
PALEMBANG, cimutnews.co.id — Kabupaten Banyuasin kembali mendapat sorotan dalam ajang promosi pariwisata dan budaya Sumatera Selatan. Gedis Banyuasin Siti Nur Azizah meraih gelar Putri Berbakat pada Grand Final Pemilihan Putri Sriwijaya 2026 yang berlangsung di Hotel Aryaduta Palembang, Jumat malam, 31 Juli 2026.
Grand final tersebut dibuka oleh Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Selatan, Edward Candra. Ajang ini mempertemukan para finalis dari kabupaten/kota di Sumatera Selatan dengan penilaian yang tidak hanya berkaitan dengan penampilan, tetapi juga wawasan, komunikasi, etika, serta kepedulian terhadap budaya daerah.
Bagi Banyuasin, capaian Siti Nur Azizah tidak berhenti pada sebuah penghargaan. Predikat Putri Berbakat dapat menjadi modal sosial untuk memperkenalkan identitas, potensi wisata, seni, budaya, serta produk daerah kepada masyarakat yang lebih luas.
Siti Nur Azizah Diproyeksikan Jadi Representasi Banyuasin
Plt Sekretaris Dinas Pariwisata Banyuasin Mat Rusik mengatakan Siti Nur Azizah diharapkan mampu membawa nama Banyuasin dalam berbagai kesempatan, baik melalui interaksi secara langsung maupun pemanfaatan media digital.
Pesan tersebut disampaikan Mat Rusik saat mendampingi Siti Nur Azizah bersama Kabid IKP Diskominfo Banyuasin Titin Yariyanti.
Menurut dia, posisi sebagai Putri Berbakat bukan hanya pencapaian personal, tetapi juga membawa tanggung jawab untuk menjadi representasi daerah.
Sebelum mengikuti kompetisi tingkat provinsi, Siti Nur Azizah bersama Muhammad Rizky Aditya telah mendapatkan pembekalan dari Pemerintah Kabupaten Banyuasin. Keduanya sebelumnya mewakili Banyuasin dalam Pemilihan Putra Putri Sriwijaya 2026.
Dalam audiensi pada 22 Juli 2026, Pemerintah Kabupaten Banyuasin menyebut peserta dari daerah itu telah menyiapkan video profil yang mengangkat potensi Banyuasin, termasuk wastra dan berbagai potensi daerah.
Artinya, proses kompetisi sejak awal memang diarahkan tidak semata-mata pada aspek penampilan, tetapi juga pada kemampuan peserta mengenali dan menyampaikan potensi daerah.
Pariwisata Sumsel Punya Pasar Wisatawan Nusantara yang Besar
Konteks tersebut menjadi semakin penting karena sektor pariwisata Sumatera Selatan memiliki basis pasar domestik yang besar.
Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Selatan mencatat perjalanan wisatawan nusantara tujuan Sumatera Selatan sepanjang Januari-Desember 2025 mencapai 26,07 juta perjalanan. Angka tersebut meningkat 43,67 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024
Pada Januari-Mei 2026, jumlah perjalanan wisatawan nusantara ke Sumatera Selatan tercatat 10,90 juta perjalanan, relatif stabil dengan pertumbuhan 0,07 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada Mei 2026, tingkat penghunian kamar hotel berbintang mencapai 50,10 persen dengan rata-rata lama menginap 1,40 malam.
Data tersebut menunjukkan bahwa pasar pariwisata Sumsel tidak hanya bergantung pada wisatawan mancanegara. Pergerakan wisatawan domestik justru menjadi salah satu sumber permintaan yang penting bagi destinasi, akomodasi, kuliner, transportasi, ekonomi kreatif, dan usaha masyarakat.
Dalam konteks itu, promosi destinasi melalui figur muda memiliki ruang yang cukup besar. Duta daerah yang mampu menyampaikan cerita tentang destinasi secara menarik berpotensi memperluas jangkauan promosi, terutama kepada generasi yang mendapatkan informasi wisata melalui platform digital.
