
KAYUAGUNG, OGAN KOMERING ILIR, cimutnews.co.id – Program pelayanan air bersih terus digaungkan sebagai kebutuhan dasar masyarakat.
Namun di sejumlah kawasan perumahan di Kedaton Kayuagung, warga justru mengaku masih kesulitan mendapatkan pasokan air yang layak.
Air disebut hanya mengalir beberapa jam pada pagi hari, sementara tagihan bulanan tetap berjalan normal.
Lalu, mengapa persoalan ini kembali muncul dan belum juga terselesaikan?
Persoalan Lama Kembali Mencuat
Keluhan terhadap layanan PDAM Tirta Agung kembali terdengar dari warga perumahan di wilayah Kedaton, Kayuagung, Kabupaten Kayuagung.
Sejumlah warga mengaku pasokan air ledeng yang diterima sangat terbatas. Berdasarkan temuan di lapangan, air disebut hanya mengalir pada pagi hari sekitar pukul 05.00 WIB hingga pukul 07.30 WIB.
Setelah itu, aliran air kembali mati dan tidak bisa digunakan untuk kebutuhan rumah tangga sepanjang hari.
Kondisi tersebut membuat warga harus mengatur aktivitas mandi, mencuci, hingga menampung air dalam waktu singkat setiap pagi.
Tarif Dinilai Tidak Sesuai Layanan
Meski distribusi air disebut tidak maksimal, tagihan bulanan yang diterima warga disebut tetap berada di kisaran Rp150 ribu hingga Rp200 ribu per bulan.
Salah seorang warga Kedaton yang enggan disebutkan namanya mengaku keberatan dengan kondisi tersebut.
“Airnya cuma hidup pagi sebentar. Untuk kebutuhan perumahan jelas kurang. Tapi tagihan tetap tinggi setiap bulan,” ujarnya.
Hal ini menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai kesesuaian antara tarif yang dibebankan dengan kualitas layanan yang diterima pelanggan.
Direktur Baru Dihadapkan Persoalan Lama
Direktur PDAM Tirta Agung, Masagus M. Hakim, kini dihadapkan pada persoalan yang disebut warga sudah berlangsung cukup lama.
Masyarakat berharap kepemimpinan baru dapat menghadirkan solusi nyata, terutama terkait distribusi air dan sistem penagihan.
Sejumlah warga meminta adanya evaluasi menyeluruh terhadap pola distribusi air di kawasan perumahan yang selama ini diduga belum berjalan optimal.
Namun Fakta di Lapangan Menunjukkan…
Secara umum, pelayanan air bersih merupakan kebutuhan vital masyarakat perkotaan.
Namun fakta di lapangan menunjukkan masih ada warga yang harus beradaptasi dengan pasokan air terbatas setiap harinya.
Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan pelanggan karena biaya bulanan dinilai tetap berjalan normal meskipun suplai air disebut tidak stabil.
Situasi ini membuat sebagian warga mulai mempertanyakan efektivitas pelayanan dan pengawasan distribusi air di wilayah tersebut.
Warga Mulai Mengandalkan Penampungan Air
Akibat pasokan yang tidak menentu, beberapa warga mengaku terpaksa menggunakan bak penampungan tambahan untuk menyiasati kebutuhan air harian.
Ada pula yang memilih menyimpan air sejak subuh agar kebutuhan rumah tangga tetap bisa berjalan hingga malam hari.
“Kalau telat bangun sedikit saja, air sudah kecil bahkan mati,” ungkap warga lainnya.
Kondisi tersebut dinilai cukup menyulitkan, terutama bagi keluarga dengan aktivitas tinggi pada pagi hari.
Belum Ada Penjelasan Resmi
Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari pihak PDAM Tirta Agung terkait keluhan warga tersebut.
Belum ada penjelasan rinci mengenai penyebab distribusi air yang disebut terbatas maupun terkait evaluasi tarif pelanggan di wilayah Kedaton.
Tim redaksi masih berupaya melakukan konfirmasi lebih lanjut kepada pihak manajemen PDAM.
Hingga kini, kondisi tersebut masih menjadi perhatian masyarakat Kayuagung.
Apakah ke depan akan ada perbaikan layanan, atau keluhan serupa justru terus berlanjut? (Timred/CN)

















