
PALEMBANG, cimutnews.co.id — Kelurahan Srimulya, Kecamatan Sematang Borang, resmi dipercaya mewakili Kota Palembang dalam Pilot Project Gerakan Keluarga Sehat dan Tanggap Tangguh Bencana (GKSSTB) Peduli Lingkungan tingkat Provinsi Sumatera Selatan.
Penunjukan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi Kota Palembang. Namun, di balik status sebagai daerah percontohan, muncul pertanyaan yang tidak kalah penting. Sejauh mana program tersebut nantinya mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat, bukan sekadar memenuhi indikator penilaian?
Hal itu menjadi perhatian karena keberhasilan sebuah pilot project pada akhirnya tidak hanya diukur dari administrasi dan kelengkapan dokumen, melainkan juga dari perubahan yang benar-benar dirasakan warga dalam kehidupan sehari-hari.
Ketua Tim Penggerak PKK Kota Palembang, Dewi Sastrani Ratu Dewa, saat membuka kegiatan Pilot Project GKSSTB di Kantor Camat Sematang Borang, Jumat (24/7/2026), mengatakan bahwa penunjukan Kelurahan Srimulya merupakan sebuah kehormatan sekaligus amanah yang harus dijaga bersama.
Menurutnya, seluruh unsur pemerintah, kader PKK, perangkat kelurahan, hingga masyarakat perlu memperkuat sinergi agar Srimulya mampu menjadi contoh terbaik bagi daerah lain di Sumatera Selatan.
“Seluruh kader TP PKK, perangkat kelurahan, dan elemen masyarakat diharapkan terus bersinergi sehingga Kelurahan Srimulya mampu menunjukkan capaian terbaik dan mengharumkan nama Kota Palembang di tingkat Provinsi Sumatera Selatan,” ujar Dewi.
Ia menjelaskan, penetapan Srimulya sebagai lokasi percontohan mengacu pada Surat Keputusan Wali Kota Palembang Nomor 428/KPTS/DINKES/2025.
Pemilihan tersebut dilakukan setelah mempertimbangkan kesiapan wilayah, dukungan kelembagaan, serta kelengkapan data yang dinilai memenuhi indikator pelaksanaan program.
Saat ini, Kelurahan Srimulya memiliki sekitar 17.788 jiwa dengan 4.770 kepala keluarga, sehingga dianggap cukup representatif untuk menjadi lokasi implementasi program keluarga sehat, peduli lingkungan, sekaligus tanggap menghadapi potensi bencana.
Meski berbagai persiapan telah dilakukan, keberhasilan program serupa selama ini sering kali menghadapi tantangan pada tahap implementasi.
Namun fakta di lapangan menunjukkan, berbagai program berbasis pemberdayaan masyarakat kerap menghadapi persoalan klasik, mulai dari belum meratanya partisipasi warga, keterbatasan kader aktif, hingga konsistensi pelaksanaan setelah proses penilaian selesai.
Di sisi lain, persoalan lingkungan di kawasan perkotaan masih menjadi pekerjaan rumah yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Pengelolaan sampah rumah tangga, kebersihan lingkungan, kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem, hingga edukasi kesehatan keluarga menjadi tantangan yang tidak dapat diselesaikan hanya melalui kegiatan seremonial.
Berdasarkan temuan di lapangan pada berbagai wilayah perkotaan dengan karakteristik serupa, keberhasilan program lingkungan umumnya sangat bergantung pada keberlangsungan aktivitas masyarakat setelah pendampingan berakhir.
Peran Dasawisma Jadi Penentu
Dalam kesempatan tersebut, Dewi Sastrani juga meminta Camat Sematang Borang agar aktif mengawal percepatan pembentukan Dasawisma di seluruh RT di Kelurahan Srimulya.
Menurutnya, keberadaan Dasawisma menjadi ujung tombak pelaksanaan program karena berfungsi mendata kondisi keluarga, mengedukasi masyarakat, hingga membangun budaya hidup sehat dan peduli lingkungan.
Camat bersama lurah, ketua RT, ketua RW, serta kader PKK diharapkan mampu memperkuat koordinasi agar struktur Dasawisma terbentuk secara menyeluruh.
Langkah ini dinilai penting karena keberhasilan GKSSTB bukan hanya bergantung pada pemerintah, melainkan pada keterlibatan langsung masyarakat di tingkat lingkungan terkecil.
Harapan Besar, Tantangan Masih Ada
Sejumlah warga berharap penunjukan Srimulya sebagai pilot project tidak berhenti pada agenda penilaian tingkat provinsi semata.
Mereka menginginkan agar program tersebut benar-benar menghadirkan perubahan nyata, seperti meningkatnya kualitas lingkungan permukiman, edukasi kesehatan keluarga yang berkelanjutan, serta kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana yang semakin relevan di tengah perubahan iklim.
Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah status sebagai daerah percontohan akan mampu menghadirkan perubahan jangka panjang, atau justru hanya menjadi capaian administratif tanpa dampak yang signifikan bagi masyarakat?
Pengamat pembangunan berbasis masyarakat juga menilai, keberhasilan program seperti GKSSTB membutuhkan evaluasi berkelanjutan, penguatan kader, serta komitmen lintas sektor agar manfaatnya benar-benar dirasakan hingga tingkat keluarga.
Menunggu Pembuktian
Optimisme pemerintah terhadap Kelurahan Srimulya tentu menjadi modal awal yang positif.
Namun, keberhasilan sesungguhnya baru akan terlihat ketika indikator keluarga sehat, kepedulian terhadap lingkungan, serta kesiapsiagaan menghadapi bencana benar-benar menjadi budaya masyarakat, bukan hanya target penilaian.
Hingga kini, belum semua indikator keberhasilan tersebut dapat diukur dalam waktu singkat. Perjalanan program masih akan diuji melalui konsistensi pelaksanaan di lapangan.
Apakah Kelurahan Srimulya mampu menjadi model yang benar-benar bisa direplikasi daerah lain, atau masih menyisakan pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan bersama? Waktu dan implementasi di lapangan akan menjadi jawabannya. (Poerba)

















