
Revitalisasi Dipercepat Namun Akses Warga Jadi Sorotan
MUSI BANYUASIN, cimutnews.co.id — Revitalisasi Jembatan Lalan di Kabupaten Musi Banyuasin resmi dipercepat.
Namun di balik target percepatan tersebut, muncul kekhawatiran baru dari masyarakat yang selama ini menggantungkan aktivitas harian pada jalur penghubung itu.
Pemkab Musi Banyuasin memutuskan menutup total akses Jembatan Lalan selama kurang lebih satu bulan. Kebijakan ini disebut sebagai langkah paling efektif agar proses pembangunan tidak terhambat.
Lalu, apakah percepatan proyek benar-benar menjadi solusi terbaik bagi masyarakat?
Jembatan Ditutup Demi Percepatan
Keputusan penutupan sementara itu disampaikan langsung Bupati Musi Banyuasin, M Toha Tohet, saat memimpin Rapat Percepatan Proses Fisik Revitalisasi Jembatan Lalan di Ruang Rapat Serasan Sekate, Rabu (29/4/2026).
Menurut pemerintah daerah, penutupan dilakukan agar pekerjaan konstruksi berjalan maksimal tanpa gangguan lalu lintas kendaraan.
“Ini pilihan antara cepat selesai atau tersendat. Jika tetap dibuka, pekerjaan akan terganggu,” ujar Bupati.
Pengerjaan revitalisasi saat ini memasuki tahapan pemancangan struktur penopang menggunakan metode steel pile shoring, yang disebut membutuhkan area steril dari kendaraan maupun aktivitas masyarakat.
Secara keseluruhan, proyek revitalisasi Jembatan Lalan ditargetkan selesai hingga Desember 2027.
Pernyataan Resmi: Pemkab Sebut Demi Keselamatan
Pemkab Muba memastikan kebijakan tersebut bukan untuk membatasi aktivitas warga, melainkan demi keselamatan dan keberlanjutan infrastruktur.
Bupati menegaskan pemerintah ingin jembatan kembali berfungsi dalam kondisi lebih aman dan layak digunakan masyarakat.
“Tidak ada niat menghambat aktivitas warga. Justru ini solusi agar jembatan bisa segera selesai dan kembali digunakan dengan aman,” tegasnya.
Pihak kontraktor juga mengaku siap memaksimalkan masa penutupan agar target percepatan tercapai.
Perwakilan kontraktor, Bagus, mengatakan Jembatan Lalan merupakan akses vital sehingga proses pengerjaan akan dioptimalkan selama penutupan berlangsung.
Namun Fakta di Lapangan Menunjukkan…
Meski pemerintah menyebut penutupan sebagai langkah percepatan, sejumlah warga mulai mempertanyakan dampak langsung terhadap mobilitas harian mereka.
Berdasarkan temuan di lapangan, aktivitas masyarakat di kawasan Lalan selama ini sangat bergantung pada akses jembatan tersebut, terutama untuk distribusi hasil perkebunan, kebutuhan pasar, hingga perjalanan antarwilayah.
Namun fakta di lapangan menunjukkan sebagian warga mengaku belum mendapat penjelasan rinci terkait skema akses alternatif selama masa penutupan berlangsung.
Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan para pengguna jalan yang khawatir waktu tempuh menjadi lebih panjang dan biaya transportasi meningkat.
“Kalau ditutup total, otomatis aktivitas kami mutar lebih jauh. Mudah-mudahan benar cepat selesai,” ujar seorang warga yang ditemui di sekitar kawasan Lalan.
Keluhan serupa juga muncul dari pelaku usaha kecil yang menggantungkan distribusi barang menggunakan jalur tersebut.
Infrastruktur Dipercepat, Tapi Adaptasi Warga Jadi Tantangan
Penutupan total memang dinilai dapat mempercepat pekerjaan teknis. Namun kebijakan itu juga memunculkan tantangan sosial di lapangan.
Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai kesiapan jalur alternatif, pola distribusi logistik, hingga dampak ekonomi sementara bagi masyarakat sekitar.
Apalagi, Jembatan Lalan selama ini bukan sekadar penghubung biasa, melainkan urat nadi aktivitas warga di beberapa kawasan.
Hingga kini, belum semua masyarakat mengetahui secara detail mekanisme mobilitas selama proyek berlangsung.
Pemerintah daerah sendiri belum memberikan penjelasan rinci terkait evaluasi dampak ekonomi maupun skema bantuan bagi warga yang terdampak langsung.
Proyek Besar dan Harapan Masyarakat
Rapat percepatan revitalisasi tersebut turut dihadiri unsur Forkopimda Muba, Sekretaris Daerah Syafaruddin, jajaran OPD, Camat Lalan, hingga perwakilan perusahaan terkait.
Pemerintah berharap masyarakat memahami pentingnya percepatan pembangunan demi keselamatan jangka panjang.
Namun bagi sebagian warga, yang kini menjadi perhatian bukan hanya target proyek selesai, melainkan bagaimana aktivitas harian tetap berjalan selama akses utama ditutup.
Hingga kini, kondisi tersebut masih menjadi perhatian masyarakat sekitar.
Apakah percepatan revitalisasi benar-benar akan berjalan sesuai target, atau justru memunculkan persoalan baru di lapangan? (Noto)

















