Beranda Pagar Alam Konfercab VI NU Pagar Alam Digelar, Harapan Besar Menguat, Tantangan Organisasi Masih...

Konfercab VI NU Pagar Alam Digelar, Harapan Besar Menguat, Tantangan Organisasi Masih Menanti

10
0
Wali Kota Pagar Alam H. Ludi Oliansyah membuka Konfercab VI Nahdlatul Ulama Kota Pagar Alam di Aula STIT-STEBIS, Kamis (2/7/2026). (Foto: Hafis/cimutnews)

PAGAR ALAM, cimutnews.co.id — Konferensi Cabang (Konfercab) VI Nahdlatul Ulama (NU) Kota Pagar Alam resmi digelar di Aula STIT-STEBIS Kota Pagar Alam, Kamis (2/7/2026). Agenda lima tahunan tersebut menjadi forum tertinggi organisasi di tingkat cabang untuk mengevaluasi perjalanan kepengurusan sekaligus memilih nahkoda baru masa khidmat 2026–2031.

Namun, di balik proses pergantian kepemimpinan itu, muncul pertanyaan yang lebih besar. Sejauh mana hasil konferensi nantinya benar-benar mampu memperkuat peran NU dalam menjawab kebutuhan masyarakat di tengah perubahan sosial yang terus berkembang?

Tema yang diusung, “Memperkuat Ukhuwah, Mengembangkan Amanah dan Membangun Peradaban Berkah untuk Masyarakat Kota Pagar Alam”, menggambarkan harapan agar organisasi keagamaan terbesar di Indonesia tersebut semakin adaptif sekaligus tetap menjaga nilai-nilai keislaman yang moderat.

Konfercab VI dibuka langsung oleh Wali Kota Pagar Alam, H. Ludi Oliansyah. Dalam sambutannya, ia mengingatkan bahwa organisasi besar memerlukan tata kelola yang profesional, transparan, dan berpedoman pada aturan organisasi agar tetap dipercaya oleh masyarakat.

Menurutnya, organisasi yang besar dapat diibaratkan sebagai sebuah rumah yang kokoh. Namun tanpa perawatan, kebersamaan, dan kepemimpinan yang baik, rumah tersebut perlahan akan kehilangan kekuatannya.

“Organisasi yang besar membutuhkan komitmen, kebersamaan, dan tata kelola yang baik agar tetap kokoh serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Wali Kota juga berharap Konfercab mampu menghasilkan kepemimpinan yang amanah, memiliki kapasitas organisasi yang baik, serta memenuhi ketentuan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) NU.

Ia menilai keberadaan NU selama ini menjadi salah satu mitra strategis pemerintah dalam menjaga persatuan masyarakat, memperkuat kehidupan keagamaan, sekaligus mendukung pembangunan daerah.

Tantangan organisasi kemasyarakatan saat ini tidak hanya berkaitan dengan regenerasi kepemimpinan. Perubahan karakter generasi muda, derasnya arus informasi digital, hingga meningkatnya dinamika sosial menjadi pekerjaan rumah yang perlu direspons secara nyata oleh seluruh elemen organisasi, termasuk organisasi keagamaan.

Baca juga  Pemkot Pagar Alam Matangkan Persiapan Sambut Kunjungan Sekjen Kemenhan RI

Berdasarkan temuan di lapangan, masyarakat tidak hanya berharap NU aktif dalam kegiatan keagamaan seremonial. Sejumlah warga juga menginginkan organisasi tersebut semakin hadir melalui pendidikan keagamaan, pembinaan generasi muda, penguatan ekonomi umat, hingga menjaga harmoni sosial di tengah masyarakat yang semakin beragam.

Di sisi lain, sejumlah tokoh masyarakat menilai forum Konfercab menjadi momentum penting untuk memperkuat konsolidasi internal sekaligus menyusun program kerja yang lebih menyentuh kebutuhan masyarakat. Mereka berharap hasil konferensi tidak berhenti pada proses pemilihan pengurus, tetapi mampu diterjemahkan menjadi program yang dapat dirasakan secara langsung.

Hingga kini, belum semua harapan tersebut memiliki penjelasan rinci mengenai arah program prioritas kepengurusan baru. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai langkah konkret yang akan ditempuh setelah konferensi selesai, terutama dalam memperkuat peran NU di bidang sosial, pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.

Konfercab VI turut dihadiri Sekretaris Tanfidziyah PWNU Sumatera Selatan Ir. Ahmad Syaifudin Zuber, jajaran pengurus NU dari berbagai tingkatan, tokoh agama, serta tokoh masyarakat yang memberikan dukungan terhadap jalannya forum organisasi tersebut.

Sebagai organisasi yang memiliki basis massa besar, keputusan-keputusan yang lahir dari Konfercab dipandang memiliki arti penting, tidak hanya bagi internal NU, tetapi juga bagi kehidupan sosial masyarakat Kota Pagar Alam.

Kini perhatian tertuju pada kepengurusan baru yang akan terbentuk. Apakah berbagai harapan mengenai penguatan ukhuwah, amanah, dan pembangunan peradaban benar-benar dapat diwujudkan dalam program yang dirasakan masyarakat luas, atau masih menyisakan pekerjaan rumah yang harus dijawab dalam lima tahun ke depan? (Hafis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here