
BEKASI, cimutnews.co.id — Program penghijauan kembali digelar di Kabupaten Bekasi dengan menanam ratusan pohon di bantaran Saluran Sekunder Sukatani, Desa Karangharja, Kecamatan Cikarang Utara.
Namun di balik semangat penanaman tersebut, muncul pertanyaan yang kerap mengiringi berbagai program serupa: apakah pohon-pohon itu nantinya benar-benar tumbuh dan terawat hingga memberikan manfaat bagi masyarakat?
Lalu, bagaimana kondisi sebenarnya di lapangan?
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bekasi menggelar aksi penanaman pohon dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Jumat (12/6/2026).
Kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur mulai dari pemerintah daerah, TNI, Polri, dunia usaha, komunitas lingkungan, pelajar hingga masyarakat sekitar.
Sebanyak 585 pohon ditanam di sepanjang bantaran Saluran Sekunder Sukatani yang melintasi wilayah Kali Cikarang, Kali Ulu Atas, dan Kali Buntu Air di Desa Karangharja, Kecamatan Cikarang Utara.
Jenis pohon yang ditanam terdiri dari mahoni, trembesi, ketapang, mangga, dan sukun.
Lokasi tersebut sebelumnya merupakan kawasan yang telah dilakukan penertiban bangunan liar dan kini diarahkan menjadi ruang hijau baru.
Kepala DLH Kabupaten Bekasi, Syafri Donny Sirait, menyebut kegiatan tersebut bukan sekadar menanam bibit pohon, melainkan menanam harapan untuk masa depan lingkungan yang lebih baik.
Menurutnya, lahan yang sebelumnya terlihat gersang diharapkan dapat berubah menjadi kawasan hijau yang memberikan manfaat ekologis maupun sosial bagi masyarakat sekitar.
Ia juga menegaskan bahwa penghijauan memiliki peran penting dalam pengendalian pencemaran udara, konservasi air tanah, serta mitigasi perubahan iklim.
Selain itu, DLH mengapresiasi dukungan pelaku usaha yang turut membantu penyediaan bibit dan kebutuhan kegiatan sebagai bentuk kolaborasi menjaga kelestarian lingkungan
Namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa keberhasilan program penghijauan tidak hanya ditentukan oleh jumlah pohon yang ditanam.
Berdasarkan pengalaman sejumlah program penghijauan di berbagai daerah, tantangan terbesar justru muncul setelah seremoni penanaman selesai.
Pohon yang baru ditanam membutuhkan pemeliharaan berkelanjutan, mulai dari penyiraman, perlindungan dari kerusakan, hingga pengawasan agar tidak kembali terganggu oleh aktivitas yang berpotensi merusak kawasan bantaran.
Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan pada sejumlah area penghijauan di perkotaan yang kerap menghadapi persoalan minimnya perawatan setelah kegiatan berlangsung.
Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah program penghijauan di bantaran Sukatani telah disiapkan dengan skema pengawasan dan pemeliharaan jangka panjang?
Hingga kini, belum ada penjelasan rinci mengenai mekanisme pemeliharaan berkala maupun target tingkat keberhasilan tumbuh dari ratusan pohon yang ditanam tersebut.
Sejumlah warga yang berada di sekitar lokasi mengaku menyambut baik upaya penghijauan tersebut.
Menurut mereka, keberadaan pohon dapat membuat kawasan bantaran menjadi lebih teduh sekaligus memperbaiki kondisi lingkungan sekitar.
Namun sejumlah warga juga berharap pohon yang ditanam tidak hanya berhenti pada kegiatan simbolis tahunan.
“Warga tentu senang kalau lingkungannya jadi lebih hijau. Yang penting pohonnya dirawat sampai besar,” ungkap salah seorang warga yang berada di sekitar lokasi kegiatan.
Harapan serupa muncul karena manfaat penghijauan biasanya baru benar-benar dirasakan setelah pohon tumbuh dalam beberapa tahun ke depan.
Penanaman pohon di lahan pasca penertiban bangunan liar merupakan langkah yang dinilai strategis.
Selain memperbaiki fungsi ekologis kawasan, keberadaan ruang hijau juga dapat membantu menjaga kualitas udara dan mengurangi potensi degradasi lingkungan di wilayah perkotaan yang terus berkembang.
Menariknya, sebagian pohon yang ditanam merupakan tanaman produktif seperti mangga dan sukun.
Konsep ini tidak hanya menawarkan manfaat lingkungan, tetapi juga potensi manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat apabila pohon tumbuh optimal dan menghasilkan buah.
Meski demikian, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah bibit yang masuk ke tanah, melainkan dari seberapa besar tingkat keberlangsungan hidup pohon tersebut dalam beberapa tahun mendatang.
Aksi penghijauan di bantaran Saluran Sekunder Sukatani menjadi simbol komitmen bersama menjaga lingkungan di Kabupaten Bekasi.
Namun keberhasilan sesungguhnya baru akan terlihat ketika ratusan pohon tersebut tumbuh besar dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Hingga kini, upaya tersebut masih menjadi perhatian berbagai pihak.
Apakah kawasan yang kini mulai dihijaukan benar-benar akan berubah menjadi ruang hijau berkelanjutan, atau justru menghadapi tantangan yang selama ini kerap muncul dalam program penghijauan lainnya? (Holil)

















