
KOTA CIMAHI, cimutnews.co.id — Program penghormatan terhadap lanjut usia kembali digaungkan melalui Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) Tingkat Provinsi Jawa Barat Tahun 2026.
Namun, di balik semarak peringatan dan berbagai pesan kepedulian yang disampaikan, masih muncul pertanyaan yang kerap dirasakan banyak lansia di berbagai daerah: apakah perhatian terhadap kesejahteraan mereka sudah benar-benar dirasakan hingga ke tingkat akar rumput?
Kondisi itulah yang menjadi sorotan dalam peringatan HLUN 2026 yang digelar Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat di Aula Serbaguna Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat, Kota Cimahi, Kamis (11/6/2026).
Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional Tahun 2026 mengusung tema “Lansia Tangguh, Indonesia Tumbuh.”
Kegiatan tersebut menjadi momentum pemerintah daerah untuk meningkatkan kepedulian, penghormatan, serta dukungan terhadap para lanjut usia agar tetap sehat, mandiri, produktif, dan sejahtera.
Acara dihadiri berbagai unsur pemerintah daerah, organisasi sosial, serta para lansia yang menjadi bagian penting dalam pembangunan Jawa Barat selama puluhan tahun.
Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat, Noneng Komara Nengsih, menegaskan bahwa kesejahteraan lansia merupakan tanggung jawab bersama.
Menurutnya, pemenuhan kebutuhan para lanjut usia tidak hanya dibebankan kepada keluarga, tetapi juga membutuhkan keterlibatan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, hingga berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, memberikan apresiasi terhadap kontribusi besar yang telah diberikan para lansia bagi pembangunan daerah.
Ia menilai para senior layak mendapatkan perhatian terbaik agar tetap berdaya dan memiliki kualitas hidup yang baik di usia lanjut.
Pernyataan tersebut sejalan dengan semangat perlindungan sosial yang terus digaungkan pemerintah.
Namun fakta di lapangan menunjukkan, tantangan yang dihadapi kelompok lanjut usia masih cukup kompleks.
Di berbagai daerah, sejumlah lansia masih menghadapi keterbatasan akses pelayanan kesehatan, keterbatasan ekonomi, hingga persoalan kesepian sosial akibat berkurangnya dukungan keluarga maupun lingkungan sekitar.
Sebagian program pemberdayaan lansia memang telah berjalan, tetapi pemerataan manfaatnya dinilai belum sepenuhnya sama di setiap wilayah.
Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan oleh lansia yang tinggal di daerah dengan akses layanan sosial yang lebih memadai. Mereka relatif lebih mudah memperoleh pendampingan kesehatan, kegiatan sosial, maupun bantuan program pemerintah.
Perbedaan kondisi ini menjadi tantangan tersendiri dalam mewujudkan tema “Lansia Tangguh” secara menyeluruh.
Berdasarkan temuan di lapangan dan berbagai persoalan yang selama ini kerap muncul dalam isu kesejahteraan lansia, sejumlah warga mengaku perhatian terhadap kelompok lanjut usia memang semakin meningkat dibanding beberapa tahun lalu.
Meski demikian, sebagian masyarakat berharap program yang ada tidak hanya berhenti pada kegiatan seremonial tahunan, melainkan mampu memberikan dampak nyata yang berkelanjutan.
“Kami berharap lansia tidak hanya diperhatikan saat peringatan hari besar saja, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap salah seorang warga yang mengikuti kegiatan tersebut.
Peringatan HLUN sejatinya bukan sekadar agenda tahunan.
Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa jumlah penduduk lanjut usia terus meningkat dan membutuhkan sistem perlindungan sosial yang semakin kuat.
Jika kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga filantropi, dan masyarakat benar-benar berjalan efektif, maka peluang mewujudkan lansia yang sehat, mandiri, dan produktif akan semakin besar.
Sebaliknya, apabila perhatian hanya berfokus pada kegiatan seremonial, maka berbagai persoalan mendasar yang dihadapi lansia berpotensi tetap berulang.
Hal ini menimbulkan pertanyaan: sejauh mana hasil dari berbagai program lansia yang selama ini dijalankan benar-benar telah dirasakan oleh para penerimanya?
Selain peringatan HLUN, kegiatan ini juga dirangkaikan dengan penyerahan hadiah Sayembara Penanganan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) serta peluncuran Modul Rehabilitasi Sosial yang diharapkan dapat memperkuat layanan sosial di Jawa Barat.
Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional 2026 membawa pesan kuat tentang penghormatan kepada generasi senior yang telah berkontribusi bagi pembangunan daerah.
Namun hingga kini, belum semua tantangan kesejahteraan lansia dapat dikatakan selesai.
Apakah kolaborasi yang terus didorong pemerintah mampu menjawab berbagai persoalan tersebut, atau justru masih menyisakan pekerjaan rumah yang belum terjawab? Waktu yang akan memberikan jawabannya. (Siti)

















