu.

Jika upaya menjaga pasokan darah tidak dilakukan secara berkelanjutan, risiko kekurangan stok dapat berdampak langsung pada pelayanan kesehatan masyarakat.

Karena itu, kerja sama antara PMI dan Setda Kota Palembang dinilai menjadi langkah awal yang penting. Namun keberhasilannya akan sangat ditentukan oleh konsistensi pelaksanaan di lapangan, bukan sekadar jumlah peserta pada satu kegiatan.

Hingga kini, belum semua kebutuhan darah dapat dipenuhi hanya melalui donor darah insidental. Di tengah tingginya kebutuhan masyarakat, keberlanjutan program dan kesadaran donor rutin masih menjadi pekerjaan rumah bersama.

Apakah kolaborasi yang mulai dibangun ini mampu menjadi solusi jangka panjang bagi kebutuhan darah di Palembang, atau justru kembali menghadapi tantangan lama berupa minimnya pendonor rutin?

Baca juga  Fahri Hamzah Hadir di Universitas IBA: Rumah Sehat Adalah Pilar Peradaban dan Kesejahteraan

Informasi dihimpun dari keterangan resmi PMI Kota Palembang, Pemerintah Kota Palembang, dan hasil penelusuran lapangan. (Poerba)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here