Beranda Palembang Fakta di Lapangan: Program Bank Sampah Terus Didorong, Namun Perubahan Perilaku Masih...

Fakta di Lapangan: Program Bank Sampah Terus Didorong, Namun Perubahan Perilaku Masih Menjadi Tantangan

10
0
Peserta pelatihan Monitoring dan Evaluasi GKSSTB Peduli Lingkungan mengikuti materi pengelolaan sampah rumah tangga di Kantor DLH Kota Palembang.(Foto:Poerba/cimutnews.co.id)

PALEMBANG, cimutnews.co.id – Upaya mengurangi persoalan sampah di Kota Palembang kembali diperkuat. Kali ini, Tim Penggerak (TP) PKK Kota Palembang bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menjadikan Kelurahan Sri Mulya, Kecamatan Sematang Borang, sebagai kawasan percontohan (pilot project) pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Program tersebut ditandai melalui Pelatihan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Gerakan Keluarga Sehat, Tanggap dan Tangguh Bencana (GKSSTB) Peduli Lingkungan yang berlangsung di Kantor DLH Kota Palembang, Rabu (22/7/2026).

Langkah itu membawa harapan baru. Namun, hal ini juga menimbulkan pertanyaan apakah pelatihan dan pembentukan Bank Sampah mampu mengubah kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah dari rumah tangga secara berkelanjutan.

Pelatihan diikuti para Ketua RT, pengurus Bank Sampah, serta penggerak Kampung Lele dari Kelurahan Sri Mulya. Mereka mendapatkan materi mengenai pemilahan sampah, pengelolaan limbah rumah tangga, hingga mekanisme operasional Bank Sampah agar dapat diterapkan di lingkungan masing-masing.

Ketua TP PKK Kota Palembang, Dewi Sastrani Ratu Dewa, mengatakan pengelolaan sampah harus dimulai dari lingkungan keluarga karena rumah tangga menjadi sumber awal munculnya berbagai jenis sampah setiap hari.

“Kita fokuskan kegiatan ini untuk menciptakan kebersihan di lingkungan keluarga. Karena itu, pengelolaan sampah rumah tangga menjadi langkah awal untuk menjaga lingkungan agar tidak tercemar,” ujarnya.

Menurut Dewi, keberadaan Bank Sampah tidak sekadar bertujuan mengurangi volume sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tetapi juga membangun kesadaran masyarakat bahwa sampah memiliki nilai ekonomi apabila dipilah dan dikelola secara benar.

“Melalui Bank Sampah, kita ingin menumbuhkan kesadaran bahwa sampah bukan hanya masalah yang harus dibuang, tetapi juga sumber daya yang dapat dimanfaatkan apabila dikelola dengan baik,” katanya.

Baca juga  Lomba Damkar Digelar Megah, Kesiapsiagaan Nyata Dipertanyakan

Kelurahan Sri Mulya dipilih sebagai wilayah percontohan sehingga, menurut Dewi, membutuhkan pendampingan secara berkelanjutan dari Dinas Lingkungan Hidup agar program tersebut benar-benar berjalan dan nantinya bisa direplikasi di kawasan lain di Kota Palembang.

Ia juga menekankan bahwa keberhasilan program tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga kolaborasi antara TP PKK, pemerintah kelurahan, pengurus Bank Sampah, RT, hingga masyarakat.

“Kolaborasi inilah yang akan menjadi kekuatan utama dalam membangun budaya hidup bersih dan sehat di tengah masyarakat,” ungkapnya.

Namun Tantangan Belum Selesai

Meski berbagai program pengelolaan sampah terus diperkuat, namun fakta di lapangan menunjukkan persoalan sampah rumah tangga masih menjadi tantangan di banyak wilayah perkotaan.

Kebiasaan mencampur sampah organik dan anorganik, minimnya pemilahan sejak dari rumah, hingga rendahnya partisipasi masyarakat dalam Bank Sampah masih kerap menjadi persoalan yang dihadapi di berbagai daerah.

Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan oleh sebagian warga yang telah menjalankan sistem Bank Sampah. Sejumlah warga mengaku program seperti ini akan lebih efektif apabila didukung pendampingan rutin, kepastian penyaluran hasil sampah yang telah dipilah, serta adanya manfaat ekonomi yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Berdasarkan temuan di lapangan pada berbagai program serupa di sejumlah daerah, keberhasilan Bank Sampah umumnya sangat bergantung pada konsistensi pendampingan setelah pelatihan selesai. Tidak sedikit kelompok yang sempat aktif pada awal pembentukan, namun aktivitasnya menurun karena kurangnya monitoring maupun terbatasnya partisipasi warga.

Karena itu, pelatihan seperti yang digelar di Sri Mulya dinilai menjadi langkah awal, bukan akhir dari proses perubahan perilaku masyarakat terhadap pengelolaan sampah.

Perubahan Budaya Membutuhkan Waktu

Pengelolaan sampah berbasis rumah tangga tidak hanya berbicara mengenai penyediaan fasilitas atau pembentukan kelembagaan. Yang jauh lebih sulit adalah membangun kebiasaan baru agar masyarakat terbiasa memilah sampah setiap hari.

Baca juga  SSB Palembang Soccer Skills Ukir Sejarah, Debut Perdana Raih Peringkat Ketiga Piala Soeratin U-13

Para pemerhati lingkungan selama ini menilai perubahan budaya membutuhkan edukasi berulang, dukungan pemerintah, serta keterlibatan aktif warga dalam jangka panjang.

Hingga kini, belum semua kawasan permukiman di Kota Palembang memiliki sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang berjalan optimal. Karena itu, keberhasilan pilot project di Kelurahan Sri Mulya akan menjadi salah satu indikator penting apakah model tersebut dapat diperluas ke wilayah lain.

Jika pendampingan berjalan konsisten, bukan tidak mungkin kawasan tersebut menjadi contoh pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Kota Palembang. Sebaliknya, apabila partisipasi warga menurun setelah pelatihan berakhir, efektivitas program tentu masih perlu dievaluasi.

Apakah kawasan percontohan ini mampu membangun budaya baru dalam mengelola sampah dari rumah tangga, atau justru menghadapi tantangan yang sama seperti berbagai program serupa sebelumnya? Jawabannya akan terlihat dari sejauh mana keterlibatan masyarakat dapat terus dipertahankan dalam jangka panjang. (Poerba)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here