
PALEMBANG, cimutnews.co.id — Semangat kemanusiaan mewarnai peringatan Hari Bakti TNI Angkatan Udara (TNI AU) ke-79 Tahun 2026 melalui kegiatan donor darah dan pengobatan massal di Gedung Bima Sakti, Palembang, Selasa (21/7/2026). Kegiatan tersebut mendapat sambutan antusias dari masyarakat sekaligus diapresiasi Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Palembang.
Di balik semangat solidaritas yang ditunjukkan para pendonor, muncul satu kenyataan yang selama ini jarang menjadi perhatian publik. Kebutuhan darah di rumah sakit terus berlangsung setiap hari, sementara jumlah pendonor sukarela belum selalu mampu mengimbanginya.
Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah kegiatan donor darah yang digelar secara berkala sudah cukup untuk menjaga ketersediaan stok darah bagi ribuan pasien yang membutuhkan?
Ketua PMI Kota Palembang, Dewi Sastrani, mengatakan kegiatan bakti sosial yang digelar TNI AU memberikan manfaat nyata karena mampu memperkuat cadangan darah bagi masyarakat.
Menurutnya, setiap tetes darah yang didonorkan memiliki arti besar bagi keselamatan pasien yang sedang menjalani pengobatan.
“Setiap kantong darah yang didonorkan dapat menjadi harapan hidup bagi pasien yang menjalani operasi, ibu melahirkan yang mengalami perdarahan, anak-anak yang membutuhkan transfusi rutin, korban kecelakaan, hingga pasien dengan berbagai kondisi medis lainnya,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, PMI Kota Palembang menargetkan penghimpunan sebanyak 200 kantong darah. Stok tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan transfusi darah di sejumlah fasilitas kesehatan di Kota Palembang.
Namun fakta di lapangan menunjukkan, kebutuhan darah bukan hanya meningkat pada saat terjadi bencana atau kecelakaan besar. Rumah sakit hampir setiap hari memerlukan pasokan darah untuk pasien operasi, penderita thalasemia, pasien kanker, ibu melahirkan dengan komplikasi, hingga korban kecelakaan lalu lintas.
Kondisi tersebut membuat ketersediaan darah menjadi tantangan yang harus dijaga secara berkelanjutan, bukan hanya mengandalkan kegiatan donor yang bersifat insidental.
Di sisi lain, sejumlah warga yang mengikuti kegiatan donor mengaku kegiatan seperti ini sangat membantu karena selain memberikan kesempatan berbagi kepada sesama, mereka juga memperoleh pemeriksaan kesehatan sebelum melakukan donor.
Beberapa peserta berharap agenda serupa dapat diperbanyak dan menjangkau lebih banyak lokasi sehingga masyarakat yang ingin menjadi pendonor rutin memiliki akses yang lebih mudah.
PMI sendiri menilai antusiasme masyarakat menjadi sinyal positif bahwa semangat gotong royong masih tumbuh kuat. Menurut Dewi Sastrani, budaya donor darah perlu terus dibangun agar masyarakat tidak hanya datang ketika ada kegiatan besar.
Ia berharap kolaborasi antara TNI AU, PMI, pemerintah daerah, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, hingga komunitas dapat berlangsung secara berkesinambungan demi menjaga stok darah tetap aman dan mencukupi.
Berdasarkan temuan di lapangan, kegiatan donor darah massal memang mampu meningkatkan persediaan darah dalam waktu singkat. Meski demikian, tantangan berikutnya adalah menjaga kesinambungan jumlah pendonor sukarela sepanjang tahun.
Hingga kini, belum semua masyarakat memiliki kebiasaan mendonorkan darah secara rutin. Padahal, kebutuhan darah berlangsung setiap hari tanpa mengenal waktu maupun musim.
Belum ada penjelasan rinci mengenai proyeksi kebutuhan darah Kota Palembang dalam beberapa bulan ke depan dibandingkan dengan rata-rata stok yang tersedia setiap harinya. Data tersebut dinilai penting untuk menjadi dasar memperluas edukasi sekaligus mendorong partisipasi masyarakat.
Peringatan Hari Bakti TNI AU tahun ini akhirnya tidak hanya menjadi momentum seremonial, tetapi juga mengingatkan bahwa setetes darah dapat menentukan keselamatan seseorang.
Namun pertanyaan yang masih tersisa adalah, mampukah semangat kemanusiaan yang terlihat dalam kegiatan ini tumbuh menjadi budaya donor darah rutin sehingga kebutuhan pasien di Kota Palembang dapat terpenuhi setiap saat? (Poerba)

















