Beranda Nasional Nobar Film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” Sukses Digelar di Medan,...

Nobar Film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” Sukses Digelar di Medan, Bahas Perjuangan Masyarakat Adat Papua

14
0
Suasana nobar dan diskusi publik film dokumenter “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” di King Coffee Medan dipadati mahasiswa dan aktivis. (foto: timred/CN/)

Medan, cimutnews.co.id – Suasana hikmat dan penuh makna mengisi King Coffee, Jalan Pancing No. 100, Sidorejo, Medan Tembung pada Rabu malam, 20 Mei 2026. Lebih dari 150 peserta dari berbagai kalangan mahasiswa, dosen, aktivis, dan masyarakat umum memadati kafe tersebut untuk menghadiri acara Nobar Film dan Diskusi Publik Dokumenter bertajuk “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”.

Mahasiswa Papua dan peserta diskusi menyampaikan pandangan terkait dampak pembangunan terhadap masyarakat adat Papua. (foto: timred/CN/)

Kegiatan yang sepenuhnya terbuka untuk umum ini digagas dan diinisiasi oleh Ruben C. Siagian, Founder Siagian Global Research (SGR) sekaligus Ketua Purna Bakti GUM (Gerakan Unimed Mengabdi) Apriyado Manalu serta seluruh ketua organisasi yang terlibat. Kolaborasi lintas organisasi ini menjadi kunci kesuksesan acara, dengan dukungan penuh dari Watchdoc, Ekspedisi Indonesia Baru, Jubi, PUSAKA (Yayasan Pusaka Bentala Rakyat), Greenpeace Indonesia, dan LBH Papua Merauke.

Foto bersama Mahasiswa Papua dan peserta diskusi . (foto: timred/CN/)

Acara dibuka secara resmi dan penuh khidmat dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya diikuti Mengheningkan Cipta. Setelah itu, peserta menyaksikan pemutaran film dokumenter “Pesta Babi” yang merekam perjuangan masyarakat adat Papua Selatan suku Marind, Awyu, Yei, dan Muyu dalam melawan perampasan tanah ulayat mereka demi proyek strategis nasional. Film ini secara gamblang menggambarkan realita kolonialisme baru di era modern, yaitu bagaimana investasi besar-besaran sering kali mengorbankan hak-hak masyarakat adat, merusak ekosistem, dan mengancam kelangsungan budaya asli Papua.

Usai screening, diskusi publik dipantik oleh dua pemantik utama yaitu Dr. Rosramadhana S.Pd., M.Si (Dosen Antropologi sekaligus Pembina GUM) sebagai Pemantik 1, dan   Aristoteles Tekege (Wakil Ketua Ikatan Mahasiswa Papua Sumatera Utara / IMUS) sebagai Pemantik 2.

Diskusi berlangsung intens dan mendalam selama hampir dua jam. Dr. Rosramadhana menekankan bahwa film ini bukan sekadar dokumenter biasa, melainkan cerminan sudut pandang antropologi terhadap kondisi Papua saat ini. Ia menjelaskan bahwa judul “Pesta Babi” memiliki makna simbolik yang sangat kuat, bukan tentang makan babi, melainkan pesta adat di mana babi menjadi simbol kekuatan, kekayaan, dan identitas budaya masyarakat Papua. “Film ini menjadi pengingat bagi kita semua, bukan hanya soal Papua, tapi juga di Sumatera Utara. Kita harus garis bawahi perspektif Batak dan berbagai masyarakat adat lainnya yang juga menghadapi ancaman serupa,” tegasnya.

Baca juga  Sufmi Dasco Ahmad Luruskan Polemik Tunjangan Perumahan Anggota DPR RI 2024–2029

Sementara Aristoteles Tekege dan beberapa mahasiswa Papua lainnya, termasuk Silvester beserta rekan-rekannya yang sedang kuliah di Medan, memberikan tanggapan yang sangat personal dan berbasis realita. Mereka mengakui bahwa banyak hal yang ditampilkan dalam film memang benar-benar terjadi di lapangan, namun ada pula dimensi-dimensi yang belum terekspos secara penuh, seperti dampak psikologis dan sosial yang dirasakan langsung oleh generasi muda Papua.

Diskusi semakin kaya dengan masukan dari berbagai perwakilan organisasi Cipayung dan kampus. Hadir purna bakti Ketua GMNI UNIMED, Dosen FISIP USU dan beberapa dosen Fakultas FIS Unimed, serta perwakilan MAPALA UNIMED yang menyampaikan perspektif lingkungan dan konservasi. Tak ketinggalan, Bintang Lesmana Hutasoit, Founder GARASI, turut menyampaikan hal inspiratif.

Puluhan pengunjung dan penonton dari berbagai elemen antara lain mahasiswa HMI, GMNI, PMKRI, Kabinet Juang SEMAF FMIPA UNIMED, HMJ Geografi UNIMED, HMJ Biologi UNIMED, GUM, IMUS, dan komunitas lainnya juga aktif menyampaikan opini mereka. Diskusi berlangsung terbuka, kritis, namun tetap penuh semangat persatuan.

Acara ditutup dengan nuansa hikmat dan bermartabat. Sebelum peserta membubarkan diri, teman-teman mahasiswa Papua mengumpulkan donasi sukarela sebagai bentuk kontribusi nyata untuk mendukung dokumenter ini dan perjuangan masyarakat adat Papua.

Manager King Coffee, Dino Pardosi, menyambut baik penyelenggaraan acara ini dan berharap kafe tersebut dapat terus menjadi ruang publik yang nyaman untuk diskusi kritis semacam ini.

Kegiatan ini membuktikan bahwa kolaborasi antar-organisasi kampus, lembaga swadaya masyarakat, dan media dapat menjadi kekuatan nyata dalam membangun kesadaran kolektif tentang isu keadilan sosial, hak masyarakat adat, dan ancaman kolonialisme baru di tengah pembangunan nasional. (timres/CN)

Sumber: Ruben C. Siagian, Founder Siagian Global Research (SGR) sekaligus Ketua Purna Bakti GUM (Gerakan Unimed Mengabdi) Apriyado Manalu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here