Banyuasin Memiliki Modal Destinasi dan Budaya
Banyuasin sendiri memiliki sejumlah destinasi dan potensi yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari promosi daerah.
Informasi resmi Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Banyuasin mencantumkan antara lain Desa Wisata Sungsang, Taman Nasional Sembilang, Pantai Lebung, Danau Yapi Air Batu, Taman Asmoro Muara Telang, Wisata Gajah Muara Padang, Kebun Kopi Arabica Muara Padang, hingga sejumlah objek wisata dan situs budaya lainnya.
Keberagaman tersebut membuat promosi Banyuasin tidak harus bertumpu pada satu destinasi. Potensi wisata alam dapat dipadukan dengan cerita budaya, kuliner, wastra, kehidupan masyarakat, hingga ekonomi kreatif.
Pemerintah Kabupaten Banyuasin juga sebelumnya aktif menampilkan kekayaan seni, kriya, dan kearifan lokal melalui Festival Seni Adat dan Tradisi serta Festival Anjungan Sumatera Selatan 2026.
Dengan demikian, gelar Putri Berbakat yang diraih Siti Nur Azizah dapat ditempatkan dalam ekosistem promosi daerah yang lebih luas.
Sejalan dengan Arah Pembangunan Nasional
Penguatan sumber daya manusia pariwisata juga memiliki relevansi dengan kebijakan pembangunan nasional.
RPJMN 2025-2029 yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025 menempatkan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan sebagai bagian penting agenda pembangunan nasional.
Bappenas juga menyebut pariwisata sebagai salah satu sektor yang didorong untuk menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi dalam pencapaian target pembangunan 2029
Di sisi lain, transformasi digital semakin menjadi bagian dari pengembangan sektor pariwisata. Bappenas menyebut digitalisasi potensi pariwisata dan investasi daerah sebagai salah satu bagian dari agenda transformasi digital sektor prioritas dalam pelaksanaan RPJMN 2025-2029.
Konteks ini membuat pesan agar Putri Berbakat Banyuasin aktif memanfaatkan media digital memiliki relevansi yang lebih luas. Figur duta wisata daerah bukan hanya dituntut mampu tampil di panggung, tetapi juga perlu memahami cara menyampaikan informasi daerah secara akurat, menarik, dan bertanggung jawab di ruang digital.
Tantangan Setelah Mendapat Gelar
Analisis jurnalistik: Tantangan terbesar setelah sebuah ajang selesai justru terletak pada bagaimana penghargaan tersebut diterjemahkan menjadi aktivitas yang memberikan manfaat nyata bagi daerah. Gelar Putri Berbakat akan memiliki nilai promosi yang lebih besar apabila diikuti program komunikasi yang terukur dan berkelanjutan.
Dalam jangka pendek, Siti Nur Azizah memiliki peluang memperkenalkan destinasi dan budaya Banyuasin melalui berbagai kegiatan pemerintah, komunitas, pendidikan, maupun kanal digital. Konten yang dihasilkan dapat diarahkan untuk mengenalkan destinasi secara informatif, bukan sekadar menampilkan sisi seremonial.
Dalam jangka panjang, keterlibatan generasi muda sebagai komunikator pariwisata dapat membantu membangun kesinambungan promosi daerah. Regenerasi penting agar promosi pariwisata tidak bergantung pada satu figur atau satu kegiatan, tetapi berkembang menjadi ekosistem yang melibatkan pemerintah, pelaku usaha, komunitas, masyarakat dan generasi muda.
Namun, promosi digital juga menuntut kemampuan literasi informasi. Informasi mengenai destinasi, budaya, sejarah, maupun produk daerah harus disampaikan berdasarkan data dan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Hal tersebut penting agar promosi tidak berhenti pada popularitas, tetapi turut membangun kepercayaan publik terhadap citra daerah.
Kementerian Pariwisata sendiri menempatkan pengembangan SDM pariwisata melalui peningkatan keterampilan, reskilling, upskilling, kolaborasi, serta uji kompetensi sebagai bagian dari penguatan kualitas tenaga pariwisata (Poerba)

















