Beranda Pagar Alam Terungkap! Pasar Baru untuk Kopi Pagar Alam Dibahas, Namun Tantangan Petani Masih...

Terungkap! Pasar Baru untuk Kopi Pagar Alam Dibahas, Namun Tantangan Petani Masih Menjadi Pertanyaan

11
0
Wali Kota Pagar Alam H. Ludi Oliansyah menerima audiensi Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam membahas peluang pemasaran kopi dan komoditas unggulan daerah. (Foto: Hafis/CimutNews)

PAGAR ALAM, cimutnews.co.id — Peluang baru bagi kopi dan komoditas pertanian Kota Pagar Alam kembali terbuka. Badan Pengusahaan (BP) Batam mulai menjajaki kemungkinan kerja sama pemasaran berbagai produk unggulan daerah tersebut agar mampu menembus pasar yang lebih luas.

Namun, di balik optimisme itu, muncul pertanyaan yang juga penting dijawab. Sejauh mana rencana tersebut benar-benar akan berdampak bagi para petani dan pelaku usaha di tingkat bawah?

Hingga kini, penjajakan masih berada pada tahap pembahasan awal. Masyarakat pun menunggu bagaimana langkah konkret yang akan dilakukan agar peluang tersebut tidak berhenti sebagai wacana.

Audiensi antara Pemerintah Kota Pagar Alam dan jajaran BP Batam berlangsung di Villa DZ, kawasan Jalan Wanita Mentarjo, Gunung Gare, Kota Pagar Alam, Jumat (3/7/2026). Pertemuan dipimpin langsung Wali Kota Pagar Alam H. Ludi Oliansyah yang didampingi Sekretaris Daerah Zaily Oktosab Fitri Abidin.

Rombongan BP Batam dipimpin Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano.

Dalam pertemuan itu, kedua pihak membahas peluang pengembangan kerja sama di berbagai sektor, mulai dari pertanian, perkebunan hingga pariwisata. Fokus utama pembahasan tertuju pada pemasaran kopi Pagar Alam yang selama ini dikenal sebagai salah satu komoditas unggulan Sumatera Selatan.

Menurut Denny Tondano, Pagar Alam memiliki potensi besar karena didukung kondisi geografis yang menghasilkan kopi berkualitas sekaligus komoditas hortikultura yang memiliki daya saing.

Ia menjelaskan, penjajakan tersebut diarahkan untuk membuka akses pasar baru, meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian, sekaligus memperkenalkan potensi wisata Kota Pagar Alam kepada masyarakat yang lebih luas, termasuk melalui jejaring ekonomi di Batam.

Selain kopi, sejumlah komoditas pertanian seperti sayuran segar juga disebut memiliki peluang untuk dipasarkan apabila sistem distribusi dan rantai pasok dapat dipersiapkan dengan baik.

Baca juga  Serapan Anggaran Dievaluasi, Percepatan Program Pagar Alam Jadi Sorotan

Namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa memperluas pasar bukan hanya soal menemukan pembeli baru.

Keberhasilan kerja sama semacam ini juga sangat bergantung pada kemampuan menjaga kualitas produk, kontinuitas produksi, standar pengemasan, hingga efisiensi distribusi dari daerah pegunungan menuju kawasan perdagangan seperti Batam.

Sejumlah pelaku usaha kopi di berbagai daerah selama ini mengakui bahwa tantangan terbesar bukan hanya menghasilkan kopi berkualitas, tetapi memastikan pasokan tetap stabil ketika permintaan meningkat. Persoalan logistik, biaya pengiriman, hingga fluktuasi hasil panen kerap menjadi kendala yang memengaruhi daya saing produk.

Di sisi lain, peluang pasar baru tentu menjadi kabar positif bagi para petani apabila benar-benar diikuti dengan skema pembinaan, kemitraan usaha, dan kepastian pembelian hasil produksi.

Berdasarkan temuan di lapangan pada berbagai daerah penghasil kopi, peningkatan permintaan pasar biasanya akan memberikan manfaat lebih besar apabila dibarengi peningkatan kapasitas petani, penguatan koperasi, serta dukungan terhadap industri pengolahan agar nilai tambah tidak berhenti pada penjualan bahan mentah.

Hal ini menimbulkan pertanyaan yang patut menjadi perhatian bersama. Apakah kerja sama yang sedang dijajaki nantinya hanya berfokus pada pemasaran produk, atau juga menyentuh penguatan ekosistem pertanian mulai dari hulu hingga hilir?

Pemerintah Kota Pagar Alam menyambut positif penjajakan tersebut sebagai peluang memperkenalkan komoditas unggulan daerah sekaligus memperluas jaringan pemasaran. Harapannya, kopi, hasil pertanian, dan sektor pariwisata mampu memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar melalui kolaborasi lintas daerah.

Meski demikian, hingga kini belum ada penjelasan rinci mengenai bentuk kerja sama yang akan dijalankan, target waktu pelaksanaan, maupun mekanisme yang akan melibatkan petani dan pelaku UMKM secara langsung.

Publik pun menantikan kelanjutan pembahasan tersebut. Sebab, peluang pasar memang menjadi kabar baik, tetapi keberhasilannya baru akan benar-benar dirasakan ketika manfaat ekonomi mampu hadir hingga ke tingkat petani, pelaku usaha kecil, dan masyarakat yang selama ini menjadi tulang punggung produksi kopi Pagar Alam. (hafis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here