Beranda Palembang Desa Bersinar Didorong, Namun Tantangan di Lapangan Masih Ada

Desa Bersinar Didorong, Namun Tantangan di Lapangan Masih Ada

5
0
Suasana seminar Desa Bersinar di Hotel Aryaduta Palembang(Foto:timred/CN)

Terungkap: Program Anti Narkoba Digencarkan, Efektivitasnya Dipertanyakan

PALEMBANG, cimutnews.co.id — Program Desa Bersinar digadang-gadang menjadi solusi memerangi narkoba hingga tingkat desa.

Namun di balik dorongan besar tersebut, muncul pertanyaan tentang kesiapan dan dampak nyata di lapangan.

Lalu, apakah program ini sudah benar-benar berjalan efektif?

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan terus mendorong program Desa Bersinar (Bersih dari Narkoba) sebagai strategi utama pencegahan narkoba.

Program ini kembali disorot dalam seminar yang diikuti kepala desa se-Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), yang digelar di Hotel Aryaduta Palembang, Rabu (22/4/2026).

Kegiatan tersebut menghadirkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah hingga aparat penegak hukum, sebagai upaya memperkuat koordinasi lintas sektor.

Tema yang diangkat menekankan pentingnya menciptakan desa tangguh, aman, dan produktif tanpa penyalahgunaan narkoba.

Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, menyebut Desa Bersinar sebagai role model dalam memutus mata rantai narkoba.

Ia menegaskan bahwa desa merupakan lini terdepan dalam pencegahan.

“Kolaborasi semua pihak menjadi kunci agar peredaran narkoba bisa ditekan hingga ke akar,” ujarnya.

Ia juga mendorong peningkatan pemahaman hukum bagi aparatur desa agar lebih efektif dalam melakukan pencegahan.

Bahkan, program ini direncanakan akan diperluas ke sekitar 3.228 desa di Sumatera Selatan.

Namun fakta di lapangan menunjukkan, implementasi program semacam ini tidak selalu berjalan mulus.

Sejumlah pihak menilai, kegiatan masih didominasi seminar dan sosialisasi, sementara pengawasan langsung di tingkat desa diduga belum merata.

Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan di beberapa wilayah, di mana kasus penyalahgunaan narkoba masih ditemukan meski program sudah diperkenalkan.

Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah pendekatan yang dilakukan sudah menyentuh akar persoalan, atau masih sebatas penguatan di level wacana?

Baca juga  Testimoni Inspiratif Bapak Anes: UMPalembang Telah Menjadi Ladang Ilmu dan Pusat Pembentuk Karakter Bangsa

Sejumlah warga mengaku belum sepenuhnya memahami implementasi program tersebut di lingkungan mereka.

“Sering dengar soal Desa Bersinar, tapi di kampung belum terasa ada kegiatan khusus,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.

Perangkat desa juga menyebut masih membutuhkan pendampingan lebih lanjut.

“Kalau hanya seminar, kadang sulit diterapkan langsung. Perlu langkah konkret di lapangan,” ungkapnya.

Secara konsep, Desa Bersinar menjadi langkah strategis untuk pencegahan berbasis komunitas.

Namun efektivitasnya sangat bergantung pada konsistensi implementasi di tingkat desa.

Jika hanya berhenti pada sosialisasi, maka dampak jangka panjang berpotensi tidak maksimal.

Selain itu, tantangan seperti keterbatasan sumber daya manusia dan minimnya pengawasan berkelanjutan diduga menjadi faktor penghambat.

Hingga kini, belum semua desa menunjukkan kesiapan yang sama dalam menjalankan program tersebut.

Program Desa Bersinar terus didorong sebagai solusi jangka panjang memerangi narkoba.

Namun celah antara konsep dan pelaksanaan masih terlihat di sejumlah titik.

Apakah ke depan program ini akan benar-benar menjadi benteng kuat di tingkat desa, atau justru berhenti pada agenda seremonial semata? (Timred/CN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here